
Aya menggelengkan kepala melihat salad dan Jus yang sudah tersaji di depannya saat makan siang bersama.
"Lah Mas. Menu aku beda sendiri. Itu aku yang masak lo. Masa aku nggak boleh makan."
"Kan aku sudah bilang. Mulai hari ini kamu makannya sayur."
"Kok gitu. Jusnya aku minum deh. Saladnya kamu yang makan."
"Nggak. Kamu makan salad juga minum jusnya. Habiskan semua."
"Nurut aja Bu. Kita juga sering makan sayur."
"Wah Zam udah nggak sayang Ibu lagi ya."
"Bukannya gitu. Ibu nggak pernah makan sayur lo."
Aya menaruh kepalanya di atas meja menatap suaminya penuh harap. Alvin mengalihkan pandangannya. Ia tak mau lagi luluh dengan rayuan istrinya.
"Mas. Aku masa makan begini. Aku bukan kambing."
"Kambing makannya rumput bukan salad."
"Sama aja Mas. Tumbuh tumbuhan juga."
"Makan deh. Nggak usah rewel. Kamu kalo suruh makan sayur aja susah banget."
"Jangan deh Mas."
"Nggak. Makan sekarang." Tegas Alvin.
Aya terpaksa makan karena suaminya saat ini tidak luluh. Ia mengambil potongan wortel memakannya perlahan.
"Gitu kan bagus. Makan lagi."
"Yang Ijo ijo jangan ya. Pahit tau."
"Mana ada. Makan semuanya."
"Mas..."
"Udah nggak usah merengek begitu." Kata Alvin tak berbelas kasihan.
Daniel sudah sampai di kediaman Felix ditemani Zam dan Ara. Ketiganya masuk ke dalam untuk menemui pria itu.
"Papa."
"Daniel. Apa kabar?"
"Baik Pa."
"Ara dan Zam apa kabar?"
"Baik Om. Om bagaimana?"
"Baik juga. Ayo duduk."
Mama Felix datang dan bergabung bersama mereka.
"Anak Aya ya?" Tanyanya mengabaikan Daniel.
"Iya Oma."
"Kalian ganteng dan cantik." Keduanya hanya tersenyum menanggapi wanita paruh baya itu.
"Papa ada apa minta Daniel datang?"
"Begini Niel Papa kemarin mendapat surat dari Mama kamu. Dia menanyakan tentang kamu."
Kata Felix sambil menyerahkan amplop.
"Iya. Ambil surat menjijikkan itu lalu pergi dari sini. Aku muak." Kata Oma Daniel.
"Ayo Daniel kita pergi. Permisi." Zam dan Ara cepat cepat mengajak Daniel pulang.
__ADS_1
"Yang. Kamu disuruh makan sayur aja ngambek." Alvin menggenggam tangan istrinya yang sedang rebahan di sofa.
"Yang. Jangan gitu dong."
"Jangan gitu. Ga enak tau Mas. Mual aku."
"Ya maaf."
"Maaf. Maaf. Enggak."
"Kamu kok gitu to Yang. Koe nek nesu kok ngene. Ojo ngono lah.(kamu kalo marah kok gini. Jangan gitu lah.)"Kata Alvin dalam bahasa Jawa.
"Kamu ngomong apa?" Tanya Aya karena tidak mengerti.
"Kamu itu lo jangan marah gini." Alvin memeluk istrinya.
"Aku kan udah minta maaf Yang."
"Iya iya. Udah ah. Jangan kaya bocah." Aya melepaskan pelukan suaminya.
"Kok di lepas. Kamu nggak sayang sama Aku."
"Mas Aku lagi nonton nih. Jangan ganggu."
"Kamu kok galak."
"Astaga." Aya mendudukkan diri kemudian memeluk suaminya.
"Udah ya. Jagan merengek Mulu. Sakit kuping aku dengernya."
"Iya." Alvin tersenyum memeluk istrinya.
"Jadi untuk apa Papa kamu minta kamu datang kesana Niel?"
