
Aya terbaring lemah di ranjang dengan infus yang sudah terpasang di tangan kanannya. Semua orang tengah berkumpul disana untuk melihat keadaan wanita itu. Aya sudah terbangun beberapa saat yang lalu. Mereka bernafas lega karena Aya baik baik saja. Hanya perlu minum obat dengan rutin dan beristirahat sampai efek alerginya benar benar hilang. Alvin menatap kedua anaknya sambil menahan amarah. "Kalian benar benar keterlaluan." Nadanya meninggi tak berbasa basi lagi untuk memarahi Zam dan Ara di depan semua orang.
"Kalian kan tau Ibu alergi apapun yang berbahan kedelai. Kenapa kalian kasih Ibu makanan yang bahannya pakai kedelai."
"Maaf Ayah. Kita nggak tau. Ibu kita minta maaf." Kata Ara sambil sesenggukan sedangkan Zam mengelus punggung adiknya untuk menenangkan.
"Tetap duduk di situ. Ayah belum selesai." Kata Alvin sebelum Zam dan Ara beranjak untuk memeluk Ibunya.
"Iya sayang. Ibu nggak papa kok. Udah Mas. Aku kan udah bilang kalo aku baik baik aja."
"Baik baik aja gimana. Kamu muntah muntah terus sampai pingsan begitu."
"Udah Vin. Mereka nggak sengaja juga."
"Iya Vin."
"Bela aja terus."
"Udah Mas. Aku pusing denger kamu marah marah Mulu daritadi."
"Mereka emang pantes dimarahi Yang."
"Udah ah. Aku mau istirahat." Kata Aya agar suaminya segera menghentikan omelannya.
Alvin menemani istrinya yang tengah tertidur dengan tenang. Ia mengelus lembut wajah cantik Aya dan mengecupnya beberapa kali. Ia begitu khawatir setengah mati tadi saat melihat Aya muntah muntah dan pingsan.
"Kamu bangun sayang?" Tanya Alvin melihat istrinya mengerjapkan mata.
"Mau sesuatu?"
"Nggak Mas. Anak anak mana?"
"Lagi dikamarnya. Aku suruh mereka memikirkan kesalahannya."
"Mas. Jangan keterlaluan."
"Aku nggak keterlaluan sayang. Mereka yang keterlaluan. Aku cuman kasih pelajaran biar kejadian yang sama nggak terulang lagi."
"Mas. Jangan terlalu keras. Mereka anak anak baik."
"Aku nggak keras Yang. Ini memang hukuman buat mereka. Aku pengen mendisiplinkan anak anak aja. Kamu jangan belain mereka terus dong."
"Aku nggak belain mereka Mas. Aku cuma kasihan aja. Mereka udah minta maaf kok."
"Sudah. Jangan dibahas lagi. Mending kamu istirahat aku temenin."
"Masih mual."
"Kamu mau minum?"
"Enggak ah. Nanti saja."
"Yasudah. Tidur lagi." Alvin memeluk istrinya.
"Sudah Ra. Jangan nangis terus."
"Kasian Ibu kak. Lemas begitu. Ini gara gara kita."
"Kita minta maaf lagi aja."
"Kita kan lagi dihukum Ayah."
__ADS_1
"Ya. Nanti. Kayanya Ibu lagi tidur sekarang. Kamu jangan nangis lagi."
"Iya."
Malam hari suasana tampak beda. Di meja makan hanya ada Ara dan Zam ditemani seluruh pekerja untuk makan malam disana. Ayah dan Ibu mereka makan malam di kamar.
"Non. Keadaan Nyonya gimana?"
"Ibu sudah baikan Bi. Cuman butuh istirahat saja." Ara menahan tangisnya.
"Oh. Syukur kalau begitu."
"Aku nggak mau makan Mas. Perut aku nggak enak."
"Sedikit saja Yang. Kamu belum makan lo. Perut kamu kosong."
