
Hari ini adalah acara akikah si kembar. Aya tengah sibuk memandikan kedua anaknya dibantu Mommy.
"Anak Ibu nggak cengeng ya. Nggak nangis." Kata Ibu muda itu sambil melilitkan handuk pada anak laki-lakinya.
"Sayang. Biar Mama aja yang gantikan kamu. Kamu siap siap gih."
"Sebentar Ma. Tinggal sedikit lagi." Kata Aya sambil meneruskan kegiatannya.
"Yang. Bajuku mana?" Tanya Alvin menghampiri istrinya.
"Bukannya sudah aku siapkan Mas."
"Nggak ada tuh." Kata Alvin berbohong karena ingin dilayani istrinya. Aya daritadi terlalu sibuk, jadi tidak memiliki waktu untuknya. Tentu dia merasa cemburu.
"Jangan aneh aneh kamu Vin. Cari sendiri sana." Sewot Mommy sambil membaringkan cucunya yang sudah cantik di box bayi.
"Apaan sih kak."
"Yaudah ayo aku carikan." Kata Aya.
Alvin langsung menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar anak anaknya. Ia membawa Aya berjalan cepat menuju kamar keduanya.
"Lah itu ada Mas." Tunjuk Aya setelah keduanya berada di walk in closet.
"Memang ada."
"Tadi katanya nggak ada?"
"Iya. Aku cuman pengen di pakein aja sama kamu."
Aya menghembuskan nafasnya pelan.
"Yaudah lepas dulu baju kamu."
Alvin langsung melepaskan bajunya. Ketika sang istri sibuk melepas kancing. Ia menarik Aya mendekat hingga tidak ada jarak di antara keduanya. Alvin mengangkat dagu Aya hingga keduanya saling bertatapan. Alvin mencium bibir mungil istrinya dan memperdalam ciuman mereka. Tangannya bergerilya membelai lembut paha mulus sang istri. Saat ciumannya ingin turun ke leher. Aya seketika mencubit lengan suaminya.
"Aduh Yang. Sakit." Keluh Alvin.
"Jangan macam macam Mas. Acaranya sebentar lagi di mulai. Aku belum siap siap. Sini pakai baju kamu." Aya membantu suaminya memakai baju.
"Iya iya. Maaf."
Aya hanya diam. Tidak menjawab suaminya.
"Kamu marah Yang?"
"Enggak."
"Kok diam."
"Terus aku harus ngomong apa?"
"Ya apa gitu."
"Udah ah. Aku mau mandi dulu."
Belum sempat beranjak Alvin menarik tangan Aya hingga jatuh ke pangkuannya.
"Ih Mas. Aku mau mandi."
"Aku mandiin."
"Nggak. Lepasin Mas."
"Cium dulu."
"Tadi kan udah."
"Masih kurang."
"Iya iya." Aya menciumi wajah suaminya.
__ADS_1
"Udah aku mau mandi dulu." Kata Aya berlalu meninggalkan suaminya.
Aya tampil cantik dengan gamis berwarna pastel dan hijabnya. Ia menggendong Azzara diikuti Alvin yang menggendong Azzam berjalan di belakangnya. Semua orang menghampiri mereka. Ingin melihat kedua bayi mungil itu.
Beberapa saat kemudian acara akikah dimulai.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga kecil Alvin yang telah lengkap dengan kehadiran kedua anaknya. Ia tak berhenti bersyukur dengan semua nikmat yang telah Tuhan berikan.
"Pinjem Vin." Kata Rio pada sahabatnya itu.
"Pinjem. Pinjem. Emang anak aku barang apa."
"Aku pengen gendong."
"Nggak yakin aku sama kamu."
"Bentar aja."
"Iya iya. Jangan sampai nangis."
Alvin memberikan Anaknya untuk di gendong Rio.
"Nanti kalau besar jangan seperti Ayah ya. Ayah kamu galak."
"Heh apa apaan kamu." Kata Alvin tidak terima.
"Tuh kan. Ayah kamu marah lagi. Kalo besar kaya Ibu kamu aja lemah lembut." Tambahnya lagi memberikan nasihat pada bayi cantik itu.
"Dasar. Pengaruh buruk kamu."
"Apaan sih kalian ga bisa tenang ya." Kata Nenek yang baru saja datang dengan Aya.
