Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Memperbaiki


__ADS_3

Aya panik menunggu suaminya yang sedari tadi pingsan namun belum sadar juga. Ia menggenggam tangan Alvin memberikan kekuatan pada pria itu. Ini baru pertama kalinya Aya melihat Alvin pingsan. "Maafkan aku." gumam Aya merasa bersalah telah menyiksa batin suaminya. Ia sudah salah. Memang benar Ia tak tahan dengan sikap suaminya. Namun Ia juga sudah keterlaluan membuat suaminya seperti ini.


"Um..." Lenguh Alvin sambil membuka kedua matanya perlahan.


Ia dengan cepat mendudukkan diri dan memeluk istrinya dengan erat.


"Jangan tinggalkan Aku." Lirih Alvin.


"Maafkan Aku sudah keterlaluan." Kata Aya menepuk pelan punggung suaminya.


"Tidak. Aku yang salah disini. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa hidup tanpamu."


"Aku tidak akan meninggalkanmu."


Alvin melepaskan pelukannya menatap manik mata istrinya dalam dalam mencari kebohongan di sana. Namun Ia tidak mendapatinya. "Kau akan tetap bersamaku kan? Kita akan membesarkan anak kita sama sama kan?"


"Aya mengangguk pelan."


"Terimakasih." Kata Alvin memeluk istrinya lagi dan lagi.


"Bagaimana keadaanmu?"


"Lebih baik sekarang." Alvin tersenyum pada Istrinya.


"Makanlah. Kamu belum makan sejak tadi."


"Suapi." Manja Alvin pada Aya.


"Baiklah."


Aya menyuapi suaminya dengan telaten. Ia akan memulainya dari awal. Memberikan kesempatan masing masing untuk memperbaiki diri. Ia masih muda. Jadi sangat labil dalam mengambil keputusan.


"Mau minum?"


Alvin mengangguk. Aya memberikan suaminya segelas air dan diteguknya sampai habis.


"Mau kemana Yang?"


"Mau ke dapur sebentar."


"Di sini saja temani aku."


"Hanya sebentar. Nanti cepat kembali."


"Baiklah aku tunggu. Kamu hati hati. Jangan lewat tangga."


"Iya."


Aya kembali ke kamar setelah mengembalikan piring dan gelas bekas suaminya. Ia menghampiri Alvin yang masih setia duduk di ranjang.


"Tidur yuk."


"Kamu nggak sholat dulu?"


"Iya aku lupa. Kamu udah sholat Yang?"

__ADS_1


"Sudah."


"Kalo gitu aku sholat dulu ya."


"Iya." Alvin mengecup kening Aya sebelum melaksanakan ibadahnya. Alvin kembali ke kamar mendapati Aya yang sudah tertidur pulas. Ia membenarkan posisi istrinya agar nyaman kemudian ikut tidur memeluk wanita yang tengah hamil itu.


Setelah sarapan Alvin mengajak istrinya untuk berjalan jalan di kebun. Udara pagi ini tampak segar. Ia menggandeng Aya sambil berkeliling. Istrinya mual mual sejak pagi tadi. Mungkin dengan mengajaknya menghirup udara segar akan merilekskan tubuhnya.


"Masih mual Yang?" Tanya Alvin khawatir dengan kondisi istrinya.


"Sedikit berkurang."


"Kamu kok muntah muntah terus?"


"Kan dokter sudah bilang kalo itu hal yang wajar."


"Kamu capek yang?"


"Enggak kok."


"Kalau capek bilang ya. Kita istirahat."


"Iya."


"Mas aku mau itu."


"Orang hamil apa boleh makan kelengkeng? kamu kan harus jaga makanan."


"Boleh kok."


"Ih gitu aja pake tanya segala. Ganggu tau."


"Kalo gitu aku tanya di konsultasi online kan ada Yang."


"Ga usah tanya deh. Boleh makan kok." Aya mencoba meyakinkan suaminya yang ngeyel itu.


"Nggak ah. Aku harus tanya. Nanti kenapa napa lagi."


"Terserah."


"Boleh ternyata." kata Alvin setelah mengotak atik gadget nya.


"Kan aku dah bilang."


"Ya aku kan butuh kepastian." Alvin mengupas dan menyuapkan buah kelengkeng pada istrinya.


"Manis. Aku suka." Kata Aya di sela sela makannya.


"Di sini ada buah naga juga?"


"Iya. Kamu mau?"


"Enggak. Lain kali aja kalo lagi kepengen."


"Duduk dulu ya. Dari tadi kamu belum duduk Yang."

__ADS_1


"Nanti Aja. Aku masih pengen jalan jalan. Ayo."


"Hati hati." Kata Alvin memegangi tangan istrinya.


"Kamu pengennya anak cowok atau cewek Yang?"


"Terserah mau di kasih apa. Kalo mas?"


"Sama. Cowok atau cewek ga masalah."


Alvin mengajak istrinya duduk di bangku taman. Ia mengelus lembut perut Aya yang masih rata. "Kita akan mulai dari awal Yang. Aku akan memperbaiki semuanya. Kamu jangan ninggalin aku. Aku ga mau hidup tanpa kamu. Kita akan terus bersama seperti ini sampai kapanpun."


"Kamu dengar aku kan Yang?" tanya Alvin sambil menegapkan duduknya menatap sang istri.


"Dengar."


"Kok kamu ga ada tanggapan."


"Ya aku kan meresapi setiap kata yang kamu ucapkan. Makannya aku diam. Itu artinya aku merenung."


"Bisa bisanya." Alvin mencubit gemas hidung istrinya.


"Sakit tau." Rengek Aya sambil memegangi hidungnya yang memerah.


"Maaf maaf." Alvin mengusap lembut hidung mancung sang istri dengan ibu jarinya.


"Yang."


"Iya."


"Mulai sekarang setiap makan siang aku sudah berada di rumah. Aku hanya bekerja sampai jam makan siang. Urusan kantor nanti akan di handle oleh asistenku. Aku akan temani kamu di rumah."


"Ga usah terlalu cemas. Kan ada banyak orang di sini."


"Aku ga bisa tenang kalo ga sama kamu. Apalagi orang yang sering kirim bunga ke kamu itu belum juga di temukan."


"Udah kalo kamu kerja kerja aja. Aku ga papa di di rumah. Lagian tidak terjadi apa apa juga. Semuanya menjaga aku dengan baik."


"Aku tetap tidak bisa."


"Terserah kamu mas. Nyamannya gimana." putus Aya tak mau berdebat dengan suaminya.


Alvin membawa Aya dalam peluknya. "kamu tau nggak hal yang paling membahagiakan dalam hidupku?"


Aya menggeleng dalam dekapan suaminya.


"Memilikimu dan diberikan kepercayaan untuk menjadi orang tua dari anak yang lahir dari rahimmu."


"Iya. Aku minta maaf sudah berbuat keterlaluan. Aku berdosa sebagai seorang istri. Aku minta maaf mas. Aku akan memperbaiki semua kesalahanku."


Hati Alvin menghangat mendengar penuturan istrinya. Ia mengecup kepala Aya beberapa kali.


"Kamu nggak salah sayang. Kamu masih muda. Ini bukan hal yang mudah untukmu. Aku memakluminya."


"Terimakasih Mas."

__ADS_1


"Aku juga berterimakasih padamu karena bersedia untuk tetap bersamaku." Alvin melepas pelukannya menangkup wajah istrinya dan mencium bibir mungil itu dengan lembut.


__ADS_2