
"Ini kartu Ayah. Gunakan sepuas kalian. PIN nya tanggal lahir Ibu."
"Kita ajak Ibu ya Yah."
"Kita udah sepakat kan. Kalian pergi berdua sama pak supir. Nggak ada ajak ajak Ibu segala. Ibu di rumah."
"Yaudah kita pamit Ibu dulu."
"Nggak usah. Berangkat sana. Nanti Ayah sampaikan ke Ibu."
"Yaudah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alvin memasuki rumah setelah anak anaknya pergi.
"Anak anak kemana Mas? Tumben sepi?"Tanya Aya saat pria itu memeluknya dari belakang.
"Mereka ke Mall. Beli HP baru."
"Tumben nggak pamit."
"Buru buru katanya."
"Oh."
"Yang." Panggil Alvin dengan lembut.
"Ya."
"Aku pengen?"
"Pengen apa? Pengen makan apa?"
"Ih bukan itu."
"Aku pengen kamu." Alvin menciumi leher istrinya.
"Semalem udah. Ini masih pagi. Aku males mandi lagi."
"Aku mandiin kalo kamu males mandi sendiri. Kurang pengertian gimana aku jadi suami."
"Nggak ah."
Alvin memeluk Aya semakin erat tak membiarkan wanita itu untuk pergi. Perlahan tangan kekarnya mengelus dan menelusuri tubuh sang Istri. Alvin mencium bibir Aya dan membawanya berbaring di ranjang.
"Pengen punya anak lagi ya?"
"Enggak. Kita akan melakukan tanpa hasil. Kita aman kok."
Alvin mulai menindih dan menjamah istrinya tanpa bosan akan tubuh yang membuatnya candu itu.
"Ah...Aku mencintaimu Sayang." Katanya terus berulang sambil melakukan kegiatan Favoritnya itu.
Zam dan Ara sudah berkeliling di Mall sedari tadi. Selesai membeli ponsel, kakak beradik kembar itu beralih menuju ke toko buku untuk membeli beberapa komik dan novel. "Sudah ini saja?"
"Iya kak."
"Yasudah kita bayar dulu."
"Eh dek sini." Zam membawa adiknya untuk bersembunyi.
"Kenapa?"
"Lihat tuh ada Dilla. Kakak ga mau ketemu dia." Tunjuknya pada seorang remaja yang sedang berjalan bersama teman temannya. Zam begitu terganggu karena Dilla terus mengejarnya walaupun sudah berkali kali ditolak.
"Oh. Kita tunggu sampai mereka jauh."
"Habis ini pulang ya. Di sini nggak aman."
"Kita mampir ke rumah Oma. Gimana?"
"Boleh deh."
Kedua remaja itu memasuki mansion.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kalian sama siapa? Ibu kalian mana?" Mommy langsung memeluk cucu cucunya.
"Ibu di rumah Oma. Kita tadi habis ke Mall."
"Tumben nggak sama Ibu."
"Ayah suruh kita pergi sendiri."
"Yaudah masuk yuk."
"Iya Oma."
"Yang lain kemana Oma. Kok sepi?"
"Lagi survey tempat buat pembangunan kantor baru."
"Oh."
"Kalian mau apa? Oma buatkan."
"Sop Buah aja Oma."
__ADS_1
"Ok. Tunggu ya."
"Iya Oma."
"Sop buah Oma emang paling enak."
"Ini nanti bawa pulang ya."
"Itu apa Oma?"
"Ini jajan pasar buat kalian sama Ibu."
"Oke Oma."
"Kalian ajak Ibu nginep di sini dong."
"Kemarin kan sudah nginep Oma."
"Tiap hari juga nggak papa."
"Ih Ayah nggak ngebolehin."
"Emang kebangetan Ayah kalian."
"Ibu..." Zam dan Ara mengetuk pintu kamar orang tua mereka berkali kali.
"Ada apa sih? Kalian ribut mulu."
"Ibu mana Yah?"
"Lagi mandi. Kenapa?"
"Ada titipan dari Oma."
"Biar Ayah yang kasih. Mana."
"No.No. Kita kasih sendiri ke Ibu."
"Kartu Ayah mana?"
"Kok suruh balikin. Katanya buat kita."
"Enak aja. Nggak nggak. Sini balikin."
