
Aya sudah tampil sempurna dengan dress-nya. Ia hanya perlu duduk menunggu Alvin yang sedang bersiap. Entah apa yang pria itu lakukan. Sedaritadi belum keluar juga dari walk in closet.
"Ayo Yang." Katanya sambil merapikan dasi yang sudah dipasangkan sang istri sedaritadi.
"Kamu ngapain sih Mas. Dandan udah kaya cewek. Lama banget."
"Aku pilih parfum. Bingung mau pakai yang mana."
"Ada ada aja."
"Ayo berangkat." Alvin menggandeng tangan istrinya.
"Sayang. Ayah sama Ibu berangkat dulu ya."
"Jangan lama lama ya Ibu. Perasaan Ara daritadi nggak enak. Hati hati juga."
"Iya. Jangan khawatir." Kata Aya mengusap bahu anaknya agar tenang.
"Kita berangkat ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Kak feeling aku kok nggak enak ya."
"Berdoa aja Ra. Agar semua baik baik aja."
"Iya Kak."
Alvin dan Aya telah sampai di tempat acara. Pria itu merangkul pinggang istrinya dengan mesra.
Mereka berbincang dengan tamu undangan sambil makan malam bersama.
Aya duduk menunggu suaminya yang tengah memberikan pidatonya di panggung acara. Ia merasa sangat bosan disini. Dikelilingi para wanita yang hanya membicarakan barang mahal dan saling pamer.
"Nyonya Aya perhiasannya bagus. Pasti Mahal. Enak ya dimanja suami. Mana tuan Alvin sama Nyonya sweet banget sampai iri."
"Eh iya. Bahkan semua hartanya Tuan Alvin di pindahkan ke Nyonya semua sebagai bukti cintanya."
Aya hanya bisa tersenyum menanggapi mereka.
Alvin yang melihat istrinya tidak nyaman langsung menghampiri dan mengajaknya berpindah ke tempat yang lebih sepi.
"Bosen ya?"
"Iya Mas. Masih lama ya?"
"Sebentar lagi. Sabar ya. Nggak enak kita yang punya acara malah pulang duluan."
"Iya."
"Silahkan diminum Tuan. Nyonya." Kata seorang pelayan menyajikan minum untuk Aya dan Alvin.
"Iya Terimakasih."
"Sama sama Nyonya. Saya permisi." Pelayan itu pergi setelah berpamitan.
"Sudah saya lakukan." Katanya memberi laporan lewat earphone yang terpasang di telinganya.
"Aku pengen punya kamu Mas."
__ADS_1
"Kamu nggak boleh minum yang ada cafeinnya. Kamu punya asam lambung Yang."
"Ayolah Mas. Sedikit aja. Lagi pengen banget. Baunya kecium sampe kesini. Tukeran ya."
"Hm...karena kamu udah nemenin aku. Boleh deh."
"Makasih. Jadi makin sayang."
"Kamu kalo lagi ada maunya pasti gini."
Aya bertukar minum dengan suaminya.
"Enak. Katanya meminum beberapa teguk."
"Ih berantakan." Alvin membersihkan bibir istrinya membuat semua yang memperhatikan menjadi baper
Aya memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Kamu kenapa Yang?" Tanya Alvin khawatir.
"Nggak tau. Tiba tiba nyeri."
"Kita ke rumah sakit."
"Iya."
Aya berdiri dari duduknya. Belum sempat melangkah wanita itu memuntahkan darah segar membuat Alvin dan semua orang panik disana. Alvin bergegas menggendong sang istri menuju keluar. Kejadian barusan langsung menjadi berita hangat di seluruh penjuru negeri.
Semua keluarga begitu cemas menunggu di depan ruang UGD. Dokter yang sedaritadi menangani juga belum keluar.
"Gimana kejadiannya Vin?"
"Udah aku suruh orang untuk usut Om. Ini mereka lagi perjalanan kesini buat kasih laporan."
"Makasih No."