"Masih kerasa mual Mas. Nanti kalo dipaksa makan malah muntah."
"Yasudah. Kamu minum obatnya dulu."
"Iya."
Alvin membantu Aya untuk minum obat.
Alvin berbaring sambil mengelus wajah istrinya yang pucat.
"Ibu." Zam dan Ara menerobos kamar. Mereka langsung berjalan dan duduk di sisi ranjang.
"Ibu. Kami minta maaf. Kami menyesal membuat Ibu seperti ini."
"Iya Ibu. Kami minta maaf karena telah ceroboh. Lain kali kami nggak begitu lagi."
"Ibu bohong. Gara gara kami Ibu sakit begini."
"Sudah jangan nangis lagi. Ibu nggak suka."
Aya menghapus air mata anaknya.
"Itu kalian sadar."
"Mas." Tegur Aya dengan suara lemah.
"Ibu maafin kita kan?"
"Iya. Daritadi kan Ibu sudah memaafkan kalian."
"Makasih Ibu." Mereka memeluk Ibunya erat.
"Sudah kan? sekarang keluar. Ibu mau istirahat."
"Kita temani Ibu Yah. Kita tidur disini."
"Nggak boleh. Nanti istirahat Ibu terganggu. Mending kalian kembali ke kamar kalian."
"Nanti dulu Yah. Ibu mau sesuatu nggak?"
"Ibu mau apa? Coklat? Susu? Buah? kita siapin."
"Buah boleh tuh. Ibu belum makan." Kata Alvin.
"Ok. Kami siapin." mereka dengan semangat pergi mengambil buah untuk Ibunya.
__ADS_1
"Sini kasih ke Ayah. Biar Ayah yang suapi Ibu."
"Enggak. Aku aja."
"Biar Ayah aja. Ayah kan suaminya."
"Biar Ara aja. Ara kan anaknya."
"Sudah. Ibu makan sendiri."
"Tapi..." Kata Alvin dan Ara bersamaan.
Aya tidak memperdulikan keduanya dan makan sendiri.
"Ibu. Biar kaki Ibu Zam pijitin." Zam dan Ara memijit kaki Aya.
"Sudah. Ibu nggak papa. Kalian tidur saja. Sudah malam. Besok kalian kan ada kuliah."
"Nanti saja Ibu. Kita masih pengen sama Ibu. Lagian ini baru jam setengah sembilan."
"Memangnya nggak ada tugas?"
"Sudah selesai Ibu."
"Bagus. Lain kali jangan bolos lagi ya seperti kemarin kemarin. Ibu paling nggak suka di bohongi. Kalau memang kalian pengen libur bilang sama dosen untuk ambil cuti."
"Iya Ibu. Maaf."
"Sudah di maafkan. Kalian kembali ke kamar kalian. Ayah mau tidur. Jangan ganggu."
"Kita masih pengen disini."
"Hush. Sana pergi. Ayah mau tidur. Kalo kalian masih ngomel di sini Ayah nggak bisa tidur."
"Pengen tidur sama Ibu."
"Jangan ngeyel."
"Biarin Mas kalo mereka pengen tidur disini."
"Tuh kan Yah. Ibu aja boleh."
"Ayah nggak ngebolehin. Ayah nggak bisa tidur kalo ada kalian. Sana balik ke kamar."
"Iya. Tapi ada syaratnya."
"Apa lagi?"
"Nanti kalo Ibu udah sembuh kita jalan jalan ya."
"Iya. Terserah." Putus Alvin agar mereka segera pergi.
"Kita ke kamar dulu Ibu. Ayah. Selamat malam." Mereka mencium tangan Aya dan Alvin bergantian.
"Selamat malam sayang." Aya mengecup kening kedua anaknya.
"Alhamdulillah." Kata Alvin langsung memeluk Istrinya.
"Kenapa Mas?"
"Nggak papa. Kita tidur." Alvin menciumi istrinya dan memeluk Aya untuk tidur bersama.
__ADS_1