Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Dasar Ara


__ADS_3

Ara menghampiri kedua anaknya yang tengah berada di ruang keluarga. "Lagi sakit jangan makan es krim dong sayang."


"Minta kak Zam sedikit Ibu. Ara pengen."


"Ini. Obatnya di minum dulu."


"Iya Ibu."


"Yang." Alvin datang langsung memeluk istrinya.


"Iya."


"Kita pulangnya agak di undur ya."


"Terserah Mas aja. Aku ngikut."


"Ara. Belum sembuh kamu?"


"Belum. Nanti malem Ibu tidur sama aku ya."


"Nggak. Sakit meriang aja manja. Nggak ada tidur sama Ibu segala. Tidur sendiri."


"Ayah kok nggak mau ngalah."


"Udah deh Yah. Ngalah aja."


"Kamu kok dukung adik kamu Zam."


"Ara kan lagi sakit Yah."


"Pokoknya Ibu tetep tidur sama Ayah."


"Sudah. Sudah. Jangan pada ribut."


"Ibu. Ara pengen makan kolak boleh?


"Boleh. Ibu buatkan. Kalian di rumah dulu ya. Ibu mau ke pasar sebentar."


"Ikut Ibu."


"Kamu lagi sakit. Di rumah saja sama kak Zam. Ibu cuman sebentar."


"Jangan lama lama."


"Iya."


"Ayo berangkat sekarang Yang." Ajak Alvin bersemangat.


"Ayah kenapa? Tumben ke pasar semangat banget."


"Ga papa. Ayah sama Ibu jalan sekarang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Sejak berangkat sampai turun dari mobil Alvin tidak pernah melepaskan genggaman tangannya pada sang istri. Jujur Ia sedikit keberatan jika harus di tempat seperti ini. Tapi demi istrinya Ia rela. "Lepas dulu. Aku mau beli sesuatu nih."


"Nggak mau."

__ADS_1


"Kamu gimana sih Mas. Aku nggak bisa kalo tangan aku kamu genggam terus kaya gini."


"Kalo kamu nolak gini kita pulang aja."


"Ih. Iya iya." Kata Aya terpaksa meladeni tingkah Alvin yang begitu menyebalkan. Semuanya sudah lengkap. Alvin bergegas mengajak istrinya untuk pulang.


"Anak anak lagi ketiduran." Alvin kembali ke dapur setelah melaksanakan perintah sang istri untuk mengecek anak anaknya.


"Aku bantu." Alvin meraih pisau.


"Ini diapain?"


"Potong aja. Kaya yang aku contohin."


"Iya."


"Ara ngapain sih bikin repot aja maunya. Lagian kamu juga. Anak minta apa selalu di turuti." Alvin medumel.


"Selagi aku bisa dan mampu pasti aku turuti Mas. Mereka mintanya juga nggak macem macem."


"Kamu aja yang terlalu sabar Yang. Apa lagi sama orang tua kamu itu. Aku nggak habis pikir. Bisa bisanya kamu tetep baik sama mereka padahal perlakuan mereka ke kamu sudah keterlaluan."


"Semua orang tua punya kesalahan Mas. Aku, kamu pasti juga punya kesalahan juga. Aku nggak mau durhaka. Aku nggak mau ketika aku berbuat salah ke anak nanti aku nggak di maafkan."


" Sayangnya aku sama kamu nggak kaya Mama sama Papa kamu."


"Iya. Jangan sampai."


"Yang. Aku minta maaf. Aku nggak kasih izin mereka ketemu kamu lagi. Aku nggak mau kamu terluka lagi."


"Makasih sudah mengerti." Alvin memeluk istrinya.


"Iya. Tapi jangan peluk peluk. Tangan kamu kotor tuh."


"Maaf. Maaf."


Ara makan kolak buatan Ibunya dengan lahap.


"Puas kamu Ra."


"Iya Yah. Enak banget."


"Bagus. Setelah ini mau minta apa lagi kamu?"


"Mas." Tegur Aya pada suaminya.


"Kamu nggak makan sayang?" Tanya Aya pada Zam yang tengah tidur manja di pahanya.


"Masih kenyang banget Bu. Tadi Zam habis makan donat madu buatan Ibu."


"Adek kamu kok belum kenyang juga."


"Ayah kenapa sih. Masa pertumbuhan makannya harus banyak."


"Bisa aja jawabnya."


"Ibu."

__ADS_1


"Ya sayang."


"Minta cium. Di sini. Di sini. Disini dan disini."


Tunjuknya pada kedua pipi, kening dan hidungnya.


"Apa apaan. Nggak nggak."


Aya tidak mendengarkan protes suaminya langsung mencium Zam di tempat yang sudah di tunjuk remaja itu.


"Ara juga mau." Gadis itu mendekat pada Ibunya untuk mendapat ciuman.


"Kalian berdua benar benar. Minggir. Ayah mau sama Ibu."


"Enggak boleh." Mereka mengeratkan pelukannya pada Aya.


Sudah tengah malam namun Alvin tidak bisa tidur sedaritadi karena sang istri menemani Ara yang sedang tidak enak badan. "Akh...Dasar Ara." teriaknya frustasi sambil mengacak acak rambut. Alvin bergegas menyusul istrinya ke kamar Ara. Perlahan Ia masuk dan mendapati sang istri tengah tertidur pulas di peluk anak gadisnya. Avin berbaring di belakang Aya sambil memeluk sebentar Kemudian duduk lagi. Ia mau hanya tidur berdua dengan istrinya. Dengan susah payah Alvin melepaskan pelukan Ara pada sang Ibu. Setelah dirasa sudah beres Alvin bergegas menggendong Aya ke kamar.


"Ugh..." Aya terbangun dari tidurnya. "Tidur lagi Sayang." Alvin menepuk punggung istrinya dengan lembut.


"Kok aku disini Mas. Aku kan temani Ara tidur."


"Di sini aja."


"Nanti Ara cariin aku."


"Udah tidur sama aku aja. Kamu nggak kasihan aku apa. Aku nggak bisa tidur."


"Ara lagi sakit Mas." Aya bergegas bangun untuk kembali ke kamar anaknya.


"Kok nggak bisa dibuka?" Tanya Aya saat membuka pintu.


"Aku kunci biar kamu nggak keluar. Udah dibilang. Tidur di sini sama aku. Aku nggak bisa tidur Yang." Alvin menggendong istrinya dan membaringkan di ranjang dengan hati hati.


Sebelum istrinya bergerak lagi. Pria itu langsung menyelimuti Aya dan memeluknya dengan erat.


"Mas."


"Ya Sayang."


"Aku lupa minum obat."


"Kok bisa. Tadi kan aku sudah ingatkan. Sebentar aku ambilkan dulu."


"Ini diminum. Lain kali jangan lupa lagi."


"Iya. Makasih."


"Sudah kan? Tidur ya."


"Iya."


Aya merasa kasihan terhadap suaminya yang sepertinya sudah sangat mengantuk. Ia khawatir tidak bisa selalu bersama Alvin. Tentang bagaimana keadaan pria itu nanti jika Aya tak bisa berada di sisinya lagi. Aya membalas pelukan suaminya erat. "Tidurlah Mas. Kamu ngantuk banget. Maaf ya buat kamu ga bisa tidur kaya gini."


"Iya Sayang. Aku nggak papa. Kita tidur. Selamat malam Sayang."


" Selamat malam Mas." Alvin mengecup bibir istrinya lalu memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2