
"Jangan keras keras ngomongnya. Cepet bawa ke kamar. Nanti keburu ada Ayah."
"Kok aku. Kakak ngapain?"
"Kakak mau ambil susu di dapur. Sama ambil mangkuk buat makan dia."
"Yaudah." Ara mengendap endap masuk ke dalam kamarnya. Sementara Zam bergegas pergi ke dapur.
"Kamu ngapain Zam?"
"Eh Ayah." Jawabnya sedikit terkejut.
"Zam mau susu."
"Kok bawa mangkuk segala?"
"Iya Zam pengen minum susu pakai mangkuk. Zam duluan ya Yah. Udah di tungguin Ara."
"Hm." Jawab Alvin sedikit heran dengan tingkah anaknya namun mengabaikannya.
Alvin menghampiri istrinya yang tengah bersantai di gazebo taman belakang. "Anak anak belum pulang Mas?"
"Sudah. Baru aja."
"Tumben mereka nggak gabung."
"Biarin. Lagi capek paling. Tadi Zam juga langsung ke kamar sama adeknya."
"Aku liat mereka dulu ya."
"Nggak usah. Disini aja."
"Iya deh."
Zam dan Ara tengah sibuk memberi makan kucingnya setelah memandikan hewan lucu berbulu itu.
"Kak. Ibu kan alergi. Gimana kita rawatnya."
"Taro kamar aja. Jangan sampai keluar. Kamu juga harus rajin rajin bersihin. Biar bulunya nggak kemana mana."
"Nanti kalo Ibu ke kamar aku gimana?"
"Kan ada ruang kosong di balkon. Taro sana aja."
"Kok semuanya aku. Kakak ngapain?"
"Ya nanti gantian sama kakak rawatnya."
"Iya."
"Lucu banget ya.." Ara mengelus kucingnya.
"Kita kasih nama siapa?"
"Azzam aja."
"Kok nama Kakak?"
"Kan kucingnya cowok."
"Jangan. Kakak ga mau. Kita kasih nama Omet aja."
"Kenapa?"
"Gapapa lucu aja namanya."
"Yaudah."
"Kalo mau ketemu Ibu. Jangan lupa bersih bersih ya. Nanti alerginya Ibu kambuh lagi."
"Iya."
Alvin, Aya dan kedua anaknya tengah menonton film bersama setelah makan malam.
__ADS_1
"Ibu jaman sekarang masih ada ya yang di jodoh jodohin kaya gitu?"
"Nggak tau juga. Mungkin masih ada."
"Ada kok. Anak temen Ayah aja di jodohin gara gara hubungan bisnis biar perusahaan mereka sama sama kuat."
"Emang Iya Mas?"
"Iya. Kamu inget nggak kita datang ke pernikahan sebulan yang lalu."
"Ingat ingat. Mereka di jodohin?"
"Iya. Parahnya lagi kemarin mereka cerai."
"Loh..."
"Iya. Suaminya selingkuh gara gara nggak cinta sama istrinya."
"Wah ngeri juga ya. Baru aja sebulan nikah udah cerai aja."
"Itu namanya belum jodoh."
"Iya."
"Ayah sama Ibu di jodohin juga langgeng langgeng aja."
"Ayah kan ga pernah selingkuh. Ayah kan cinta sama Ibu."
"Kalo Ibu cinta nggak sama Ayah?"
"Hm."
"Hm itu artinya apa Ibu?"
"Iya. Ibu cinta sama Ayah. Gitu aja masih minta di perjelas."
"Hehe soalnya yang nyatain cinta Ayah mulu. Kita belum pernah denger Ibu bilang cinta sama Ayah. Ayah Bucin sih."
"Tau apa?"
"Tau rasanya cinta sama seseorang itu gimana. Makannya Ayah nggak bisa tidur kalo nggak sama Ibu."
"Emang kalo Ayah tidur sama Ibu kenapa?"
"Ayah ngerasa tenang karena bisa peluk, cium dan...." Aya membungkam mulut suaminya sebelum bicara yang tidak tidak.
