
Aya merasa khawatir. Suaminya sejak pulang kerja tadi bersin bersin. Ia langsung menyuruhnya untuk mandi air hangat yang sudah Ia siapkan.
"Yaampun Yang kamu kan bisa suruh orang. Ga perlu bawa sendiri. Nanti kalau terjadi apa apa bagaimana?" Kata Alvin yang baru saja keluar kamar mandi langsung membantu sang istri yang sedang membawa nampan.
"Nggak papa kok. Lagian juga ga berat."
"Lain kali jangan begini lagi."
"Iya." Jawab Aya menenangkan suaminya. Padahal tak menutup kemungkinan dia akan melakukan hal yang sama lagi.
"Diminum dulu Mas tehnya. Trus kamu makan. Obatnya juga jangan lupa diminum. Badan kamu panas tuh." Kata Aya setelah selesai mengecek suhu tubuh suaminya.
"Kamu sudah makan?"
"Aku tadi sudah minum susu sama makan buah. Masih kenyang banget."
"Kita makan berdua aja ya."
"Beneran deh. Aku masih kenyang."
"Yaudah kalo gitu. Aku mau di suapi." Manjanya pada sang istri.
"Baiklah." Aya mulai menyuapi suaminya dengan telaten.
"Kamu ga minum vitamin ya Mas? Kok bisa sakit begini."
"Minum kok. Cuaca kaya gini kadang hujan kadang panas memang bikin gampang sakit."
"Makannya jangan kecapean."
"Iya."
"Tadi baru berhenti hujan. Udah hujan lagi. Makin deras pula." Kata Aya melihat hujan turun lagi semakin lebat.
"Minta Peluk Yang. Aku dingin."
"Makannya belum selesai. Habiskan dulu."
"Baiklah."
"Sekarang peluk."
"Tuh obatnya di minum dulu."
"Iya iya." Alvin patuh dengan Istrinya.
"Sekarang."
__ADS_1
"Bentar aku mau balikin piring dulu." Kata Aya sambil beranjak dari ranjangnya.
"Kamu ngeles Mulu ya." Kata Alvin memeluk istrinya.
"Aku mau balikin piring dulu."
"Nggak boleh." Alvin menahan sang istri dan memeluknya semakin erat.
"Iya iya." Aya kembali ke ranjang membalas pelukan erat suaminya.
"Tidur Mas. Istirahat dulu biar cepat sembuh."
"Temenin."
"Iya iya." Aya mengelus lembut kepala suaminya. Memberikan kenyamanan pada pria itu. Beberapa saat kemudian Alvin sudah tertidur pulas memeluk istrinya. Aya melepaskan tangan kekar itu perlahan .
Membenarkan selimut sang suami agar merasa hangat. Ia turun dari ranjang dengan hati hati agar tidak mengganggu tidur suaminya.
Alvin menyusul istrinya yang sedang bersender di ranjang.
"Kamu besok kerja Mas?" Tanya Aya pada suaminya.
"Enggak dulu deh. Badan aku masih lemas."Jawab Alvin sambil membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Kamu hamil gini malah aku nyusahin ya. Pake sakit segala." Alvin mengelus lembut pipi istrinya.
"Ngomong apa sih. Sebagai istri sudah kewajiban untuk merawat suami."
"Kata siapa aku cepek. Aku nggak capek sama sekali. Jangan kaya gitu dong Mas. Dalam rumah tangga memang saling melengkapi kan. Membantu satu sama lain. Jadi jangan merasa nggak enak begitu. Aku jadi terbebani sama ucapan kamu."
"Maaf."
"Iya."
"Yang." Panggil Alvin lembut.
"Ya."
"Aku nanti kan udah semakin tua. Sedangkan kamu masih muda. Kamu nggak akan ninggalin aku kan?"
Aya terkekeh mendengar pertanyaan suaminya.
