Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Pasti Ada Maunya Kan?


__ADS_3

Aya memutuskan untuk pergi ke taman sambil menunggu anak anaknya pulang. Suara tangisan menyita perhatiannya. Perlahan Ia mengikuti suara itu. Anak laki laki seumuran anaknya tengah menangis sesenggukan sambil memegangi kedua lututnya.


"Kenapa menangis sayang?" Tanya Aya sambil berjongkok. Sosok itu mendongakkan kepalanya dengan mata sembab. Ketara jika Ia sudah menangis cukup lama. Wajahnya putih dengan rambut pirang khas orang Eropa. Ia menatap Aya sebentar kemudian memeluk dengan erat. Aya menepuk punggungnya pelan untuk memberikan ketenangan. "Sudah sayang. Jangan menangis lagi." Menggendong perlahan dan memangkunya. Diusapnya air mata itu dengan lembut. "Minum dulu ya. Biar tenang."


Ia mengangguk dan meminum air dibantu oleh Aya.


"Namanya siapa sayang?"


"Daniel."


"Kenapa menangis?" Mengusap rambut Daniel dengan lembut.


"Daniel tidak punya teman. Mereka bilang Daniel anak yang dibuang." Katanya sambil sesenggukan.


"Sudah sudah. Jangan di dengarkan." Aya memeluknya lagi.


"Daniel." Panggil pria itu sambil menata nafasnya yang ngos ngosan.


"Papa." Kata Daniel tidak beranjak dari pangkuan Aya.


"Xiānshēng. Nǐ shì dānní'ěr de bàba ma?(Tuan. Anda papanya Daniel?)" Tanya Aya pada pria yang pernah ditemuinya itu.


"Iya Nona. Saya papanya Daniel." Aya sedikit terkejut dengan jawaban pria berwajah oriental itu.


"Ah saya kira anda tidak bisa bahasa Indonesia. Maaf Tuan."


"Tidak masalah. Boleh saya duduk?" Katanya sambil tersenyum.


"Silahkan." Aya menggeser tubuhnya agar memberi jarak.


"Daniel kamu kenapa?"


Daniel hanya menggeleng dan memeluk Aya lebih erat.


"Biarkan tenang dulu Tuan."


"Baiklah. Saya Felix." Memperkenalkan diri.


"Aya." Sambil menerima uluran tangan Felix untuk bersalaman.


"Bahasa Mandarin Nona bagus. Namun wajah Nona bukan keturunan China. Malah cenderung keturunan Eropa." katanya menelisik wajah cantik Aya dengan bola mata biru kehijauannya serta rambut coklat dan kulit putih.


"Saya belajar sedikit waktu masih sekolah dulu."


"Oh."


"Nona disini sedang apa?"


"Saya sedang menjemput anak anak saya. Tapi masih belum selesai. Jadi saya menunggu disini."

__ADS_1


"Anak Nona bersekolah disini juga?"


"Iya."


"Saya kira anda belum menikah. dilihat dari penampilan anda seperti orang yang belum bersuami."


"Saya sudah menikah 6 tahun lebih." Jawab Aya sambil tersenyum.


Felix menghembuskan nafasnya pelan.


"Saya tau tentang kebingungan anda Nona." Melihat ekspresi Aya yang sedikit keheranan dengan tidak adanya kemiripan antara Daniel dan dirinya.


"Saya..."


"Daniel bukan anak kandung saya." katanya cukup leluasa bercerita karena Daniel tertidur sekarang.


Aya hanya diam. Menunggu orang itu melanjutkan kata katanya.


"Saya dulu menikah dengan orang yang sudah menemani saya dua tahun lamanya. Kemudian kami bercerai. Sebenarnya saya belum mau menikah saat itu. Tapi Ibu dari mantan istri saya terus mendesak untuk segera menikahi putrinya karena beliau sedang sakit keras. Kami akhirnya menikah dan tak berapa lama kemudian ibu dari mantan istri saya meninggal. Rumah tangga kami awalnya baik baik saja sama seperti pasangan pada umumnya." Ia menjeda sambil menghela nafas kemudian melanjutkan.


