Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Kau Harus Ingat Itu Sayang


__ADS_3

"Sayang. Ingat yang aku katakan." Kata Alvin saat hendak memasuki mobilnya untuk berangkat bekerja.


"Iya."


"Bagus. Aku pergi dulu."


Aya mencium tangan suaminya dan pria itu sesuai dengan kebiasaanya selalu mengecupi wajah sang istri dengan serakah.


Aya memasuki rumah setelah mobil meninggalkan halaman.


Alvin berjalan tegap memasuki kantornya mengabaikan semua karyawan yang menyapa. Ia menaiki lift untuk bergegas menuju ke ruangannya. Pria itu mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Hal pertama yang ia lakukan adalah membuka laptopnya untuk memantau sang istri dari rekaman CCTV. Dirasa semuanya berjalan dengan normal. Ia beralih membuka satu persatu berkas yang sudah bertumpuk.


Pintu ruangannya terbuka memperlihatkan sosok pria berjalan dengan santai kemudian duduk di sofa. "Ada apa?" Tanya Alvin tanpa mengalihkan fokusnya.


"Aku lelah." Jawab Rio yang merupakan Sekertaris sekaligus sahabatnya.


"Pagi pagi sudah lelah."


"Dasar kau. Kau tak ingat membuatku lembur setiap hari karena kau ambil cuti panjang sekali."


"Itu kan cuti pernikahan. Aku butuh waktu berdua dengan istriku."


"Bisa bisanya. Mana ada cuti pernikahan sampai berminggu-minggu. Kau ini cuti menikah atau cuti semester?" protes Rio.


"Diamlah. Aku kan sudah memberimu bonus yang banyak."


"Bagaimana rasanya menikah dengan keponakan yang kau rawat sejak kecil?"


"Enak. Aku bahagia. Dia bukan keponakanku. Kau juga tau itu."


"Iya iya. Ngomong ngomong kau sudah melakukannya?"


"Apa?" Alvin mengangkat satu alisnya.


"Itu." Jawab Rio ambigu langsung dimengerti Alvin.


"Belum. Aku masih menuggu dia siap dulu."


"Sayang sekali. Jika aku jadi kau, aku sudah tidak sabaran. Masa istri sempurna kaya gitu dianggurin."


"Heh.. aku menunggu waktu yang tepat. Aku tidak mau membuatnya terluka lalu dia meninggalkanku."


"Bagaimana saranku waktu itu?"


"Aku melakukannya. Memberikan susu juga vitamin agar dia cepat hamil. Jadi dia tidak akan meninggalkanku. Semuanya sudah aku lakukan hanya tinggal eksekusinya saja."


"Percepat lah aku tidak sabar melihatmu menjadi Ayah."

__ADS_1


"Iya iya. pergi sana kau membuatku pusing saja."


"Oke." Kata Rio berjalan meninggalkan Alvin.


Setelah kepergian pria itu Alvin menaruh berkasnya. Ia menyenderkan bahunya di kursi sambil menengadahkan kepala dan menatap langit langit ruangannya.


"Apakah aku harus memaksa?"


"Tapi bagaimana jika istriku membenciku?"


"Aku begitu takut kehilangannya."


Pikiran itu berputar di benak Alvin. Ia mengacak acak rambutnya frustasi bingung dengan keputusan yang akan dia ambil. Matanya memandang foto pernikahan yang terpampang jelas di ruangannya. "Apa aku harus melakukannya?" Tanya Alvin bimbang.


Aya merasa bosan sejak tadi karena tidak ada kegiatan. Ia melangkahkan kakinya ke dapur. Bukan untuk memasak, Karna suaminya bisa marah jika Ia melakukan itu. Ia hanya ingin melihat mereka saja dan untuk mencari teman mengobrol.


"Nyonya." Sapa mereka melihat kedatangan Aya.


"Aku tidak akan memasak. Aku hanya bosan. Jadi aku ingin duduk di sini saja."


"Baik Nyonya."


"Sedang menyiapkan makan siang ya?"


"Iya nyonya."


"Nyonya ingin sesuatu?"


"Aku mau kentang goreng saja." kata Aya bersemangat.


"Sebentar Nyonya. Nyonya harus izin Tuan terlebih dahulu."


"Yah. Kalian selalu begitu."


"Maaf Nyonya nanti Tuan marah jika tidak Izin."