"Dan apa Yah?"
"Rahasia. Kalian kalo belum nikah nggak akan tau."
"Ibu. Ayah pernah bilang. Kita itu sekali buat jadi. Maksudnya apa ya?"
"Ih. Kok jadi kemana mana. Tanya Ayah aja. Ibu ngantuk. Mau tidur."
"Yah."
"Tau ah. Ayah mau susul Ibu." Alvin meninggalkan kedua anaknya.
Pagi hari Aya sudah bersin bersin. "Kita ke dokter habis sarapan." Tegas Alvin.
"Nggak Mas. Masih ada obat di rumah."
"Nggak ada penolakan."
"Kamu selalu gitu."
"Ayo sarapan. Anak anak pasti udah nunggu."
"Iya."
Alvin berhenti saat melewati kamar anak gadisnya. Ia melihat Ara dan Zam tengah bermain main dengan sesuatu Karna pintu sedikit terbuka.
"Ada apa Mas?"
__ADS_1
"Sebentar." Alvin menggandeng tangan istrinya untuk masuk.
"Oh. Bagus ya kalian. Kalian kan tau Ibu alergi bulu hewan. Kenapa bawa kucing ke rumah?"
"Maaf Ayah. Kita kasihan kucingnya kelaparan dan kotor kemarin."
"Ayah nggak mau tau. Buang kucingnya."
"Tapi Yah..."
"Oh. kalian pilih kucing daripada kesehatan Ibu?"
"Bukan gitu Yah."
"Udah Mas. Biarin mereka pelihara."
"Kok gitu. Kamu alergi."
"Biar di pelihara di rumah sebelah. Jangan disini. Kasihan."
"Nggak. Kalo mereka main sama kucingnya nanti bawa bulu lagi."
"Janji Yah. Kita bakal bersih bersih kalo sama Ibu."
"Yaudah. Kalo sampai Ibu kenapa napa. Ayah buang kucing kalian."
"Nggak Yah. Janji. Makasih ya Ibu."
"Stop. Jangan peluk peluk. Kalian kotor." Kata Alvin sebelum keduanya memeluk sang Istri.
"Ayah mau ke dokter sama Ibu. Mulai hari ini. Ayah sama Ibu akan tinggal di apartemen sampai semua rumah bersih. Kalian jangan Ikut."
"Mas."
"Kok gitu Yah. Ara sama Kak Zam mau sama Ibu."
"Itu hukuman untuk kalian yang suka melanggar aturan. Kalian udah buat alergi Ibu kambuh lagi."
"Maaf Yah. Kita pengen ikut."
"Ayah bilang enggak ya enggak. Ayah sama Ibu berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sepasang suami istri itu baru saja keluar dari rumah sakit. Mereka sedang dalam perjalanan menuju apartemen.
"Mas. Kamu nggak keterlaluan apa sama mereka?"
"Enggak. Mereka harus diberi ketegasan. Jangan dimanja terus. Nanti malah nggak disiplin lagi."
"Tapi Mas."
"Sudah jangan dipikirkan lagi."
Alvin memarkirkan mobilnya setelah sampai. Pria itu menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke apartemen.
"Minum dulu Yang."
"Makasih Mas."
"Iya. Aku rindu masa masa kita masih berdua."
"Hah?"
"Iya. Dulu masih belum punya anak masih apa apa berdua. Aku punya banyak waktu sama kamu."
"Sekarang sama aja. Waktu kamu juga banyak sama aku."
"Rasanya beda Yang. Gimana kalo kita tinggal berdua aja. Mereka juga tinggal sendiri biar mandiri."
"Jangan aneh aneh kamu."
"Nggak aneh aneh kok. Aku pengen menikmati masa tuaku sama kamu aja. Tanpa ada yang menganggu." Kata Alvin serius. Aya hanya bisa diam. Ia mengerti perasaan suaminya. Namun Ia juga punya tanggung jawab sebagai seorang Ibu.
__ADS_1