"Daniel dapat surat dari Mama. Makannya Papa kasih ke Daniel."
"Sudah kamu baca?"
"Coba dibaca."
Daniel membaca surat itu dengan teliti.
"Apa isinya sayang?" Tanya Aya setelah Daniel melipat kertasnya kembali.
"Mama mau jemput Daniel. Tapi Daniel nggak mau. Daniel nggak mau pisah sama Ibu." Daniel memeluk Aya erat dengan air mata yang sudah mengalir deras.
"Memang benar Ibu bukan orang yang melahirkan Daniel. Tapi ibu adalah Ibu terbaik Daniel. Ibu memberi kasih sayang yang Daniel tidak dapat dari Mama kandung Daniel. Daniel sayang sama Ibu melebihi Daniel sayang Mama Daniel sendiri."
"Tenanglah nak. Semua keputusan ada di tangan kamu. Daniel boleh ikut sama Mama tapi Ibu juga senang jika kamu disini. Pilihlan senyaman Daniel."
"Daniel mau sama Ibu."
"Daniel serius?"
"Iya Ibu. Apa ibu tidak keberatan?"
"Tidak Sayang. Kamu anak Ibu. Sudah jangan menangis lagi." Aya mengusap air mata Daniel.
Aya menyelinap ingin keluar sebentar. Ada sesuatu yang mau dia beli.
"Kamu mau kemana mengendap endap begitu."
"Ih Mas ngagetin aja."
"Mau kemana Yang?"
"Mau ke minimarket depan. Mau beli coklat. Aku mau bikin pie coklat ternyata coklatnya habis."
"Ayo aku antar."
"Kamu mau antar?"
"Iya."
__ADS_1
"Kalo gitu ke swalayan aja Mas. Ga jadi ke minimarket depan."
"Kok gitu?"
"Udah deh. Ayo cepat."
Alvin hanya bisa pasrah menuruti keinginan istrinya.
Aya, Alvin dan anak anak tengah menikmati pie coklat di gasebo halaman belakang.
"Ibu bikin tapi Ibu nggak makan."
"Ara yang pengen."
"Ibu jangan makan baso Aci kebanyakan. Nanti sakit perut."
"Pantesan tadi bersikeras pengen ke swalayan. Ternyata mau beli itu."
"Iya soalnya di depan nggak ada. Mas mau?"
"Nggak. Udah jangan makan lagi." Alvin merebut mangkuk istrinya.
"Ih belum habis."
"Wajah kamu udah merah gitu."
"Mas."
"Enggak." Alvin menyuruh pelayan untuk membuang makanan istrinya.
"Mas tega."
"Kamu yang bikin Mas tega."Alvin memeluk istrinya.
"Dah jangan cemberut begitu."
"Makan Pie aja Ibu. Enak."
"Ibu pengen yang tadi. Tapi udah di buang sama Ayah."
"Perut kamu nanti sakit."
"Mas."
"Ya."
"Jeruk Balinya besar besar. Ayo petik."
"Ayo." Alvin menggandeng tangan istrinya.
Anak anak tidak ikut membiarkan orang tua mereka berdua.
"Mereka sweet."
"Iya. Eh. Apa ibu hamil ya. Akhir akhir ini suka makan aneh aneh. Manja lagi."
Mereka saling pandang langsung menghampiri Ayah dan Ibunya.
"Ibu." kata mereka sambil mengatur nafas.
"Ya sayang. Ada apa?"
"Ibu hamil ya?" Tanya Zam to the point.
"Kok kalian tanya begitu?"
"Ibu akhir akhir ini aneh Yah. Makannya banyak, makan aneh aneh, suka jalan jalan dan lebih manja."
"Yang?"
Aya tidak menjawab. Ia tersenyum langsung berjalan cepat meninggalkan mereka untuk masuk ke dalam rumah. Mereka terbengong kemudian menyusul.
Wanita itu mengunci diri di kamarnya mengabaikan suami dan anak anaknya yang mengetuk pintu sedaritadi.
__ADS_1