
Suasana ruang tengah tampak sunyi. Kedua remaja itu tertunduk takut dengan hawa dingin dan kemarahan yang terpancar dari ayahnya. Mereka hanya bisa berharap sosok malaikat pelindungnya segera datang untuk menyudahi semua ini.
"Mau ngomong apa kalian?" Kata Alvin setelah sekian lama tak berujar.
"Ayah. Kami minta maaf. Lain kali tidak kami ulangi lagi."
"Sudah berapa kali?"
"Sudah berapa kali kalian bohong dan bolos kuliah seperti ini?" Bentak Alvin memenuhi ruangan.
"Jawab." Lanjutnya lagi melihat keduanya hanya diam.
"Sudah tiga kali Ayah."
"Tiga kali itu kalian kemana aja?"
"Kita Jalan jalan Ayah."
"Siapa yang ajarin kalian bolos gitu. Kalo Ibu kalian tau pasti kecewa. Susah susah di didik jadi anak baik malah suka bohong begini."
"Kami minta maaf Ayah. Jangan bilang ke Ibu."
"Kenapa?"
"Kami takut nanti Ibu kecewa."
"Itu konsekuensi kalian. Ayah nggak mau ikut campur." Alvin berlalu pergi meninggalkan anak anaknya.
"Gimana kak kalo Ayah ngadu ke Ibu."
"Nggak tau. Ibu pastinya bakal kecewa. Lagian itu juga salah kita."
"Ibu." Panggil Zam dan Ara melihat Aya sedang sibuk mengecek laporan keuangan restaurant.
"Iya sayang. Ada apa?"
"Nggak papa Ibu."
"Ayah nggak ngomong sesuatu sama Ibu?"
"Enggak. Emang ada apa?"
"Mereka bolos kuliah 3 kali. Aku baru aja di telfon sama dosen pembimbingnya." Kata Alvin yang tiba tiba muncul.
"Kenapa kalian bolos?" Tanya Aya datar.
"Kami jalan jalan Ibu."
"Siapa yang ajarin kalian bolos dan berbohong begitu. Ibu sama Ayah nggak pernah ya."
"Maaf Ibu. Kita nggak akan ulangi lagi."
"Ibu kecewa sama kalian. Ibu merasa gagal mendidik kalian." Aya pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri mematung disana.
"Ibu." Lirih mereka berdua.
Ini yang mereka takutkan. Kekecewaan di wajah Aya membuat mereka merasa sangat bersalah.
"Gimana Kak?"
"Nanti kita ngomong lagi sama Ibu." Zam merangkul bahu adiknya.
"Ayah Ibu dimana?" Zam dan Ara memasuki kamar.
"Lagi sholat."
"Mana nggak ada." Kata Zam setelah kembali dari ruangan sholat.
"Mungkin lagi mandi."
"Yang bener yang mana sih Yah. Ibu lagi mandi atau lagi sholat."
"Tau ah. Sukurin. Ibu ngambek sama kalian."
"Ayah sih. Ibu mana Yah? Kita mau minta maaf."
"Ayah nggak tau."
"Nggak mungkin Ayah nggak tau."
"Cari aja sendiri."
__ADS_1
"Ayah kok tega."
"Biarin."
"Yaudah. Kita cari sendiri."
Alvin menghela nafas melihat kepergian kedua anaknya.
Zam dan Ara mencari ibunya di setiap ruangan rumah namun belum menemukan juga.
"Bibi. Bibi tau Ibu dimana?"
"Nggak tau Non. Bibi terakhir ketemu nyonya sekitar dua jam tadi."
"Yaudah Bi. Makasih."
"Iya Non."
"Kita cari kemana lagi kak?"
"Coba ke kebun. Mungkin Ibu lagi disana."
"Iya. Ayo kesana."
Aya sedang sibuk memetik buah dengan Alvin terkejut ketika merasakan pelukan dari kedua anaknya.
"Ibu. Kita minta maaf." Kata Ara yang merengek ingin menangis.
Aya membalikkan badan membalas pelukan dari mereka.
"Ibu kami minta maaf."
"Iya. Lain kali jangan diulangi lagi. Ibu nggak suka."
