
Alvi memijit kaki istrinya pelan selepas jalan jalan di sekitar rumah tadi. Keduanya tengah berada di teras belakang sekarang.
"Udah mas. Aku nggak capek kok."
"Ga papa. Biar kamu nyaman."
"Beneran. Ga usah."
"Diam By." Tegas Alvin membuat Aya membiarkan apa yang ingin suaminya itu lakukan.
"Lelaki itu masih sering menghubungi kamu Yang?"
"Iya. Aku risih sekaligus takut."
"Kamu tenang aja. Cepat atau lambat pasti akan ketemu. Aku bakal ngelindungin kamu."
"Tapi sekarang udah nggak ada kiriman paket lagi."
"Masih kok. Cuman aku suruh pengawal langsung buang. Bunga dari aku aja cukup, jangan orang lain."
"Iya."
"Udah Mas. Kamu udah mijitin aku dari tadi."
"Yaudah." Alvin beralih duduk di samping istrinya sambil memeluk wanita itu.
"Mas aku mau makan ini ya?" Tanya Aya sambil memperlihatkan ponselnya.
"Kamu ga boleh makan. Itu Dari kedelai ."
"Yah. Padahal pengen coba."
"Yang lain aja. Kamu mau apa?"
"Pengen rujak aja."
"Nggak pake sambel tapi. Nanti kamu kepedesan."
"kalo ga pake sambel namanya bukan rujak mas."
"Yaudah boleh tapi nggak pedes."
"Makasih."
"Eh. Begitu ya kamu sama suami. Harus bayar dong. Kan aku udah nurutin keinginan kamu."
"Bayar apa?"
"Cium dulu."
"Ok ok..." Aya menciumi wajah suaminya. Alvin tak tinggal diam Ia mencium bibir Istrinya ketika wanita itu ingin menyudahi ciumannya.
Sore hari Aya berkumpul untuk makan rujak bersama para pekerja di rumah. Karena istrinya menginginkan hal itu maka Alvin menurutinya.
"Nggak pedes kan?"
"Tidak Tuan."
__ADS_1
"Baiklah mari makan." Ajak Aya kepada mereka.
"Baik Nyonya."
"Aku suapi Yang." Alvin menyuapi istrinya.
"Enak?"
"Enak." Aya makan dengan semangat.
Alvin mengumpulkan orang kepercayaannya untuk mengetahui perkembangan kasus yang menyangkut rumah tangganya. Suasana ruangan seketika tegang. Alvin berdiri tegap dengan tatapan tajamnya. Menatap mereka yang berdiri sambil menunduk.
"Masih ada kiriman paket sampai sekarang?"
"Masih Tuan. Tapi sesuai perintah Tuan. Kami langsung membuangnya." Jawab salah seorang dari mereka.
"Bagus. Apa tidak ada petunjuk?"
"Tidak Tuan. Pengirim selalu menggunakan jasa kurir. Namun saat paketnya di lacak. Tidak menemukan informasi sama sekali."
"Bagaimana dengan hasil pengintaian kalian pada Darwin?"
"Tuan Darwin berkegiatan normal seperti biasanya. Tidak ada hal hal yang mencurigakan."
Alvin tampak memijit pangkal hidungnya. Padahal Ia yakin Darwin adalah pelakunya. Ia dapat merasakan tatapan laki laki itu pada istrinya bukanlah tatapan biasa. Pria itu juga tak segan untuk menanyakan kabar Aya saat mereka sedang bertemu untuk urusan pekerjaan.
"Lalu siapa?" gumam Alvin bertanya pada dirinya sendiri.
"Ini makanan kamu mas." Aya meletakkan seporsi makanan yang telah Ia siapkan di depan suaminya.
"Kamu mau apa Yang?"
"Mulai sekarang kita makan sepiring berdua. Aku yang suapi."
"Tapi..." Kata Aya merasa malu dengan semua orang. Padahal tiap hari Alvin selalu begitu. Hanya saja Aya merasa sungkan di depan semua pekerja yang tengah makan bersama.
"Aku tidak menerima penolakan."
"Baiklah." Kata Aya patuh daripada harus berdebat.
"Susu sama Vitaminnya jangan lupa diminum." Perintah Alvin setelah selesai makan.
"Iya."
"Yang. Gimana kalo kita liburan ke puncak?"
"Emang kamu nggak kerja?"
"Enggak. Aku mau libur untuk beberapa hari."
"Boleh juga. Aku mau."
"Ok kalo gitu. Aku akan suruh orang di sana buat siapin keperluan kita."
"Tempatnya jauh nggak Mas?"
"Lumayan. Kamu nggak perlu khawatir. Aku nanti bakal pilih mobil yang sesuai. Agar kamu nyaman di perjalanan."
__ADS_1
"Terserah kamu aja gimana." Jawab Aya.
"Kamu nggak tidur Yang. Ini udah malem lo."
Tutur Alvin melihat istrinya masih asyik menonton TV. Ia memang meninggalkan istrinya untuk ke ruang kerja sebentar.
"Nanti dulu Mas. Aku belum ngantuk." Jawab Aya tanpa mengubah pandangannya.
Alvin mematikan TV nya lalu duduk di samping sang istri sambil memeluknya.
"Kok di matiin sih Mas."
"Aku pengen ngobrol sama kamu."
"Mau ngomong apa?"
"Kamu mau yang mana Yang?" Tanya Alvin sambil memperlihatkan foto foto perhiasan pada istrinya.
"Aku nggak mau." Tolak Aya.
"Kenapa?"
"Aku dah punya banyak. Tapi kenyataannya aku juga ga mau pakai."
"Iya juga ya. Padahal aku sering beliin tapi kamu nggak pernah pakai. Memangnya kenapa? Kamu ga suka? Kan bisa tinggal bilang sama aku."
"Aku suka kok. Cuman risih aja. Ga nyaman."
"Oh kirain kamu ga suka."
Alvin membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri. Ia mengusap lembut perut Aya.
"Kamu cowok atau cewek sayang? Atau cowok cewek?"
"Ya belum tau. Kan belum di USG." Kata Aya menjawab pertanyaan suaminya.
"Kita USG Yang."
"Nanti aja."
"Kenapa?"
"Ya tunggu nanti kata dokter. USG nya bisanya kapan. Kan ada ketentuannya usia kandungan berapa untuk tau jenis kelamin Bayi."
"Iya juga. Aku sampai lupa. Kan kalau mau tau jenis kelamin usia kandungan harus 18 sampai 20 minggu. Usia kandungan kamu kan baru 16 minggu. Berarti kurang 2 Minggu lagi."
"Kok kamu tau Mas?"
"Aku kan sering baca dari internet."
"Suami siaga ya Om kamu." Goda Aya.
Alvin membelalakkan matanya mendengar panggilan yang keluar dari mulut istrinya barusan.
"Kamu Panggil aku apa Yang? nakal ya kamu. Harus di hukum."
Alvin bangkit dan mencium bibir istrinya dalam dalam. Setalah itu Ia kembali ke posisinya semula.
__ADS_1
"Kamu jangan buat Ibu kerepotan ya. Kasihan Ibu muntah muntah terus. Sekarang baru bisa makan. Jadi anak yang baik ya. Ayah Sayang Ibu dan kalian." Alvin mengecup perut istrinya.
Aya merasa terharu mendengar ucapan suaminya. Laki laki yang begitu penuh tanggung jawab. Ia membelai lembut kepala Alvin yang masih berada dalam pangkuannya. Alvin memejamkan matanya. Menikmati kenyamanan dari setiap sentuhan sang istri.