
Keluarga Alvin sudah sampai di Jogja pagi tadi.
"Ayo jalan jalan." Ajak Zam setelah makan siang.
"Ayo."
"Kita ke Borobudur dulu ya."
"Jangan. Terlalu rame. Kita ke Prambanan aja. Sorenya ke Malioboro."
"Iya deh."
"Ayo Mas."
"Iya iya. Itu bekalnya dibawa. Aku udah siapin."
"Kok bekal. Kita makan diluar aja."
"Anak anak boleh. Kamu jangan. Bahaya nanti kalo asam lambung kamu kambuh sewaktu waktu."
"Mas."
"Kalo protes ga jadi pergi nih."
"Iya iya." Aya Akhirnya menurut.
Perjalanan cukup lama mereka tempuh akhirnya sampai di candi Prambanan. Aya sibuk memotret segala kegiatan anaknya dengan kamera yang Ia bawa.
"Duduk dulu Yang."
"Iya. Aku ngomong sama anak anak dulu."
"Sayang. Ibu sama Ayah duduk disana ya. Kalian jangan berpencar. Ibu beri waktu 30 menit untuk kalian lihat lihat."
"Iya Ibu."
Aya menghampiri suaminya yang sudah duduk di bangku.
"Capek ya Mas?"
"Enggak. Cuman males aja jalan jalan. Udah sering liat juga."
"Oh."
"Panas banget hari ini."
"Haus? Aku ambilin minum di mobil sebentar mau?"
"Iya deh. Tapi kamu hati hati."
"Iya. Kamu kan bisa awasin aku dari sini."
"Iya."
Aya bergegas mengambil minum untuk suaminya.
"Ini Mas."
"Makasih ya."
"Iya."
"Di Malioboro ramai. Kamu jangan macem macem disana."
"Astaga. Aku bukan anak kecil."
"Alah, Kamu itu suka ngilang tiba tiba."
"Enggak. Enggak. Janji deh. Tapi beli bakpia ya Mas."
"Iya. Itu nggak bahaya kok buat kamu."
"Makasih Mas."
"Sama sama Sayang." Alvin memeluk sang istri.
Sore hari sekitar pukul 4 mereka sudah sampai di Malioboro setelah mampir sebentar untuk sholat ashar.
Alvin tak berhenti menggenggam tangan istrinya.
"Mas aku mau ambil foto. Lepas dulu ah."
"Iya." Alvin beralih merangkul pinggang istrinya.
"Anak anak masih keliling. Kita tunggu disini aja."
"Aku mau beli bakpia."
__ADS_1
"Sudah aku suruh Ara buat beli."
"Ok."
Aya yang terus melihat kameranya membuat Alvin merasa terabaikan. Pria itu merebut kamera istrinya.
"Kenapa sih Mas."
"Kamu sibuk mulu daritadi. Aku kamu cuekin."
"Maaf."
"Kamu minum obat dulu gih."
"Nanti aja dirumah. Sekalian makan malam."
"Emang ga papa?"
"Enggak. lagian perut aku juga baik baik aja."
"Ibu. Ayah."
"Astaga. Kalian borong apaan?"
"Banyak Ibu. Nanti Ara jelasin di rumah. Kita pulang yuk. Capek."
"Ayo. Ibu yang nyetir."
"Yang."
"Udah. Jangan protes." Kata Aya mendahului mereka semua.
Aya mengendarai mobilnya dengan senang.
"Aku suka mobil ini."
"Kamu cewek kok suka mobil kaya gini. Biasanya cewek suka mobil sport yang kapasitas dua orang itu."
"Kalo Range Rover kan lebih gahar Mas. Nyaman banget."
"Pantesan ngebet banget minta yang Ini."
"Hehe. Iya Pak Haji. Makasih ya uang aku buat beli mobil ini di tambahin."
"Iya. Sama sama."
Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga.
"Biasa para adik tercinta. Tanya kabar."
"Oh."
"Ibu. Sini deh. Ini bakpia Ibu."
"Wah. Makasih."
"Sama sama."
"Kalian beli apa aja?"
"Banyak. Tapi kayanya Ibu nggak boleh makan."
"Kenapa?"