"Baiklah baiklah aku telfon sekarang."


Alvin sedang memperhatikan kegiatan istrinya. Beberapa saat kemudian ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Ia segera mengangkat panggilan dari istri tercintanya.


"Ya Sayang."


Aku pengen kentang goreng. boleh kan? kata Aya di sebrang sana.


Alvin tersenyum.


"Boleh. Tapi jangan banyak banyak."

__ADS_1


"Terimakasih."


"Hanya itu saja?" Tanya Alvin tidak terima.


"Lalu?"


"Aku akan menagih rasa trimakasihmu saat pulang nanti." Jawab Alvin.


"Iya."


"Sampai jumpa di rumah sayang."


"iya. Aku tutup dulu ya." Kata Aya langsung menutup telfonnya sebelum mendapat persetujuan sang suami.


Aya sedang berada di dalam kamar membuka paket yang baru saja di terimanya.


Sudah beberapa kali Ia menerima paket tapi tidak ada nama pengirimnya.


"Dari siapa ini?" Gumamnya memperhatikan kotak cantik itu.


Ia membukanya perlahan. Sekotak bunga mawar merah dan catatan kecil di dalamnya.


"My Love." Kata Aya membaca tulisan itu.


Pintu kamarnya terbuka. Alvin berjalan tergesa gesa menghampiri istrinya. Dalam perjalanan pulang tadi ia terus memantau sang istri. Alvin melihat Aya menerima paket dari seseorang. Ia begitu ingin menanyakan perihal itu secepat mungkin.


"Dari siapa?" Tanya Alvin yang sedang menahan emosinya.


"Aku tidak tau. Tidak ada nama pengirimnya di sini."


"Berani berbohong ya. Yang mengirim bunga ini pasti mengenalmu, kamu pasti juga mengenalnya. Siapa dia By?" Suara Alvin sudah meninggi.


"Aku tidak tau. Sungguh." Jawab Aya sedikit takut.


"Ini bukan kali pertamanya kamu mendapat paket seperti ini. Dan kata kata romantis dari pengirim itu. Apa hubunganmu dengannya. Jawab." Alvin membentak Aya. Gadis itu hanya terdiam tak tau harus menjawab apa karena Ia benar benar tidak tau.


Alvin menyeret Aya menuju kamar mandi. Sampai di sana menggendong Aya dan memasukkannya ke dalam bathup. Alvin mengguyur tubuh Aya dengan shower. Tak berhenti di situ. Alvin melepaskan semua pakaiannya dan pakaian sang istri dengan paksa.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Aya ketakutan.


"Diam." Kata Alvin dingin kemudian ikut masuk ke dalam bathup untuk berendam bersama istrinya. Aya tak berani melihat suaminya ia terus menutupi tubuh polosnya dengan kedua tangannya. Sosok tangan kekar merangkulnya dari belakang. Beberapa detik kemudian Aya sudah duduk di pangkuan suaminya. Perlahan tapi pasti bibir Alvin mulai mengecupi punggung mulus istrinya sampai ke leher. Aya menangis dalam diam. Alvin begitu menyakitinya hari ini. " Mulai sekarang selama aku tidak di rumah kau tidak bisa keluar dari kamar ini. Aku tidak mengizinkannya. Semua pelayan akan mengurus segala kebutuhanmu."


Alvin membalikkan tubuh Aya agar menatapnya. Ia mulai menciumi dada istrinya dan meninggalkan jejak kemerahan disana. "Tatap aku." Kata Alvin tegas.


"Tatap aku By." Alvin mencengkram dagu Aya agar mata wanita itu menatapnya. Ia meletakkan kedua tangan istrinya di bahunya.


"Kau menyakitiku." Lirih Aya.

__ADS_1


Alvin beralih memeluk Aya dengan erat, lalu membelai lembut tubuh sang istri yang terpampang jelas di depannya. "Jika itu satu satunya cara agar kau tetap bersamaku. Akan aku lakukan." Katanya dengan nada penuh tekad.


Alvin merangkul pinggang istrinya yang tengah memakai pakaian. Pria itu hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya. Ia menatap bayangan keduanya di cermin. Aya hanya bisa diam. "Tubuhmu adalah milikku. Kau harus ingat itu sayang." Alvin membalikkan tubuh Aya dam mencium bibirnya dengan rakus.


__ADS_2