Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Aku Sayang Ibu


__ADS_3

Aya tengah meminta izin kepada suaminya untuk keluar sebentar. "Mas. Aku ke pasar sebentar sama Bibi ya."


"Mau beli apa? Bukannya kemarin sudah belanja ya."


"Mau beli Ubi. Zam minta di bikinkan kelpon sama kolak juga."


"Ayo sama aku aja. Biar Bibi di rumah."


"Ayo kalo gitu."


Aya dengan semangat menggandeng tangan suaminya. Alvin hanya tersenyum melihat tingkah sang Istri.


"Udah. Parkirnya disini aja. Nanti kalo disana mau keluar sulit."


"Kamu jalannya jauh nanti."


"Nggak papa. Ayo turun."


"Iya."


Alvin menggenggam tangan Istrinya. Sesekali Ia memiringkan badannya agar Aya tidak bersentuhan dengan orang yang berlalu lalang.


"Kita kesana Mas."


"Iya. Kamu jalannya pelan pelan. Nanti jatuh."


"Iya."


"Ibu. Saya mau beli Ubinya."


"Yang mana mbak?"


"Kalo yang di pakai kolak enak yang mana?"


"Yang putih aja mbak."


"Oh. Iya kalo yang untuk kelpon?"


"Yang ungu saja. Tidak perlu menambah pewarna nanti."


"Oh. Baik Bu saya mau yang putih 3 kilo yang ungu juga tiga kilo."


"Siap Mbak. Sama apa lagi?"


"Ara tadi mau nangka. Sama nangka juga Bu. Ibu pilihkan ya saya nggak ngerti."


"Omnya juga nggak ngerti?" Tanyanya pada Alvin yang sedaritadi diam.


"Saya suaminya." Jawab Alvin sambil cemberut.


"Oh maaf. Saya kira Omnya." Jawabnya merasa bersalah.


"Udah jangan cemberut gitu." Aya tersenyum melihat suaminya.


"Nyebelin."


"Jangan di ambil hati." Aya menggenggam tangan suaminya.


"Iya."


"Kita beli tahu sama tempe ya Mas."


"Mau apa? Kamu kan alergi."


"Mau bikin tahu, tempe pakai bumbu kacang yang ada petisnya itu."


"Emang doyan?"


"Aku pengen coba aja. Tapi makannya pake kerupuk. Nanti tempe sama tahunya biar anak anak yang makan."


"Iya. Kita beli."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Ibu sama Ayah dari mana saja?"


"Habis dari pasar. Katanya Ara mau nangka, Zam mau kelpon sama kolak."


"Iya. Ibu nggak ngajak kita."


"Enggak ribet ngajak kalian. Sana turunin belanjaannya di mobil bawa ke dapur."


"Iya Yah."


"Ibu mau buat apa lagi? Bukannya semua sudah siap."

__ADS_1


"Ibu mau bikin bumbu kacang dikasih petis. Kata Bibi enak. Ibu pengen coba. Nanti makannya pake tempe sama tahu."


"Ibu kan alergi."


"Khusus Ibu pakai kerupuk."


"Sini Bu. Biar Daniel yang uleg kacangnya."


"Iya."


Selesai sholat magrib semuanya duduk melingkar untuk berbuka.


"Yang. Kamu makan nasi gih. Daritadi makan itu mulu." Tegur Alvin melihat istrinya makan kerupuk dengan sambal.


"Nanti Mas. Enak. Mas mau coba?"


"Suapi." Kata Alvin tak malu bersikap manja di depan semua orang.


"Lurah itu masih cari istri saya?"


"Tidak Tuan."


"Bagus."


"Nanti setelah tarawih jangan pulang dulu. Kita ngaji."


"Iya Ibu."


"Oh iya sayang. Nanti tolong antarkan takjil di masjid kompleks ya. Ibu sudah siapkan."


"Iya Ibu. Kita nanti antar kesana. Kamu juga ikut Niel?"


"Iya kak."


"Ibu mana Zam?"


"Di kamar Ara. Zam juga mau kesana."