"Coba tanya Ayah."
"Mereka beli yang pedes pedes."
"yah."
"Tapi Ibu tenang aja. Sebagai anak yang berbakti kita juga beli makanan yang boleh dimakan sama Ibu."
"Apa?"
Ara mengeluarkan isi kantong kresek lainnya.
"Ada yangko, salak pondoh, cokelat Monggo, geplak, dan belut goreng."
"Makasih. Ibu sayang kalian." Aya memeluk anak anaknya.
"Ibu coba satu satu."
Aya mencoba semuanya satu per satu. Hingga tiba Ia untuk mencoba belut goreng. Sedikit ragu tapi dia penasaran rasanya.
"Kalo nggak doyan nggak usah dimakan."
"Pengen tau rasanya Mas." Aya memakannya dan kemudian Ia berlari menuju toilet untuk memuntahkannya. Semua orang panik. Mereka bergegas melihat keadaan Aya.
__ADS_1
Aya terbaring di kasur dengan lemas. Hanya karena belut goreng Ia muntah muntah. Rasanya sangat membekas di lidah.
" Makan buah dulu biar segar." Alvin menyuapi istrinya jeruk agar rasa mulanya hilang.
"Kita minta maaf Ibu."
"Kalian nggak salah. Ibu kayanya nggak cocok aja makan belut."
"Kalian kembali ke kamar. Sudah malam. Biarkan Ibu istirahat."
"Iya Yah. Selamat Malam Ayah. Ibu."
"Selamat malam Sayang." Aya mencium mereka bergantian.
"Masih ngeyel lagi?" tanya Alvin.
"Enggak. Udah kapok."
"Bagus kalo masih punya rasa kapok. Sekarang tidur. Kamu lemes habis muntah muntah."
"Iya Mas." Alvin memeluk istrinya dan menepuk punggung Aya lembut.
"Kamu ganti parfum Mas?"
"Iya. Aku baru beli kemarin. Kan aku udah bilang kamu."
"Masa sih."
"Iya. Waktu kita pamitan ke rumah Mommy kamu."
"Oh."
"Kenapa? kamu nggak suka? Kalo iya aku pake yang lama aja."
"Enggak. Yang ini juga enak kok."
"Mas."
"Iya."
"Setelah tinggal sama kita Daniel agak seger ya. Kamu inget nggak pertamakali dia datang. Kurus kering gitu."
"Iyalah. Sekarang hidupnya enak. Bahagia dan serba berkecukupan."
"Makasih ya Mas. Kamu sudah mau adopsi Daniel."
"Kata kamu kita harus saling menolong."
"Iya."
"Aku juga makasih sama kamu Karna udah jadiin aku lebih baik."
"Kita sama sama lebih baik Mas. Kita memperbaiki diri bersama."
"Jadi istri aku rasanya gimana sih Yang?"
"Bahagia. Jadi suami aku gimana rasanya?"
"Sempurna. Aku kaya udah nggak butuh apa apa lagi."
"Masa udah ngga butuh duit?"
"Enggak."
"Eh Yang anak karyawan aku masa hamil di luar nikah. Masih SMA pula."
"Trus gimana?"
"Ya dikeluarkan lah dari sekolahnya."
"Yang hamilin itu siapa?"
"Pacarnya. Pacarnya juga baru lulus."
"Mau tanggung jawab kan?"
"Boro boro tanggung jawab. Sekarang aja gatau ada dimana."
"Wah udah dipake kabur lagi. Bener bener keterlaluan. Laki nggak ada tanggung jawabnya sama sekali. Yang aku heran anak umur segitu kok tau caranya berhubungan."
"Sering nonton video itu mungkin."
"Untung anak anak kita nggak gitu. Jangan sampai begitu. Kalo laki enak abis gitu nggak berbekas kalo perempuan habis itu kalo hamil kan jadi aib. Makanya aku selalu ingetin ke Ara supaya jaga diri. Aku juga titip Ara sama kakaknya."
"Udah Ah. Tidur."
"Iya."
__ADS_1
"Selamat malam Sayang." Alvin mencium istrinya.
"Malam Mas." Jawab Aya memejamkan mata.