Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Daniel Belum Pernah Puasa


__ADS_3

Darren dan Ano berkunjung ke rumah Aya karena libur hari ini.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Wih kalian datang."


Kedua pemuda itu memeluk kakaknya bersamaan.


"Kita kangen sama kakak?"


"Kemarin baru ketemu. Kakak kan nginep juga di rumah Mommy."


"Hehe...Tapi kangen."


"Eh iya. Om Alvin mana?"


"Disini. Tanya tanya ngapain? Mau kasih uang?"


"Masih butuh uang? Bukannya udah kebanyakan ya."


"Uang siapa yang mau nolak?"


"Kakak nggak mau uang."


"Iyalah. Uang itu nyenengin tapi bikin pusing. Udah ah. Duduk dulu daritadi masa berdiri mulu."


"Om Darren sama Om Ano kapan datang?" Ketiga remaja itu mencium tangan keduanya bergantian.


"Baru aja."


"Kalian kapan nikah?"


"Masih muda. Ditanyain Mulu kapan nikah. Santai aja kali. Tuh Om Alvin aja juga nikahnya umur 36. La kita baru 23. Masa di suruh nikah aja."


"Jangan contoh Om kamu."


"Kenapa Yang?"


"Nikahnya ketuaan."


"Kan nunggu kamu lulus dulu."


"Tau ah."


"Mau kemana?"


"Siapin makan siang."


"Ara bantu Ibu."


"iya. Ayo."


"Daniel susul Ibu ke dapur ya Om."


"Iya Niel."


Darren menyesap tehnya dan menaruh cangkirnya lagi. Pemuda itu menghela nafasnya pelan.


"Kamu sama Daniel gimana Zam?"


"Nggak gimana gimana. Biasa aja."


"Kamu setuju punya saudara lagi? Katanya dulu kekeh nggak mau punya adik."


"Gimana lagi Om. Zam juga kasihan. Asal Zam sama Ara mendapat kasih sayang yang sama dari Ibu. Zam nggak masalah."


"Ibu kamu adil Zam."


"Iya Yah. Ibu adil sama semua anaknya." Kata Zam membenarkan.


"Ya. Habis sholat gitu kalian tambah ganteng." Aya memuji kedua adiknya.


"Iya dong. Kakak masak apa?"


"Duduk. Kita makan. Kakak masak ayam kecap, udang asam manis, kentang balado, sama ini yang nggak boleh ketinggalan. Tumis daging."


Jelas Aya sambil menyiapkan nasi untuk semuanya.


"Masakan kakak enak. Nggak pernah berubah."


"Itu mulu. Nanti bawa pulang ya. Kakak udah siapin."

__ADS_1


"Beres."


"Perusahaan gimana No?"


"Baik. Semuanya lancar. Tapi kemarin aku baru pecat beberapa karyawan."


"Kenapa?"


"Ah. Godain orang mulu. Aku jadi risih. Emang Om nggak gitu?" Sambil melirik Aya.


"Mana berani."


"Ibu. Zam mau udangnya lagi."


"Ini." Aya mengambilkannya untuk Zam.


"Ara sama Daniel mau lagi?"


"Sudah cukup Bu."


"Ara mau."


"Iya."


"Kalo kamu di kampus gimana?"


"Biasa aja. Nggak ada yang luar biasa."


"Nggak di deketin mahasiswa kamu?"


"Ada beberapa. Aku cuek aja. Aku nggak suka cewek agresif."


"Temen kita suka sama Om ya Ra."


"Iya. Pernah tanya no WA juga."


"Jangan kalian kasih."


"Iya iya Om."


Ketiga remaja itu tengah bermanjaan bersama Ibunya di ruang keluarga setelah Darren dan Ano pulang.


"Ibu. Puasa kapan?"


"Dua hari lagi."


"Iya. Daniel kamu puasa nggak?"


"Daniel belum pernah puasa. Tapi tahun ini Daniel mau puasa full."