"Hingga bulan ke lima pernikahan kami mantan istri saya berubah. Ia sering keluar malam dan suka mabuk mabukan. Dia sudah sibuk dengan dunianya sendiri hingga lalai menjalankan peran sebagai istri. Hingga suatu ketika saya mendapatinya sedang berselingkuh di rumah dengan mata kepala saya sendiri. Mereka berselingkuh di kamar kami dengan laki laki yang saya duga sudah menjalin hubungan lama dengan mantan istri saya. Saat itu juga saya langsung menceraikannya. Beberapa bulan kemudian dia hamil anak dari pria itu. Lama tidak saling berhubungan. Saya pun sudah melupakannya. Hingga suatu ketika saya mendapati bayi di depan rumah saya. Ia meninggalkan Daniel dengan selimut dan beberapa keperluan lainnya. Hingga Daniel sebesar ini. Ia juga tidak pernah melihat ibunya. Saya menyayangi Daniel meskipun bukan darah daging saya sendiri."


Aya sampai meneteskan air mata mendengar ceritanya.


"Hati Tuan sungguh mulia. Jarang orang yang bisa ikhlas seperti ini. Semoga Tuan selalu dalam perlindungannya dan diberikan kebahagiaan. Hidup memang sulit Tuan. Tapi percayalah Tuhan mempunyai rencana baik di baliknya."


"Terimakasih Nona. Saya lega bisa menceritakan semua penderitaan saya."


"Assalamualaikum Ibu." Zam dan Ara menghampiri Ara dan mencium tangannya.


"Waalaikumsalam sayang. Pelan pelan. Ada yang tidur ini."


"Maaf." Kata mereka sambil berbisik. Felix hanya tersenyum melihat interaksi mereka.


"Sapa omnya dulu sayang."


"Halo Om." Mereka mencium tangan Felix bergantian.


"Halo juga. Kalian pintar. Namanya siapa?" Felix mengusap lembut kepala kedua bocah yang sangat mirip dengan Aya tersebut.


"Zam dan Ara Om."


"Ibu. Ayo pulang. Zam mau mandi. Sudah gerah."


"Iya sayang." Kata Ay bangkit dari duduknya.


"Terimakasih sudah mendengar cerita saya Nona. Maaf merepotkan." Kata Felix.


"Tidak masalah Tuan." Aya memberikan Daniel untuk digendong papanya.

__ADS_1


"Saya permisi dulu Tuan."


"Kami pulang dulu Om."


"Iya hati hati." Mengamati kepergian Aya sambil tersenyum.


"Yang. Tolong pijitin kepala aku dong." Manja Alvin sambil menidurkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Iya." Aya mulai memijat kepala suaminya dengan nyaman.


"Anak anak mana Yang? Sepi banget. Biasanya nempel terus sama kamu. Dah kaya perangko."


"Lagi sholat."


"Oh."


"Mas. Yang di kardus atas meja itu apa?"


"Oh itu keperluan kamu. Aku lupa tadi mau taro kamar."


"Perasaan sabun mandi sama semuanya masih banyak."


"Biarin. Saking sayangnya aku sama kamu begitu. Masih banyak juga aku belikan."


Aya terkekeh mendengar celotehan suaminya.


"Kamu sayang aku ya Mas?"


"Iya lah Yang. Pake di tanya lagi."


"Mas." Panggil Aya dengan nada manja.


"Iya sayang. Pasti ada maunya kan? Ngomong aja. Kamu minta tanah berapa hektar juga aku belikan sekarang."


"Bener?"


"Iya." Mengecup bibir Aya dan kembali ke posisi semula.


"Tapi aku nggak mau itu. Aku cuma pengen coba mie pangsit."


"Nggak ah..." Kata Alvin mendudukkan diri.


"Oh ayolah Mas. Sekali aja. Kata Om Rio enak. Aku belum pernah coba. Kamu katanya kaya banget. Masa beliin Istri mie aja ga mampu."


"Bukan begitu. Aku beli pabriknya sekalian juga bisa. Tapi jangan mie Yang. Ga sehat tau."


"Boleh ya Mas. Please..." Menampilkan puppy eyes nya. Jika begini Alvin akan luluh dan tidak tega.


"Baiklah." Katanya membuat Aya sangat bahagia. "Cium dulu." Alvin memberi syarat tak mau merugi.

__ADS_1


"Iya." Aya mencium kening dan pipi suaminya. Alvin meraih tengkuk istrinya dan mencium bibir Aya dalam dalam.


__ADS_2