Zam memberikan kartunya dengan berat hati.
"Kalian sudah pulang?" Tanya Aya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ibu." Zam dan Ara memeluk Ibunya.
"Ini ada titipan dari Oma. Kita makan sama sama."
"Kalian dari rumah Oma?"
"Iya. Ayo." Aya mengajak kedua anaknya untuk duduk di sofa.
"Enak nggak Ibu?"
"Enak."
"Ara mau coba."
"Itu ada. Ambil sendiri. Jangan manja."
"Ayah kenapa sih. Ara pengennya di suapi Ibu."
"Iya. Ini." Aya menyuapi Ara.
"Yang."
"Iya Mas."
"Temenin aku ya."
"Kemana?"
"Ada acara reuni nanti malam."
"Tempatnya di mana?"
"Di hotel kita."
"Oh. Ok."
"Kalian di rumah." Tegas Alvin sebelum kedua anaknya protes.
"Tapi Yah."
"Ayah udah habis puluhan juta hari ini untuk kalian."
"Itu lagi diungkit ungkit. Ayah kan uangnya banyak."
"Biarin. Pokoknya kalian di rumah."
"Iya. Tapi bawain mie pangsit ya."
"Iya."
"Ibu."
__ADS_1
"Ya."
"Kenapa Ibu panggil Ayah "Mas"? Ayah kan bukan kakak Ibu."
"Tau ah. Tanya aja sama Ayah kalian. Dia yang minta Ibu panggil begitu."
"Kenapa Yah?"
"Pengen tau aja. Ini urusan orang tua."
"Ya ga papa dong. Kita kan cuman pengen tau."
"Ayah ga mau kasih tau."
" Kok Ayah begitu."
"Sudah ya sanyangku sekalian. Jangan debat lagi. Ibu capek banget dengernya."
"Iya Ibu."
"Maaf Yang."
"Hm."
Alvin merangkul pinggang istrinya mesra memasuki ruangan tempat acara. Keduanya tampak tampan dan cantik dengan warna baju yang senada. Alvin menajamkan pandangannya menatap mereka yang berani mencuri pandang pada sang istri.
Aya duduk menunggu suaminya yang tengah menyampaikan pidato yang menurutnya membosankan. Ia juga mengobrol dengan beberapa orang yang ada disana termasuk Rio.
"Sayang." Alvin menghampiri sang istri dan memeluk wanita itu tanpa rasa malu sedikitpun.
"Ga tau tempat Vin?"
"Biarin."
"Baru juga jam 9. Kenapa pulang?"
"Ga papa. Ara sama Zam tadi nitip pangsit. Nanti tutup lagi kalo kemaleman."
"Yaudah. Hati hati ya."
"Iya Om. Kita pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aya dan Alvin baru saja sampai di rumah melihat anak mereka tengah bermalas malasan di ruang tengah.
"Ayah sama Ibu kok lama?"
"Iya. Tadi antrinya panjang banget."
"Ra. Ambil piring Ra."
"Iya." Gadis itu langsung melaksanakan perintah kakaknya.
"Ini."
Mereka makan dengan lahap.
"Ayah sama Ibu nggak mau?"
"Nggak. Ibu masih kenyang."
"Coba deh Bu. Enak banget. Ara suapi ya."
"Sedikit saja."
"Ok."
"Gimana? Enak kan?"
"Enak. Rasanya dari dulu nggak berubah."
"Ayah mau nggak?"
"Nggak."
"Ibu. Besok temenin Ara ya."
"Temenin Mulu. Pergi sendiri sana. Udah gede juga."
"Ayah sewot Mulu."
"Memangnya mau kemana?"
"Mau potong rambut di salonnya Oma."
"Cuman di salonnya Oma. Kan bisa sendiri."
"Ara mau ditemani Ibu Yah."
"Jangan manja. Pergi sendiri. Ajak Zam tuh."
"Ogah. Masa aku nungguin cewek nyalon."
"Ya Bu."
"Ga boleh. Ibu di rumah."
"Ayah kok gitu. Eh... Ibu mau kemana?" tanya Ara melihat Ibunya beranjak dari duduk.
__ADS_1
"Mau mandi. Gerah liat kalian adu mulut terus." Kata Aya meninggalkan mereka.
"Yang. Tunggu." Alvin menyusul istrinya.