
"Ibu. Ayo kita ke minimarket depan."
"Mau beli apa sayang?"
"Mau beli Snack."
"Ayah mana. Ibu mau izin dulu."
"Kenapa harus Izin sih Ibu. Kan cuma sebentar."
"Walaupun sebentar. Keluar rumah itu harus izin sama suami dulu."
"Iya deh. Itu Ayah datang."
"Ada apa?"
"Aku mau ke minimarket depan Mas."
"Mau ngapain sih Yang?"
"Ara minta temenin. Dia mau beli Snack."
"Sendiri kan bisa. Udah gede juga."
"Maunya sama Ibu."
"Kakak kamu emangnya dimana?"
"Kak Zam lagi tidur."
"Sebentar aja ya."
"Iya Mas."
"Kalo kasirnya laki laki. Kamu yang bayar Ra."
"Ayah over possessive."
"Biarin."
"Kita berangkat Mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aya dan anak gadisnya memasuki minimarket.
"Eh mbak Aya, lama nggak kesini."
"Iya. Lagi sibuk dirumah."
"Mau cari apa?"
"Ini. Ara minta temenin beli Snack."
"Oh. Silahkan."
"Iya."
"Ibu mau ambil keranjang belanja dulu ya."
"Aku aja Ibu. Ibu tunggu sini."
"Baiklah."
"Ayo Ibu." Ara menggandeng tangan Ibunya untuk memilih makanan.
"Ibu aku mau yang ini ya."
"Iya. Sekalian ambil buat kak Zam."
"Minta soda boleh ya Ibu?"
"Iya. Jangan banyak banyak."
"Makasih Ibu."
"Sama sama."
"Sebentar Ibu. Ayah telfon."
"Yaudah. Angkat."
"Assalamualaikum Yah."
"Iya."
"Baru juga sebentar."
"Iya. Iya. Waalaikumsalam."
"Kenapa?"
"Kita disuruh cepet cepet pulang sama Ayah."
"Yaudah. Kamu cepetan mau beli apa."
__ADS_1
"Iya Ibu."
"Assalamualaikum."
"Kok lama banget." Kata Alvin dan Zam bersamaan.
"Salamnya di jawab dulu."
"Waalaikumsalam. Kamu kok lama banget Yang. Kasirnya cewek atau cowok."
"Kita sebentar Ayah. Kasirnya cewek. Ayah mau kenalan?"
"Ogah. Jangan ngada ngada kamu."
"Lagian sih. Ayah keterlaluan. Masa keluar sebentar aja telfon telfon segala. Ganggu tau."
"Oh ganggu kata kamu. Lain kali kalo keluar sendiri aja. Gausah ajak ajak Ibu."
"Ih Ayah kok gitu. Ibu kan Ibu kita."
"Ayah kan suami Ibu."
"Kita lebih berhak."
"Ayah yang lebih berhak. Kalian harus berterimakasih sama Ayah. Kalo Ayah nggak nikah sama Ibu nggak akan ada kalian. Juga kalian nggak akan punya Ibu kaya Ibu."
"Ih. Ayah nyebelin."
"Kalian juga nyebelin."
"Ya Allah. Udah dong. Kalian tiap hari ribut mulu."
"Ayah tuh."
"Kok nyalahin Ayah."
"Udah ya. Berhenti debatnya. Kalo nggak berhenti juga Ibu masukin pondok pesantren biar tau rasa."
"Sukurin."
"Kamu juga Mas."
"Maaf Yang."
"Maaf Ibu."
"Iya. Nggak usah pada ribut lagi. Ibu capek dengernya."
"Iya Ibu."
"Beli Snack. Nih."
"Zam. Makannya sambil duduk."
"Baik Ibu."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kalian bawa apaan banyak banget."
"Bawa jagung, sosis sama banyak deh sampai lupa."
"Mau buat apa?"
"Biasalah. Bakar bakar yuk."
"Darwin. Rio. Kalian kebiasaan mau apa apa nggak bilang bilang dulu. Untung aja kita tadi udah balik dari rumah Kakak. Kalo kita masih disana gimana?"
"Ya kita telfon suruh pulang. Ya nggak Ya." Darwin mencolek lengan Aya.
