
Kehidupan Alvin begitu sempurna. Anak anaknya tumbuh dengan baik dan ditemani istri yang selalu berada di sampingnya. Alvin tak berhenti bersyukur. Semua rintangan yang Ia lewati bersama sang istri dapat terselesaikan dengan baik. Semua ujian cinta yang mereka alami adalah sebagai pelajaran dan kisah yang akan menjadikan mereka saling menguatkan satu sama lain. Alvin menggandeng tangan istrinya untuk ikut bergabung dengan para keluarga yang sudah berkumpul lengkap di ruang tengah.
Hari ini adalah hari ulang tahun pak direktur Ano. Namun entah mengapa malah dirayakan di rumah Aya.
"Ano. Udah jadi direktur nggak mau keluar uang."
"Apa sih Om?"
"Kamu ulang tahun harusnya beliin kita tiket buat liburan dong. Malah ngerayain di sini lagi. Mana yang siapin istri aku semua."
"Biarin Mas. Kamu pelit amat."
"Denger tu Om. Lagian juga ga pake uang Om. Pakek uang kakak."
"Iya."
"Gimana kadonya? Seneng?"
"Seneng banget. Makasih semuanya. Jadi nggak perlu keluar uang buat beli beli lagi."
"Dasar perhitungan." Darren menonyor kepala saudaranya.
"Kapan kalian berdua...."
"Plis kak. Jangan tanya kapan nikah." potong Ano.
"Iya nih kakak. Buru buru amat."
"Kalian udah dewasa. Cewek aja nggak punya."
"Ih Mommy juga ikut ikutan."
"Om nggak punya pacar ya?"
"Kaya kamu punya aja."
"Kita masih muda. Apalagi Daniel, dia baru rayain ulang tahunnya kemarin."
"Om juga masih muda tau."
"Muda juga nikah nggak papa."
"Ah Daddy lagi nambah nambahin. Aku nanti nikah kalo udah siap sama udah punya calonnya. Kalo belum, mau nikah sama siapa? Sama cewek orang?"
"Nggak usah cari penyakit." Alvin menepuk bahu ponakannya.
"Kak."
"Ya."
"Hari ini aku ulang tahun. Aku punya hadiah untuk kakak sebagai rasa terimakasih aku karena kakak udah jadi kakak yang terbaik untuk kita."
"Kalian patungan?"
__ADS_1
"Ah diungkit lagi. Iya kita patungan. Hadiahnya emang agak mahal. Tapi sumpah demi apapun aku nggak ngambil uang perusahaan kok."
"Ya sampai kamu ngambil. Daddy nggak segan buat coret kamu dari ahli waris."
"Enggak Dad."
"Kalian tabung aja. Nggak usah kasih hadiah buat kakak segala."
"Buat kita nggak ada Om?"
"Ada. Untuk kalian Om traktir sepuas kalian. Mau minta apapun Om kasih."
"Boleh makan pizza, burger, kentang goreng?"
"Boleh. Pesen sepuasnya."
"Ok." Kata mereka langsung memesan.
"Hadiahnya ada di depan. Ayo kak." Ano dan Darren menggandeng tangan kakaknya untuk diajak ke depan.
Aya begitu takjub dengan mobil Mclaren F1 LM-Spec Supercar yang terparkir di halamannya.
"Kalian?"
"Itu untuk kakak."
"Kakak nggak bisa terima. Ini berlebihan."
"Apa perlu kita sujud si kaki kakak agar kakak mau terima pemberian dari kita?"
"Enggak. Kita sayang kakak. Makannya kita belikan ini untuk kakak."
"Makasih." Aya memeluk kedua adik yang begitu Ia cintai.
"Cium juga dong."
"Iya." Wanita itu mencium adiknya bergantian.
"Kalian nggak bandit uang perusahaan beneran kan?"
"Enggak Om. Astaga."
"Kalian kan bisa tabung uangnya. Nggak perlu belikan kakak mobil seperti ini."
"Biarin sayang. Itu keinginan mereka."
"Tapi Mom."
"Sudah. Terima saja biar mereka lega."
"Iya Dad."
Selesai makan siang semuanya mengobrol. Rencananya hari ini akan menginap di rumah Aya. Untung saja Aya sudah masak super banyak sebelum mereka datang. Ketiga remaja itu tengah asyik makan pizza dan makanan lainnya yang baru saja datang.
__ADS_1
"Ibu nggak boleh makan?"
"Tanya Ayah."
"Yah. Ibu nggak boleh makan?"
"Nggak. Nanti perutnya sakit lagi."
"Boleh lah Mas. Sedikit aja."
"Sedikit."
"Makasih Mas."
Aya mulai makan disuapi anak anaknya setelah mendapat izin dari sang suami.
"Enak. Masih anget lagi. Kalian nggak mau?"
"Enggak kak. Kenyang banget."
"Jangan tidur disini. Tidur di dalam sana."
"Iya Om." Darren dan Ano masuk ke dalam karena mengantuk.
"Oma sama Opa tadi kemana Bu?"
"Lagi istirahat."
"Oh." Kata mereka melanjutkan makan.
Alvin memeluk istrinya dari belakang. Ia mengecup leher Aya beberapa kali kemudian membalik tubuh istrinya dengan cepat dan mencium bibir menggoda itu.
"makasih atas semuanya." Kata Alvin menatap istrinya dalam dalam. Posisinya kini tengah duduk sambil memangku Aya.
"Terimakasih telah menyempurnakan hidupku. Membuat aku lebih baik. Membuat semuanya jadi indah."
"Aku juga berterimakasih banyak sama Mas. Sudah menjaga aku dan anak anak dengan baik. Menjadi suami yang siaga dan penuh tanggung jawab."
Alvin menggendong istrinya dan membaringkan di ranjang dengan hari hati. Pria itu tak berhenti tersenyum sambil bergerak melepas semua pakaian yang menghalangi keduanya. Alvin menyusuri setiap inchi tubuh sang istri yang begitu harum memabukkan. Aya menggeliat ketika di bawah sana telah basah karena ulah suaminya. Alvin mengecup dan menjilat milik sang istri yang sudah basah. Ia memasukkan miliknya dan memompanya mengikuti irama *******.
"Ah...ah...Sayang...ah." Kata Avin dengan nafas terengah engah. Ia mendudukkan tubuh istrinya tanpa menghentikan kegiatan yang Ia lakukan. Ia memeluk tubuh Aya yang sudah penuh keringat.
"Mas...ah..." Aya membalas pelukan suaminya erat.
Alvin menghentikan aksinya setelah beberapa kali mencapai *******. Ia belum puas dan tak akan pernah puas. Namun melihat istrinya kelelahan Ia merasa kasihan.
"Mau lagi?" Tanya Alvin sambil menghisap benda kenyal milik istrinya.
"Capek..."
"Istirahatlah." Alvin membawa Aya untuk tidur di dadanya. Tubuh mereka sama sama polos. Sentuhan antar kulit dengan istrinya membuat Alvin begitu nyaman.
"My Beloved Little Wife." Kata Alvin mendekap istrinya erat.
__ADS_1
-Tamat-