"Iya. Ibu sudah tidak marah kan?"
"Memangnya Ibu marah?"
"Lah tadi?"
"Ibu cuman pusing ngecek laporan keuangan."
"Tadi Ayah bilang Ibu marah."
"Dasar Ayah."
"Kenapa?"
"Nggak."
"Zam, Ara. Tolong ambilkan pisau sama piring. Sekalian tissue."
"Kak Zam tuh. Aku masih sibuk."
"Sibuk ngapain? Daritadi nempel sama Ibu Mulu."
"Tenang Yah. Aku sudah chat Bibi. buat anterin kesini."
Alvin menghembuskan nafas kecewa. Ia sengaja menyuruh Zam dan Ara untuk pergi agar bisa berdua dengan sang istri tapi malah gagal.
"Kalah cerdik kamu Mas."
"Permisi Nyonya. Ini piring dan pisaunya."
"Terimakasih ya Bi."
"Sama sama Nyonya."
"Ibu aku mau mangganya."
"Iya. Ibu kupaskan."
"Yang."
"Hm."
"Udah lama kita nggak ke Villa. Senin nanti kesana ya."
"Boleh."
"Yah. Jangan Senin dong Yah. Kita kan nggak libur. Tunggu kita libur aja."
__ADS_1
"Ga mau. Terserah Ayah dong."
"La. Kita gimana?"
"Ya kalian di rumah aja."
"Ga mau ah. Pokoknya kita ikut. Berangkatnya Jumat aja. Jadi Jumat, sabtu, minggu nginep disana."
"Ayah nggak mau."
"Ayah kok gitu."
"Ini. Dimakan. Jangan ribut mulu kalian."
"Manis." Kata Ara mengunyah mangganya.
"Ibu."
"Kalo ngomong di telan dulu."
"Ibu. Kita ke Villanya hari Jumat aja."
"Iya Ibu. Habis jumatan nanti kita berangkat."
"Tanya Ayah coba."
"Ayah ma maunya hari Senin. Masa kita ga ikut."
"Kalau sudah begini Ibu nggak ikut campur. Kalian sama sama keras kepala."
"Ibu bilang dong sama Ayah untuk berangkat hati Jumat. Pasti Ayah setuju."
"Jangan coba coba pengaruhi Ibu ya. Ayah ga suka." Tegur Alvin.
"Ibu." Panggil Ara duduk di bawah merebahkan kepala di pangkuan ibunya. Sementara Zam dan Alvin bergelayut manja di lengan Aya.
"Ya."
"Tadi Kakak tingkat Ara bilang suka sama Ara."
"Siapa?"
"Kak Deon."
"Orangnya gimana?"
"Ya baik. Pintar juga."
"Ara suka?"
"Biasa saja. Ara nggak mau pacaran dulu. Terus Ara harus gimana Ibu?"
"Kalo memang Ara maunya begitu, Bilang baik baik. Kak Ara belum mau pacaran dulu. Ara masih pengen fokus belajar."
"Iya Ibu. Besok Ara bilang."
"Ibu berpengalaman sekali."
"Ibu kalian banyak yang suka."
"Apaan sih Mas."
"Ceritain Yah." Kata mereka antusias.
"Ibu kalian banyak yang suka. Ibaratnya sekali pandang langsung jatuh cinta. Banyak laki laki yang ngejar ngejar Ibu."
"Mas."
"Termasuk Om Darwin dan Om Rio."
"Iya kah?" Kaget mereka.
"Iya. Dulu Ayah sampai tiap hari harus buang hadiah, bunga, dan surat cinta agar nggak sampai ke Ibu kalian."
"Mas kamu..."
"Ih Ayah licik."
"Kalo nggak licik Ayah nggak nikah sama Ibu dong. Ayah bersyukur banget dapat spek bagus kaya Ibu."
"Ah Ibu diam diam menghanyutkan. Nggak heran sih ibu banyak yang suka. Udah baik, cantik, pinter, good attitude, kaya lagi. Beruntung Ayah bisa sama Ibu."
__ADS_1
"Udah. Kalian sama aja. Ibu mau tidur dulu." Aya pergi meninggalkan mereka lalu disusul oleh suami dan anak anaknya.