"Berani kamu sentuh istri aku. Aku potong jari kamu."
"Kejam banget Vin. Aku kan cuma colek ponakan aku aja."
"Ga boleh."
"Yaudah. Kalo gini boleh kan?" Darwin merangkul Aya.
"Darwin." Teriak Alvin.
"Iya. Iya. Gitu aja marah."
"Wǒ de tiān. Wèishéme tāmen zǒng shì ràng wǒ tóuyūn mùxuàn.(Ya tuhan. kenapa mereka selalu membuat aku pusing)"
"Kamu ngomong apa Ya?"
"du gehtst mir auf die Nerven (kalian menyebalkan.)"
"Istri aku ngomong apa?"
"Kita menyebalkan."
"Aku nggak ikut ikutan ya." Kata Rio memelas.
__ADS_1
Selesai makan malam mereka membakar jagung dan sosis di halaman belakang sambil duduk menggelar tikar.
"Hati hati makannya. Masih panas." Aya menyuapi kedua anak anaknya.
"Yah kasian Alvin. Ga bisa manja lagi sama istrinya."
"Tiap malem masih dapat jatah nggak Vin?"
"Diem kalian."
"Sensitif amat Bos."
"Anak anak kamu udah gede masih manja aja Vin."
"Tau tuh. Dikit dikit Ibu. Dikit dikit Ibu. Aku mau quality time sama istri kan jadi ga bisa."
"Kamu udah makin tua. Istri kamu masih cantik dan muda. Wihh...ati ati Vin. Nanti istri kamu di senggol orang loh."
"Jangan jadi kompor kalian."
"Eh kamu nggak percaya aja. Kamu denger nggak pak Ernest dia udah tua istrinya masih muda. Istrinya nikah lagi sama laki laki sepantarannya."
"Wah tukang gosip bener bener."
"Astaga kalian. Laki laki ngegibah juga ternyata. Dosa tau." Kata Aya tak sengaja mendengar percakapan mereka.
"Itu bener Ya."
"Iya bener. Tapi jangan ngomongin keburukan orang lain. Dosa. Nanti masuk neraka kena Azab. Mau?"
"Enggak lah."
"Yang."
"Hm."
"Emang kamu juga gitu?" Tanya Alvin tanpa ragu karena masih ada Darwin dan Rio.
"Gitu apa?"
"Aku udah tua kan. Emang kamu mau nikah lagi? Kamu mau ninggalin aku?"
"Astaga Mas. Ngomong apaan sih."
"Tadi Rio bilang."
"Aku cuman bercanda Vin. Kamu serius amat."
"Mas aku tanya deh sama kamu. Emang aku tipe wanita nggak setia atau nggak nurut sama kamu?"
"Enggak. Kamu setia Yang. Kamu juga ga pernah ngebantah aku."
"La itu tau. Jadi aku nggak akan ninggalin kamu. Udah berapa kali sih kamu tanya. Sampai capek aku jawabnya."
"Beneran?" Tanya Alvin sambil tersenyum.
"Tau ah."
"Ibu." Teriak Ara menghampiri Ibunya.
"Tuh kan. Baru aja pisah sama ibunya sebentar udah panggil panggil lagi."
"Udah nggak heran aku Vin."
"Kenapa?"
"Lihat. Hp Ara jatuh ke kolam renang. Rusak."
"Kok bisa?"
"Ara ceroboh Ibu."
"Lain kali hati hati dong."
"Iya Ibu. Ara minta maaf. Ara minta baru boleh Ibu?"
"Minta sama Ayah."
"Yah. Ada beliin Hp baru ya."
"Nggak. Kita kan musuhan."
"Ara ngalah deh. Ara minta maaf."
"Ayah nggak dengar."
"Ayah mau apa aja nanti Ara turuti. Beliin Hp baru ya."
"Minta Ibu kalian aja. Yang pegang keuangan sama harta benda kan Ibu kalian." Kata Darwin.
"Tadi Ibu bilang suruh minta Ayah."
"Yaudah. Ayah beliin. Tapi dengan syarat."
"Apa Yah?"
__ADS_1
"Nanti Ayah kasih tau." Jawab Alvin tersenyum licik.