Ketiga anak Aya tak ada yang berbicara. Mereka sudah lelah menangis sedaritadi. Memang bukan yang pertama kalinya bagi Zam dan Ara melihat Ibunya mengalami kejadian yang luar biasa seperti ini. Namun mereka tetaplah terpukul tentang hal buruk yang menyangkut Ibunya. Hal yang sama juga dirasakan Daniel,
meskipun tidak ada ikatan darah diantara keduanya namun Daniel merasa sangat bersedih dan menderita karena keadaan Aya.
"Permisi Tuan." Kata Dua orang menghampiri mereka.
"Katakan."
"Menurut penyelidikan Nyonya diracuni. Racun ditemukan pada minuman yang diminum Nyonya ketika disana. Pelayan yang mengantarkan minum itu sedang dalam pengejaran karena melarikan diri."
"Segera temukan. Aku ingin kabar baiknya."
"Baik Tuan. Permisi."
Dokter baru saja keluar dengan wajah lelahnya.
"Bagaimana dok?" Tanya mereka memburu.
"Racunnya sudah kami keluarkan dari tubuh Nyonya. Untung saja penanganannya cepat. Tuan sangat bijak bisa membuat Nyonya muntah untuk mengeluarkan racunnya. Jika tidak, bisa berakibat fatal. Namun ada beberapa kerusakan pada organ dalam Nyonya. Apalagi ditambah luka pada paru parunya membuat kondisi Nyonya tidak baik baik saja. Untuk itu tolong jaga Nyonya sebaik baiknya."
"Baik dok terimakasih. Apa kami boleh menjenguk?"
"Sebentar kami akan pindahkan ke ruang rawat inap."
__ADS_1
Aya terbaring lemah dengan wajah pucatnya.
"Sudah jangan nangis. Ibu sudah sehat. Mommy juga jangan nangis gitu dong. Udah tua. Cucu udah tiga. Mas juga. Jangan nangis, kalo marah aja serem."
"Bisa bisanya kamu bercanda."
"Kita khawatir sama Ibu."
"Ibu udah enakan. Dah jangan nangis lagi." Aya mengelus kepala putra putrinya.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?"
"Aku udah nggak papa Dad. Besok boleh pulang. Ya kan?"
"Kamu baru sadar Yang. Jangan aneh aneh deh."
"Iya. Kakak emang keterlaluan."
"Mas."
"Ya sayang."
"Mau minum."
"Sebentar Mas ambilkan." Alvin mengambil Air dan membantu istrinya minum.
"Bener kan firasat Ara. Lain kali Ibu ngga usah kemana mana lagi."
"Ini musibah Nak. Nggak ada yang tau."
"Pada pulang istirahat ya. Udah malem banget."
"Kita temani kakak disini. Lagian besok libur kerja."
"Yaudah kalo kalian disini. Zam, Ara, Daniel kalian ikut Oma sama Opa pulang ya. Temani mereka."
"Tapi Ibu. Kita pengen disini."
"Iya Sayang. Kita pengen temani kamu."
"Kalian nanti sakit. Pulang ya. Biar aku tenang dan cepat pulih juga."
"Baiklah." Pasrah mereka menurut.
Ano dan Darren tidur di ruangan yang memang dikhususkan untuk menunggu lengkap dengan ranjang dan fasilitas lengkapnya. Sedangkan Alvin menemani Aya dan berbaring di samping istrinya sambil memeluk wanita yang sudah menjadi istrinya sejak 18 tahun lalu.
"Maaf."
"Kenapa?"
"Gara gara aku..."
"Dah Mas. Semuanya takdir. Jangan coba-coba salahkan diri sendiri."
"Tapi yang.."
"Tidur. Masa aku sakit kamu ajak begadang buat ngobrol."
"Iya. Istirahatlah Sayangku. Aku mencintaimu."
__ADS_1
Alvin mencium bibir istrinya beberapa kali sambil mengusap punggung Aya agar nyaman.