Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Mas, Minta Uang.


__ADS_3

Aya pulang dari rumah Om Sam mengantarkan makanan. Ia tidak ditemani suaminya karena Ia tak ingin mengganggu Alvin yang sedang sibuk di ruang kerjanya.


"Aya." Sapa seorang pria yang umurnya sekitar 5 tahun lebih tua.


"Pak lurah. Darimana?"


"Saya dari rumah Pak RT antar KK dia yang baru jadi. Kamu darimana?"


"Dari rumah Om Sam antar makanan."


"Oh. Pak Alvin apa kabar? Saya jarang ketemu soalnya."


"Alhamdulillah baik. Dia sedang sibuk akhir akhir ini."


"Oh."


"Yang." Suara mengejutkan itu membuat keduanya menoleh.


"Kamu disini ternyata. Aku cariin juga. Pulang." perintahnya langsung pergi tanpa menyapa lurah itu sama sekali. Gibran pria yang menjabat sebagai lurah itu hanya tersenyum. Ia sudah berkali kali bersinggungan dengan Alvin karena Istri cantik pria itu. Alvin juga sudah memperingatinya untuk jauh jauh dari Aya.


"Duh maaf ya Pak. Saya jadi nggak enak. Memang suami saya itu orangnya agak. Ya begitulah." kata Aya merasa bersalah.


"Tidak apa."


"Yasudah. Saya pulang dulu ya pak."


"Iya hati hati." Ia memandang kepergian Aya sambil tersenyum.


Aya mengikuti suaminya dengan langkah cepat sambil mengomel.


"Gitu aja Mas ngambek lagi. Sensi amat. Aku kan cuman lewat terus dia nyapa. Masa aku ga jawab. Kan ga sopan."


"Mas suka gitu sih. Sama orang bawaannya curiga Mulu. Jangan suudzon dong Mas. Dosa tau berburuk sangka sama orang."


"Ih ga jawab. Makin tua makin cemburuan. Ngambekan lagi."


Alvin tersenyum melihat istrinya yang terus mengoceh. Ia berhenti tiba tiba hingga membuat Aya menabrak punggungnya.


"Berhenti nggak bilang bilang. Sakit tau." Sambil memegangi hidungnya yang memerah.


"Mana yang sakit. Ini ya. Maaf." Kata Alvin tak tahan untuk bersikap dingin jika istrinya sudah merengek. Pria itu mengelus hidung sang istri dengan lembut.


"Masih sakit?"


"Udah nggak ngambek lagi?"


"Masih." Jawabnya kembali ke mode semula.


"Kamu pergi nggak bilang dulu."


"Mas lagi sibuk, aku nggak tega buat ganggu."


"Daripada kamu ngobrol sama dia itu malah yang membuat Mas terganggu."


"Maaf." Aya memeluk suaminya. Alvin menikmati pelukan Aya. Begitu jarang wanita itu memeluknya duluan.

__ADS_1


"Kamu suka gini. Aku mana tega." Alvin membalas pelukan istrinya.


"Lain kali kalau mau kemana mana ngomong. Memang benar Mas sibuk. Tapi kamu adalah prioritas utama."


"Iya Mas. Maaf."


"Dimaafkan." Kata Alvin mencium pucuk kepala sang istri.


Sore hari Alvin kelimpungan lagi mencari istrinya. Wanita itu cepat sekali menghilang. Padahal mereka baru saja sholat ashar bersama. Alvin hanya pergi ke kamar mandi sebentar dan Aya sudah tidak ada.


"Istri saya mana?"


"Sedang di lapangan belakang Tuan. Nyonya sedang belajar bersepeda dengan Tuan dan Nona muda."


"Benar benar." Alvi langsung menuju kesana.


Alvin melihat istrinya hanya memakai kaos dan celana pendek. Begitu **** dan terlihat seumuran dengan anak anaknya. Pantas saja jika keluar dengan Aya Ia dipanggil Om. Sang istri sudah duduk di sepeda mendengarkan instruksi dari anak anaknya.


"Yang. Kamu ngapain sih?"


"Belajar sepeda. Aku pengen naik sepeda. Masa aku aja yang ga bisa."


"Gausah. Kamu kalo pengen naik di bonceng aja."


"Ayo dong Mas. Masa Sampek mati aku nggak bisa juga."


"Ngomong apaan sih. Yaudah iya. Aku yang ajari. Ga yakin aku sama anak anak."


"Ayah ma gitu."


"Wih. Ibu hebat."


"Ayo kita sepedahan. Kan Ibu sudah bisa."


"Istirahat."


"Tapi Mas.."


"Istirahat aku bilang."


"Iya Mas."


Semuanya berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam. Alvin duduk merangkul istrinya di sofa sedangkan ketiga anaknya duduk di bawah menikmati camilan sambil menonton.


"Ih Ara jijik. Ganti aja." Katanya melihat darah yang keluar dari zombi.


"Matiin aja. Semua film memang begitu."


"Nah gini kan tenang." Kata Alvin setelah Zam mematikan TV besar itu.


"Ibu. Ayah pernah buat Ibu marah?"


"Sering. Hampir tiap hari."


"Apa Yang?"

__ADS_1


"Kamu keras kepala Mas. Kalo mau apa harus di turuti."


"Tapi Ibu nggak pernah marah tu."


"Ibu tahan emosi."


"Kalo Ibu pernah buat Ayah marah."


"Kalo nggak nurut sama dekat sama laki kali lain aja. Selain itu. Enggak."


"Ibu sama Ayah sabar mana?"


"Ibu lah." Jawab Ara cepat.


"Emang bener. Ibu kan nggak pernah marah marah kaya Ayah." Jujurnya.


"Udah ah. Mas. Minta uang."


"Buat apa?" Tanya Alvin heran karena istrinya baru kali ini meminta uang padanya. Namun Ia tak berfikir panjang langsung menyerahkan kartunya.


"Bukan Mas. Uang cash."


"Berapa? Aku nggak ada uang cash banyak."


"Dua ratus ribu cukup."


"Mau apa sih?"


"Mau traktir. Ayo anak anak kita beli martabak di depan."


"Ibu emang terbaik. Ayo."


"Yang."


"Sebentar Mas. Kalo mau ikut Ayo." Kata Aya meninggalkan suaminya sendirian.


Mereka berjalan kaki cukup jauh dari rumah untuk membeli martabak. Alvin sebenarnya malas namun Ia tak akan membiarkan sang istri keluar tanpa pengawasan langsung darinya. Pria itu tak berhenti menggenggam tangan Aya.


Selesai membeli martabak Pria itu dengan pasrah mengikuti sang istri untuk membeli sate dan jagung rebus.


"Dah. Pulang yuk."


"Iya Mas." Jawabnya patuh.


Mereka makan dengan lahap kecuali Alvin yang memang tidak terbiasa dengan makanan pinggir jalan.


"Kamu jajan sembarangan lagi."


"Sesekali. Kamu nggak mau Mas?"


"Nggak."


"Enak Yah."


"Kalian aja."

__ADS_1


"Yaudah. Kita habiskan." Kata Ara bersemangat.


__ADS_2