"Kalau aku ninggalin kamu. Miskin kamu Mas. Secara harta kamu semuanya di aku. Mau tinggal dimana kamu? Lagian kamu juga. Bisa bisanya memberikan seluruh harta kamu ke aku. Apa kamu nggak ada kepikiran kalo aku bisa kapan saja ninggalin kamu?"
"Aku percaya sama kamu Yang. Aku percaya kamu bukan orang yang seperti itu. Aku percaya kamu akan setia dan tidak akan meninggalkanku."
"Toh jika seumpama aku benar benar ninggalin kamu, aku juga bakal balikin semua harta kamu."
__ADS_1
"Apa kamu bilang?"
"Kan aku bilang seumpama."
"Iya. Tapi aku ga mau dengar kata itu lagi. Mau seumpama atau apapun itu. Aku nggak mau kamu pergi dari aku." Kata Alvin mengganggap tangan istrinya membuat Aya berhenti mengelus kepala suaminya. Ada pancaran kekhawatiran yang jelas pada manik mata pria itu.
"Iya. Sekarang tidur." Kata Aya mencoba menenangkan.
"Iya. Aku minta peluk. Tadi siang aku tidur kamu tinggalin."
"Kan cuman sebentar."
"Banyak alasan." Alvin mencium bibir istrinya. Keduanya pun tidur saling berpelukan.
Pagi hari yang cerah. Bulir air sisa hujan semalam menetes jatuh dari dedaunan yang begitu segar. Aya membuka horden kamar, memaksa cahaya sang Surya menerobos masuk lewat celah celahnya. Alvin terbangun bukan karena terganggu sinar matahari melainkan merasakan kosong di ranjangnya tanpa sang istri. Sejak sholat subuh tadi Ia tidur kembali sedangkan Aya hanya menemaninya. Ia melingkarkan tangan kekarnya pada sang istri yang tengah sibuk mengamati pemandangan dari balkon kamar.
"Sudah bangun?" Tanya Aya sambil membalikkan badannya.
"Kamunya nggak ada. Aku jadi terbangun." Alvin mencium Bibir istrinya sambil menangkup wajah cantik Aya.
"Mau sarapan sekarang?"
"Sebentar aku masih ingin seperti ini." Katanya sambil memeluk Aya erat.
Meja makan kini hanya ada mereka berdua. Aya memang menyuruh para pekerja di rumahnya untuk sarapan duluan. Ia akan menunggu suaminya bangun terlebih dahulu dan sarapan bersama.
"Maaf Yang. Gara gara Aku kamu jadi telat sarapan."
"Apaan sih. Aku juga belum lapar."
"Iya. Tapikan anak anak kita lapar." Kata Alvin mengelus perut istrinya.
"Iya. Iya. Lanjutkan makannya." Kata Aya agar suaminya segera makan.
Selesai sarapan Alvin mengajak istrinya untuk duduk di bangku taman belakang untuk menikmati matahari pagi yang menghangatkan. Ia menggenggam tangan dan menyenderkan kepalanya di bahu sang istri.
"Yang."
"Iya."
"Kamu Janji ya nggak akan ninggalin aku."
"Kenapa sih kamu dari semalem bahasnya itu mulu?" Tanya Aya keheranan.
"Aku cuman khawatir. Sesuatu akan memisahkan kita." Katanya sedikit pelan sambil mengeratkan genggamannya pada tangan sang istri.
Aya menggenggam tangan suaminya.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Tidak akan ada yang memisahkan kita. Jika kita berjodoh."
Kalimat terakhir sang istri membuatnya sedikit was was. Iya kalau berjodoh jika tidak berarti....Alvin menepiskan pikirannya tersebut. Ia tak mau kehilangan istrinya. Bukan bermaksud menentang takdir tuhan. Namun bagaimanapun istrinya adalah jodohnya di masa sekarang sampai selamanya. "Kau dan aku adalah satu. Akan terus seperti itu. Aku yakin kaulah Jodohku. Wanita yang Tuhan ciptakan untukku." Batin Alvin dalam hati.