
"Mas kenapa kamu ganti semua pengawal di rumah kita?"
"Duduk dulu Yang. Aku mau jelasin sesuatu sama kamu." Alvin membawa istrinya untuk duduk di sofa. Pria itu menggenggam tangan istrinya. Ia mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskan ya perlahan.
"Pengawal itu adalah orang yang memata matai kamu." Kata Alvin membuat Aya cukup terkejut kemudian menetralkan lagi ekspresinya.
"Mereka bekerja untuk Darwin. Yang waktu itu kamu pernah bertemu di Bali." Aya menganggukkan kepalanya paham akan ucapan sang suami.
"Kenapa dia memata mataiku?"
"Dia tertarik sama kamu. Dia ingin memiliki kamu dan merebutmu dariku. Semua barang barang dan bunga misterius yang kamu terima. Semuanya dari dia. Juga panggilan dari nomor tak dikenal itu." Kata Alvin menjelaskan pada istrinya.
"Aku pikir dia sudah berkeluarga." Gumam Aya.
"Belum."
"Ternyata banyak ya laki laki yang belum menikah di usia tua. Aku kira cuman kamu sama Om Rio saja."
Alvin mencubit hidung istrinya gemas.
"Tapi sekarang aku kan sudah menikah sama kamu."
"Iya."
"Ngomong ngomong. Pengawal yang baru ini sudah kamu pastikan bukan orang yang salah lagi kan?"
"Sudah Sayang. Kamu ga perlu khawatir. Semuanya rekomendasi dari Kak Aslan."
"Kamu panggil Daddy Kak?"
"Iya. Dia nggak mau di panggil Daddy olehku. Risih katanya."
Aya tersenyum mendengar jawaban suaminya.
"Memang benar jika Dady seperti itu."
"Kenapa?"
"Kamu sudah tua Om. Tidak pantas memanggil Daddy dengan sebutan seperti itu. Sebaiknya panggil dia Kakak saja sudah cukup."
__ADS_1
"Oh. Nakal ya kamu."
Alvin menciumi wajah dan bibir istrinya sebagai hukuman.
"Besok aku udah mulai kerja. Kamu di rumah baik baik ya. Jangan aneh aneh."
"Iya."
"Sekarang susunya di minum dulu setelah itu tidur. Ibu hamil nggak boleh tidur kemalaman."
"Kata siapa?"
"Kataku tadi."
Alvin dan Aya sudah di ranjang bersiap untuk tidur.
"Mau aku pijitin dulu?"
"Nggak usah. Aku nggak capek kok. Aku mau tidur aja."
"Yaudah. Selamat malam istriku." Ucap Alvin mengecup kening dan bibir istrinya sebelum mendekap wanita itu dalam peluknya.
"Selamat malam Mas." Jawab Aya mulai memejamkan mata.
"Nyonya ingin sesuatu?" Tanya mereka menyambut kedatangan Aya.
"Ah tidak. Aku sedang bosan saja. Aku tidak ada teman mengobrol. Kalian lanjutkan saja. Aku akan disini." Kata Aya ikut duduk dengan mereka yang sedang sibuk menyiapkan bahan untuk masak makan siang.
"Baik Nyonya."
Aya mengobrol dengan mereka tanpa membantu sedikitpun karena tidak diperbolehkan.
Alvin sedang mengamati istrinya terganggu oleh sesuatu.
"Ada apa?" Tanya Alvin tanpa basa basi.
Rio mendudukkan dirinya di sofa sambil menyilangkan kaki.
"Kau lupa ada meeting dengan rival mu itu?"
__ADS_1
"Jam berapa? Dimana?"
"30 menit lagi. Di hotelnya Darwin."
"Baiklah kita kesana sebentar lagi."
"Iya." Jawab Rio menuruti sahabatnya.
Dua orang pria berjalan tegap memasuki hotel. Di sana sudah ada seseorang untuk mengantarkan mereka ke sebuah ruangan untuk pertemuan. Sudah cukup banyak orang disana untuk melakukan meeting. Hanya menunggu si peran utama dalam pertemuan bisnis kali ini. Belum lama duduk, pintu terbuka lagi. Darwin berjalan tegap diikuti sekertarisnya dan duduk di kursi paling ujung yang menunjukkan identitasnya sebagai tuan rumah. Alvin berusaha bersikap profesional. Dia menahan mati matian hasratnya untuk memukuli pria itu.
"Baiklah selamat siang. Terimakasih sudah hadir. Dan mohon maaf membuat semuanya menunggu. Meeting bisa kita mulai sekarang." Kata pria itu dengan wibawanya membuka pertemuan kali ini.
Semua telah meninggalkan ruangan. Hanya tersisa Alvin, Rio, Darwin beserta Sekertaris nya.
"Tuan Darwin kita perlu bicara." Tegas Alvin sebelum pria itu beranjak dari duduknya.
Darwin sudah menangkap maksud pria itu, Ia mengurungkan niatnya untuk segara pergi dari sana.
"Baiklah. Kau boleh keluar." Katanya pada lelaki yang menjabat sebagai Sekertaris nya itu.
"Dan Sekertaris mu?" Tanya Darwin merujuk pada Rio yang masih duduk setia di kursi samping sahabatnya.
"Biarkan dia disini."
"Baiklah. Bagaimana jika kita mengobrol sambil makan siang saja."
"Tidak perlu. Aku akan makan siang di rumah bersama istriku." Jawab Alvin tegas membuat Darwin mendengus pelan.
"Langsung saja. Aku tidak mau kau mengganggu istriku lagi." Kata Alvin to the point.
"Apa maksudmu Tuan. Aku tidak mengerti." Kilah Darwin seakan Ia benar benar tidak melakukan apa yang dituduhkan Alvin.
"Kau pikir aku bodoh. Kau menepatkan beberapa orang di rumah kami untuk memata matai istriku. Kau mengiriminya bunga dan hadiah setiap hari. Kau juga orang yang sering menelfon istriku. Jangan pikir aku tidak tau semua itu."
"Jika tidak ada bukti sebaiknya Tuan jangan menuduh orang sembarangan." Tuturnya untuk memanipulasi kebenaran.
Alvin melemparkan berkas ke meja di depan Darwin. Pria itu membukanya dan membaca sekilas sambil tersenyum miring.
"Ku peringatkan kau. Jika kau tidak menghentikan semua ini. Aku tidak akan segan segan untuk berbuat nekat. Istriku adalah milikku dan kau tidak berhak atas itu. Aku harap kau mengerti dengan ucapanku. Jangan libatkan dirimu dengan sesuatu yang tak mungkin kau miliki. Kau kaya, kau berkuasa dan kau juga tampan. Mudah bagimu untuk menemukan wanita yang masih lajang di luar sana. Jangan menjadi duri di rumah tangga orang lain. Aku permisi." Kata Alvin penuh penekanan dan berlalu pergi diikuti sahabatnya.
__ADS_1
Darwin tersenyum penuh arti selepas kepergian dua orang itu.
"Yang kau katakan benar. Aku punya segalanya. Para wanita juga memujaku. Tapi aku hanya ingin satu. 'Istrimu'." Gumam Darwin mengingat betapa jatuh cintanya Ia pada Aya sejak pertama kali bertemu.