"Bagus itu."


"Yang. Ikut aku yuk." Alvin menghampiri istrinya.


"Kemana?"


"Kasih sumbangan ke panti asuhan. Kalian di rumah aja. Atau main kemana juga boleh."


"Iya Yah."


"Sebentar Mas. Aku ganti baju dulu."


"Iya."


Keduanya turun dari mobil di sambut gembira oleh anak anak disana.


"Ibu...."Semuanya berhambur memeluk Aya.


"Pelan pelan sayang. Nanti jatuh. Ini Ibu bawakan makanan. Bawa masuk ya."


"Iya Ibu. Terimakasih."


"Sama sama Sayang."


Alvin menggandeng istrinya untuk bertemu dengan pengurus panti asuhan.


"Mas. Kita mampir ke swalayan dulu ya. Ini mau bulan puasa. Kita beli kurma."


"Eh iya udah mau puasa. Cepet banget."


"Dua hari lagi."

__ADS_1


"Mau beli apalagi?"


"Nggak tau juga. Masih bingung. Sirup mungkin."


"Ok." Alvin memarkirkan mobilnya di depan swalayan. Ia turun bersama istrinya. Pria itu tak melepaskan gandengan tangannya dari Aya.


"Mas. Kita nggak lagi nyebrang."


"Biarin. Nanti kamu Ilang lagi. Ayo masuk."


Aya hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya.


Aya memasukkan kurma, sirup, kacang almond, dan banyak kebutuhan lain di troli belanja.


"Ini apa Yang?"


"Itu kismis."


"Oh. Aku kira kurma. Kok kecil kecil."


"Apa yang kurang lagi Yang?"


"Kamu mau baso nggak Mas? Aku pengen."


"Boleh. Emang udah ada kuahnya juga?"


"Belum. Kita masak sendiri kuahnya di rumah."


"Oh. Ambil yang banyak." Kata Alvin menuruti semua keinginan istrinya.


Anak anak dengan sigap membantu menurunkan belanjaan dari mobil.


"Ibu belanja banyak banget."


"Mau puasa. Kebutuhannya banyak. Kalian sudah sholat?"


"Sudah. Ini imamnya." Ara memeluk Zam.


"Bagus. Ibu seneng dengarnya."


"Ibu Ini kurma?"


"Iya. Kalian mau? Makan saja." Aya membukakan bungkus untuk anak anaknya.


"Kamu mau Mas?"


"Boleh."


"Gimana?"


"Enak Ibu. Daniel suka. Daniel baru pertama kali makan."


Alvin menggenggam tangan istrinya. Wanita itu hampir saja meneteskan air matanya.


"Makan sepuas kalian. Masih banyak kok."


"Makasih Ibu."


"Sama sama Sayang."


Alvin memeluk Aya yang tengah berdiri memandang langit dari balkon kamar.


"Sayang."


"Iya Mas."


"Kamu melamun?"


"Enggak."


"Aku tahu ada yang kamu pikirkan. Coba cerita."


"Mas." Aya berbalik dan memeluk suaminya sambil menangis.


"Aku berdosa nggak sih sama Mama sama Papa. Aku anak durhaka yan Mas?"


"Kenapa ngomong begitu? Hey. Sayang. Kamu jangan nangis."


"Aku nggak pernah kunjungi mereka. Aku anak durhaka ya Mas?"


"Kamu anak baik Sayang. Jangan bilang begitu. Mereka membahayakan keselamatan kamu. Kamu bukan anak durhaka. Mereka yang nggak baik sebagai orang tua. Tenang ya. Jangan di ambil perasaan."

__ADS_1


"Tapi Mas."


"Sudah. Mas sudah bilang. Ini demi keamanan dan keselamatan kamu. Mas nggak mau kamu terluka lagi. Sudah jangan nangis lagi." Alvin mengusap air mata istrinya dengan lembut.


__ADS_2