
Dua tahun lebih berlalu. Kehidupan masih sama damainya seperti sebelum sebelumnya.
Alvin menghubungi Istrinya saat dalam perjalanan pulang.
"Yang kamu mau apa? Aku dalam perjalanan pulang nih. Kamu mau sesuatu nggak?"
"Maaf. Assalamualaikum."
.....
"Beneran ga mau apa apa?"
...
"Yaudah. Waalaikumsalam. Love you."
Pria itu tersenyum sesaat setelah menyimpan ponselnya dalam saku jas. Ia memandang ke luar jendela mobil. Sudah terbiasa sekarang. Pikirnya, kini selalu menggunakan salam karena perintah istrinya. Kata katanya sudah tidak kasar lagi. Yang paling penting marah marahnya sudah berkurang. Aya telah merubah sikap Alvin, menjadikan pria dingin dan arogan itu lebih baik.
"Sudah sampai Tuan." Kata sang supir membuyarkan lamunannya.
"Iya pak."
Alvin langsung keluar dari mobil dan memasuki rumah. Ia tak sabar ingin bertemu dengan Istrinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab Aya dan kedua anaknya.
Wanita itu mencium tangan suaminya diikuti Zam dan Ara. Keduanya sudah berumur lima tahun lebih sekarang. Mereka sangat cantik dan tampan. Semuanya mirip Aya, mulai dari hidung , mata, bibir dan semuanya. Alvin juga heran kenapa kedua anaknya tidak ada yang dirinya sama sekali.
"Mas mau mandi dulu?" tanya Aya membawakan kan tas kerja suaminya.
"Iya." sambil merangkul pinggang Aya.
"Aku udah siapin air sama bajunya."
"Temenin Yang."
"Aku..."
"Tuh kan ngebantah Mulu."
"Anak anak."
"Orang di rumah kan banyak."
"Yaudah."
"Sayang Ayah sama Ibu mau ke atas dulu ya. Kalian di sini di temani Bibi."
"Iya Ayah." Jawab mereka patuh.
Alvin tak melepaskan Aya. Ia tetap merangkul pinggang istrinya sampai ke kamar.
"Bukain baju aku Yang."
"Iya." Aya melakukan sesuai dengan perintah suaminya.
"Aku minta cium."
__ADS_1
"Banyak maunya ya. Oke."
Aya berjinjit untuk mencium kening Alvin tapi tak sampai. Alvin tersenyum melihat tingkah lucu istrinya.
"Udah ah. Kamu ketinggian. Aku ga sampai."
"Begini sudah?"
Tanya Alvin menggendong istrinya secara tiba tiba.
"Bikin kaget aja."
"Minta cium."
"Iya iya." Aya mencium kening suaminya.
"Jangan di lepas. Kalo di lepas aku marah." Tutur Alvin saat bibir lembut itu masih berada di keningnya.
Ia berjalan sambil menggendong Aya. Mendudukkan Istrinya dengan hati hati di sofa. Pria itu berjongkok kemudian meraih tengkuk Aya dan mencium bibir mungil itu sambil menyesapnya. Ciuman turus sampai ke dada dan meninggalkan jejak di sana. Alvin membelai paha mulus istrinya. Menelusup di balik dress selutut itu dan bergerak menuju ke atas.
"Katanya mau mandi?" Tanya Aya sesaat sebelum tangan kekar itu sampai ke tujuannya.
"Habis ini. Kita sama sama."
"Kamu belum makan Mas."
"Jangan mengalihkan perhatian. Kamu tega lihat suami tersiksa."
Aya hanya terdiam tidak menanggapi suaminya.
"Aku menginginkanmu." kata Alvin dengan mata berbinar.
"Aku selalu menginginkanmu." Bisik Alvin sensasional dan memulai aksinya.
"Ayah sama Ibu kok lama?" Tanya Ara melihat kedua orangtuanya datang.
"Maaf ya Sayang. Kita makan sekarang ya."
"Mau di suapi Ibu." Kata Zam dan Ara bersemangat.
"Iya. Ibu suapi."
"Kalian udah besar masih manja."
"Ga papa dong Yah. Ya kan Bu?" Aya hanya tersenyum menanggapi kedua anaknya.
"Aku juga minta di suapi Yang."
"Makan sendiri Mas. Tangan aku cuman dua. Buat mereka."
"Tuh kan pilih kasih."
"Sama anak sendiri ko ga bisa ngalah."
"Iya. Ayah kan sudah besar."
"Biarin." Kata Alvin mencubit pelan pipi anak anaknya.
Aya menyuapi kedua anaknya dengan telaten.
__ADS_1
"Yang. Anak anak nanti sekolahnya di pondok pesantren gimana? Umur mereka udah hampir 6 tahun loh. Udah saatnya sekolah. Udah bisa masuk pondok pesantren itu."
"Kenapa tiba tiba punya ide begitu? Kamu nggak lagi punya niat terselubung kan? Kenapa ga di sekolahin di sekolah biasa aja?"
"Itu, biar mereka mandiri aja sama belajar agama." Jawab Alvin sedikit gugup.
"Bener? kalo belajar agama tiap habis sholat magrib kan mereka ngaji juga sama aku sama kamu. Ustadz juga ada buat ajarin agama tiap minggunya."
"Iya. Tapikan kalo di pesantren lebih intens Yang."
"Kalo aku sih tergantung anak anak aja Mas. Kalo mau ya aku dukung kalo nggak juga gapapa. Senyamannya mereka aja. Aku nggak terlalu maksain. Takutnya mereka tertekan nanti."
"Ibu. Maksud Ayah apa?"
"Ayah mau kalian sekolahnya di pondok pesantren nanti. Bukan di sekolah biasa."
"Gamau ah. Zam ga mau di pesantren. Nanti kalo Zam di pesantren, Zam pisah sama Ibu."
"Iya. Ara juga ga mau."
"Ih di pondok temannya banyak tau. Di sana seru. Kalian bisa belajar agama nanti. Seminggu sekali kalian bisa pulang."
" Gamau ah Ayah. Kita belajar agamanya di rumah aja. Nggak perlu di pesantren."
"Kalian coba dulu gimana?"
"Pokoknya gamau."
"Zam. Ara. Dengerin Ayah dulu. Kalian coba dulu. Nanti kelanjutannya gimana terserah. Ayah mohon sama kalian nurut ya. Ayah bahkan udah siapin semuanya. Ayah udah bilang ke pak kyai juga."
"Mas kok nggak bilang bilang."
"Maaf. Kemarin itu juga ketemunya singkat, jadi ga sempat kabarin kamu. Lagian ini cuma untuk latihan aja Yang. Biarkan mereka coba. Mau ya?"
"Ibu..." Rengek keduanya pada Aya.
"Ibu terserah kalian nak. Nyamannya kalian bagaimana."
"Ayolah. Ayah udah daftarin kalian loh. Cuman coba aja. Kalo nggak nyaman. Nanti dibicarakan."
"Yaudah Zam mau."
"Ara juga."
"Beneran?"
"Iya."
"Makasih sayang." Alvin bangkit dari duduk memeluk kedua anaknya.
"Nanti kita kangen Ibu." Mereka memeluk Aya erat.
"Nanti ketemu kok. Kita nanti sering sering kesana jengukin kalian."
"Kita nggak bisa tidur sama Ibu dong."
"Dah lanjut makan lagi." Kata Aya menyudahi kesedihan kedua anaknya.
Alvin tak tega melihat pemandangan seperti itu. Namun bagaimana lagi pilihannya sudah dipertimbangkan secara matang matang.
__ADS_1