"Itu Bu. Rio." Adu Alvin pada Ibunya.
"Alah kalian sama aja." Kata Nenek sambil duduk.
"Aya aku minta satu boleh?" Tanya Rio.
"Aku gemas tau." Kata Rio sambil mengelus lembut bayi mungil yang tengah tertidur pulas di gendongan ibunya.
"Awas kamu jangan dekat dekat istriku." Kata Alvin membuat Rio duduk kembali di tempat semula.
"Kakak Aku pengen gendong."
"Aku juga." Kata Darren diikuti Ano yang begitu antusias.
"Jangan dulu ya. Masih tidur, nanti kebangun. Duduk sini."
Keduanya duduk di samping Aya.
"Ih lucu." Kata mereka mengelus tangan mungil bayi itu.
"Kapan kamu nikah?" Tanya Kakek.
"Entahlah. Nggak nikah mungkin Yah."
"Heh. Kamu kalo ngomong."
"Emang bener. Aku nggak mau nikah. Makannya aku minta anaknya Alvin. Biar ada pewaris."
"Sembarangan."
"Dek, Ara tidurnya tenang banget?" Zahwa mengamati bayi cantik yang di gendong suaminya itu.
"Iya. Mereka berdua memang tenang. Nggak rewel."
"Nggak kaya ayahnya kan?" Tanya Rio membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
"Teman kurang ajar kamu. Kayanya perusahaan yang di Riau butuh manajer deh. Gimana kalau kamu aja yang di sana." Ancam Alvin pada sahabatnya.
"Jangan dong Bos. Aku kan pengen liat tumbuh kembang anak anak kamu. Masa aku di buang ke sana."
__ADS_1
"Jangan memelas begitu jijik aku." Alvin bergidik ngeri melihat tingkah sahabatnya.
"Rio kamu masih sering minum?"
"Udah enggak sekarang. Semenjak aku di nasihatin Istrinya Alvin."
"Nurut juga kamu sama Aya. Kalo kami yang bilang masuk kuping kiri keluar kuping kanan."
"Ya habisnya gimana. Suara kalian ga ada yang enak."
"Kurang ajar kamu." Kata Mommy mencubit lengan pria itu.
"Sakit kak."
"Biarin."
"Vin aku tidur sini ya."
"Ngapain?"
"Ayolah udah lama aku nggak nginep. Semenjak kamu pindah."
"Emang iya. Kamu aja yang suka kelayapan ga jelas."
"Aku kan menghibur diri."
"Mengibur diri atau merusak diri Om?"
"Ya dua duanya sih Yang." Jawab Rio pada Aya membuat Alvin melotot tajam. Semuanya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya yang selalu berdebat jika sudah bertemu.
"Kamu ngomong apa tadi."
"Ah.. maap maap. Mulut emang suka kebablasan."
"Pulang sana. Ga usah ikut ikutan nginep disini segala."
"Jangan gitu dong Vin. Kamu tega banget sama aku."
"Bodo amat."
"Vin..."
"Iya. Iya. Nginep aja. Jangan berisik. Ganggu tau."
"Makasih."
"Hm."
"Halo anak Ibu bangun ya." Kata Aya melihat Azzam membuka mata.
"Bangun kok nggak nangis. Pinter ya anak Ayah." Alvin mengelus lembut pipi anaknya.
"Mom dirumah ada pisang?"
"Kamu mau makan pisang sayang?"
"Pengen pisang goreng."
"Kenapa sih Yang. Makan gorengan bikin tenggorokan sakit tau."
"Pengen aja Mas."
"Biarin Vin. Asal minyaknya aman. Ga bakal bermasalah kok. Nanti Mommy bikinin."
"Makasih Mom."
"Sama sama sayang."
Beberapa orang menatap sendu kedekatan Ibu dan anak itu. Meski bukan yang melahirkan tapi mereka paham jika ikatan keduanya begitu kuat.
"Andai kamu dekat dengan Mama sayang. Tapi Mama sadar ini hukuman untuk Mama karena sudah mengabaikanmu." Batin Mama. Ia merasa jauh dengan putrinya. Meskipun Aya memanggilnya Mama. Namun Aya tak pernah meminta atau sekedar bercerita tentang keluh kesahnya.
__ADS_1