Alvin dan Zam bergegas ke kamar Ara.


"Nah itu juga dirapikan dong Sayang. Jangan berantakan begitu. Nanti kamu cari bajunya biar mudah." Suara Aya terdengar dari luar.


"Ada apa Yang?"


"Itu. Ara kamarnya berantakan. Aku suruh beresin."


"Iya Ibu."


"Hah. Akhirnya selesai juga." Kata gadis itu ikut duduk bersama karena pekerjaannya sudah beres.


"Kalo rapi kan enak dilihat. Masa cewek kamarnya kaya kapal pecah."


"Ara buru buru Yah."


"Hm.."


"Tolong bawa es krim ke kamar Ara ya." Kata gadis itu menyampaikan pesan.


"Siapa yang kamu suruh?"


"Daniel."


"Ambil sendiri sana. Suruh suruh orang aja."


"Ara nitip kak. Dia lagi minum di dapur."


"Ini kak Es krimnya."


"cepet banget."


"Iya."


"Bilang apa kalo sudah di ambilin."


"Makasih Niel."


"Sama sama kak."


"Minta Ra."


"Nih."


"Suapi."


"Manja kaya Ayah aja."

__ADS_1


"Kenapa bawa bawa Ayah."


"Kak Zam manja kaya Ayah."


"Biarin." Jawab keduanya bersamaan.


"Daniel nggak mau eskrim Sayang?"


"Enggak Ibu. Daniel habis minum air es tadi."


Jawabnya sambil tersenyum.


Aya tengah berada di kamar Daniel sekarang untuk membantu mengoleskan obat di punggung remaja itu.


"Sudah hampir pudar bekas lukanya sayang."


"Iya Ibu."


"Sudah semuanya. Pakai baju biar nggak kedinginan."


"Baik Ibu."


"Kamar kamu nyaman kan?"


"Nyaman Ibu. Sangat nyaman. Terimakasih."


"Sama sama Sayang. Kamu tidur ya."


"Iya Ibu. Selamat malam." Daniel memeluk Aya.


"Selamat malam sayang." Daniel tersenyum memandangi kepergian Aya. Ia sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Aya dan Alvin. Mereka sangat baik. Apalagi Aya yang perhatian dan memberikan kasih sayang yang tulus pada anak anaknya. Meskipun Daniel bukan anak kandung, namun Aya tidak membedakannya. Wanita itu bersikap adil dengan semua anak anaknya. "Aku sayang Ibu." Gumamnya.


"Kamu lama banget Yang. Aku udah nunggu dari tadi."


"Maaf Mas. Tadi habis bantu Daniel olesin obat."


"Ayo tidur. Aku capek banget hari ini."


"Mau di pijit?"


"Kamu capek nggak?"


"Enggak."


"Yaudah boleh."


Aya memijit suaminya.


"Gimana Mas. Enak?"


"Enak. Enak banget."


"Kamu capek kenapa Mas?"


"Nggak tau juga. Padahal aku gak terlalu banyak kegiatan akhir akhir ini."


"Kamu gemukan ya Mas?"


"Iya nih. Jarang olahraga sekarang, mana makan enak terus. Kamu nggak pernah olahraga juga kurus terus."


"Kan nggak kamu bolehin."


"Kamu kan ada masalah di paru paru. Aku nggak mau terjadi apa apa sama kamu."


"Iya."


"Aku gemuk banget ya?"


"Nggak kok. Cuman lebih berisi aja dari sebelumnya."


"Mulai besok aku mau nge gym lagi."


"Kalo capek nggak usah di paksain."


"Nggak. Nanti kamu ngelirik cowok lain kalau aku gendutan."


"Astaga. Enggak lah."


"Iya kah?" Tanya Alvin menatap istrinya lekat.


"Iya."


"Makasih." Alvin memeluk istrinya erat.


"Tapi aku tetep mau gym. Biar nggak di katain Om kamu lagi. Kamu masih muda gini masa suaminya nggak keren."

__ADS_1


"Terserah Mas." Kata Aya pasrah.


__ADS_2