Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Batas Kesabaran ku Sudah Habis


__ADS_3

Aya segera berdiri untuk menyusul anaknya. "Sayang tunggu." Panggil Aya. Gadis itu membalikkan badannya langsung memeluk sang Ibu dengan erat. "Kita duduk dulu." Aya menggandeng tangan Ara untuk di bawa duduk di sofa.


"Ibu."


"Jangan di ulangi lagi ya. Kalo ngomong sama orang tua yang sopan."


"Tapi Ibu. Mereka sudah keterlaluan."


"Sudah. Ibu nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Kamu anak baik. Kalau bicara sama orang tua yang sopan ya."


Mama Aya datang dan berdiri di depan mereka diikuti semua orang.


"Kamu nggak tau sopan santun ya ngomong sama orang tua." Katanya sambil marah.


Ara berdiri menatap Omanya dengan tatapan remeh. "Seperti inilah Saya. Anda keberatan." Kata Ara menantang.


"Kurang ajar kamu." Oma mengangkat tangannya untuk menampar cucu perempuannya itu.


"Plak..." Suara tamparan mendarat di pipi mulus Aya hingga wanita itu jatuh tersungkur untuk melindungi anaknya.


"Ibu."


"Sayang."


"Kakak." Teriak mereka bersamaan.


Darah keluar dari hidung dan sudut bibir wanita itu.


"Sayang. Mama tidak bermaksud." Katanya sambil terbata bata. Alvin serta kedua anaknya dengan cepat melihat keadaan Aya dan membantu untuk berdiri.


"Keterlaluan." Teriak Alvin sudah tidak dapat menahan emosinya lagi.


"Mas."


"Enggak. Mereka emang nggak bisa di biarkan. Aku sudah muak. Sudah berkali kali kalian membuat istriku terluka. Jika tidak bisa melindungi atau membahagiakannya setidaknya jangan membuatnya menderita. Aku masih menghargai kalian sebagai seorang kakak, dan Mertua demi istriku. Tapi batas kesabaran ku sudah habis kali ini. Ini adalah peringatan terakhir untuk kalian. Jangan temui kami, baik aku, Istriku maupun anak anakku lagi. Jangan injakkan kaki kalian di sini lagi. Jika masih ada yang melanggar. Aku tidak segan untuk berbuat nekat."


"Vin. Kakak minta maaf. Tolong jangan seperti ini."


"Diam dan pergi sekarang juga." Kata Alvin dingin dengan tatapan yang menusuk.


"Mas. Sakit." Keluh Aya memegangi dadanya sebelum memuntahkan darah segar diikuti matanya yang tertutup.


"Sayang..."


"Bangun..."


"Sayang..."


"Zam. Panggil dokter." Alvin segera membawa istrinya ke kamar.


"Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya mereka setelah Aya membuka matanya.


"Masih sakit kak?"


Aya hanya menggeleng pelan menanggapi adiknya.


"Mau minum Mas."


"Iya. Mas ambilkan." Alvin mengambil air dan membantu istrinya untuk minum.


Mommy mengelus pipi anaknya yang sedikit membiru sambil meneteskan air mata.


"Jangan nangis Mom. Aku nggak papa."


"Ibu. Ara minta maaf. Gara gara Ara..."


"Sudah. Ibu nggak papa. Jangan dibahas lagi."

__ADS_1


"Kamu istirahat ya. Kami keluar dulu."


"Kakak istirahat."


"Iya. Kakak nggak papa kok."


Alvin dan kedua anaknya menemani Aya. "Kalian keluar. Ayah sama Ibu mau tidur."


"Ayah aja yang keluar. Kita tidur sama Ibu."


"Nggak. Ini kamar Ayah. Kalian yang keluar. Kalo nggak mau. Ayah sita semua fasilitas kalian."


"Iya iya. Kita ke kamar dulu. Selamat malam Ibu. Ayah."


"Selamat malam Sayang." Aya mencium kedua anaknya.


"Aku minta maaf. Aku lalai lagi jagain kamu."


"Udah Mas. Aku nggak papa. Aku mau tidur. Ngantuk."


"Iya. Selamat malam Sayang."


"Malam Mas." Alvin mencium dan memeluk istrinya erat.


"Dasar sialan. Pagi pagi udah bikin orang emosi aja." Alvin memasuki rumah setelah dari luar.


"Kenapa sih Mas. Ngedumel mulu."


"Tuh Yang. Kasir minimarket depan. Berani beraninya dia tanya kabar kamu segala."


"Udah sih. Jangan marah marah gitu. Sarapan gih. Nanti kamu telat."


"Iya. Ayo."


"kalian belum berangkat juga. Ini jam berapa?" Tanya Alvin sambil duduk untuk sarapan.


"Jam 7 lebih. Kita kelasnya kan jam 9."


"Iya Ibu."


"Kamu mau pancake atau nasi goreng Mas?"


"Pan cake aja Yang."


"Ini."


"Suapi."


"Astaga. Ada aja."


"Tau ih Ayah."


"Minta uang jajan dong Yah."


"Dari Ibu masa sudah habis?"


"Nggak. Masih utuh. Cuman Ayah udah janji mau kasih kita uang jajan."


"Inget aja kalo masalah duit." Alvin mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan dari dompetnya.


"Makasih Yah."


"Hm."


"Kita berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati hati."

__ADS_1


"Iya."


"Kamu makannya lama banget. Nanti kesiangan lo."


"Aku berangkat agak siangan Yang."


"Kenapa?"


"Nggak papa. Pengen di rumah lebih lama aja sama kamu."


"Bisa bisanya."


"Pak." Alvin memanggil salah satu penjaga di rumah.


"Iya Tuan."


"Jangan biarkan siapapun masuk ke rumah. Termasuk keluarga kandung istri saya. Saya nggak mau istri saya terluka lagi."


"Baik Tuan. Ada yang lain?"


"Tidak. Itu saja."


"Baiklah Tuan. Saya permisi."


"Iya."


"Kamu tadi udah mandi Mas?"


"Belum. Aku kan nungguin kamu selesai dari dapur."


"Ngapain. Orang aku udah mandi."


"Kamu mandiin aku kalo gitu."


"Nggak ah. Basah lagi nanti."


"Kalo gitu mandi bareng. Kamu mandi lagi."


"Nggak. Udah habis nih. Mandi sana."


"Ntar dulu. Cappucino aku belum habis."


"Terserah deh. Aku ke dapur dulu."


"Mau ngapain lagi sih. Temani aku disini."


"Mau balikin piring."


"Biar mereka yang beresin. Aku keluar uang untuk gaji mereka kenapa kamu capek capek."


"Nggak papa. Pengen aja."


"Duduk disini aja." Alvin memangku istrinya.


"Jangan gini ah. Nanti ada orang."


"Nggak ada." Pria itu memeluk istrinya dengan erat.


"Jangan terluka lagi. Jangan sakit lagi."


"Mas. Awas ah. Mandi sana."


"Kalo kamu nggak mandiin aku. Aku nggak mau mandi."


"Terserah deh. Kamu juga yang bakal malu."


"Ayo mandi lagi." Alvin dengan tiba tiba menggendong istrinya.

__ADS_1


"Mas apa apaan sih."


"Ututu diam ya." Alvin mencium bibir istrinya agar berhenti mengomel.


__ADS_2