
Alvin merasa aneh karna sebelum berangkat kerja Istrinya memeluk dia lama.
"Kamu kenapa Yang. Nggak biasanya."
"Nggak papa Mas. Pengen aja. Kamu hati hati ya."
"Iya. Nanti aku cepet pulang kok. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alvin masuk ke dalam mobil setelah mencium istrinya.
Setelah keberangkatan suami dan anak anaknya Aya memutuskan untuk masuk ke dalam. Perasaannya aneh sejak bangun tidur tadi. Entah apa yang akan terjadi Ia hanya bisa pasrah dan berlindung kepada tuhan.
Aya beranjak dari duduknya karena merasa bosan. Ia ingin berjalan jalan sebentar di kebun buah. Wanita itu berjalan dengan santai sambil melihat sekeliling. Tiba tiba dua sosok pria datang dan membekap mulutnya. seketika pandangan Aya menggelap dan tak sadarkan diri.
Alvin sedaritadi menghubungi istrinya tidak diangkat. Mengecek dari CCTV rumah juga tidak bisa. Entah kenapa tiba tiba alat pantau yang ada di rumah semuanya tidak berfungsi. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres dengan semua ini. Mau minta tolong ke Rio. Pria itu tiba tiba juga menghilang entah kemana. Dua hari ini Ia tidak masuk kerja. Hanya memberi kabar jika cuti namun tidak memberi keterangan dengan jelas. Alvin membuka ponselnya Ia akan mengecek keberadaan Aya lewat GPS yang terpasang di kalung wanita itu. Posisi Aya sekarang tidak ada di rumah melainkan di rumah Rio. "Kenapa ada di sana?" Alvin merasa khawatir tidak karuan langsung menuju ke lokasi.
Sosok wanita terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Kakinya terikat dan kedua tangan juga terikat di sisi ranjang.
"Kita lakukan sekarang?"
"Tunggu dia sampai bangun. Kita akan bernegosiasi dulu."
"Negosiasi apa lagi? aku sudah tidak sabar."
"Ada lah. Ikuti saja saranku. Lagipula jika kau melakukannya sekarang. Kau tidak akan mendengar desahannya yang indah."
"Iya juga. Kita tunggu sampai dia bangun."
"Bagaimana jika Alvin datang."
__ADS_1
"Dia tidak akan tau. Jam tangan Aya sudah kita tinggalkan di rumahnya kan."
"Kau yakin? Pria itu selalu mempunyai rencana cadangan yang tak terduga."
"Tenang saja." Rio mendekat dan mengelus sisi wajah Aya dengan lembut.
"Selembut ini. Aku baru pertama kali menyentuhnya. Dari dekat semakin cantik."
"Aromanya sangat menenangkan. Pantas saja Alvin minta jatah setiap hari. Dia begitu sempurna." Kata Darwin menciumi leher Aya.
Aya mengerjapkan matanya merasakan belenggu yang menjeratnya saat Ia benar benar tersadar. Kini dua orang pria sudah berada di sisinya. "Om. Apa yang kalian lakukan?"
"Oh ayolah. Kita akan bersenang senang ok."
"Istighfar Om. Lepaskan aku. Aku istri sahabat Om." Aya sudah menangis.
"Oleh karena itu. Kami dan Alvin seperti saudara. Kami terbiasa berbagi termasuk berbagi istri. Tidak apa kan?"
"Ayolah sayang. Kau hanya punya dua pilihan. Melayani kami setiap hari dan kembali ke suamimu atau kami akan membawamu pergi."
"Tidak. Yang boleh menyentuhku hanya suaminya. Kalian tidak berhak."
"Oh begitu ya. Tapi sayangnya hari ini akan kami lakukan. Kami sudah menunggu momen ini sangat lama. Kamu mau sama siapa dulu. Aku atau Darwin? Atau mau kita lakukan bersamaan?"
Aya hanya bisa menggeleng. Ia menangis sejadinya. "Kenapa kalian tega?" Gumamnya pelan. Kedua pria itu mulai menciumi wajah Aya kemudian turun sampai ke leher. Aya menangis dalam diam berdoa semoga suaminya datang kemari dan menolongnya. Rio membuka pakaian atas Aya. Hanya menyisakan tank top sehingga memperlihatkan kulitnya yang putih mulus. "Sangat indah." Rio meraba dengan lembut leher Aya sampai ke lengan. Kedua Pria itu menciumi dan menjilat leher Aya meskipun wanita itu meronta ronta.
"Bunuh saja aku. Jangan lakukan ini." Mohon Aya di sela sela tangisnya.
"Mana kita tega. Jika kami membunuhmu kami tidak akan melihat kamu lagi. Kami tidak akan bisa memelukmu seperti ini." Rio dan Darwin berdiri dan membuka jas dan kancing kemeja mereka. "Jangan menangis ini akan menyenangkan. Kau puas kami juga puas. Kami akan antar pulang sebelum suamimu datang. Di hari berikutnya kami akan menjemputmu dan kita akan lakukan ini lagi sayang."
"Bukan hanya Alvin yang memilikimu sekarang. Kami juga akan memilikimu."
__ADS_1
Alvin menerobos memasuki rumah Rio. Ia sudah mengecek semua ruangan namun tak menemukan istrinya. Satu satunya ruangan yang belum di periksanya adalah ruang bawah tanah. Alvin langsung melangkah menuju ke sana.
Suara tawa menggema sampai keluar dari ruangan karena pintunya sedikit terbuka. Alvin yakin itu suara Darwin dan Rio. Ia bergegas masuk ke dalam membanting pintu sampai terbuka lebar.
"Dasar brengsek." teriak Alvin penuh amarah melihat keadaan istrinya seperti itu dan kedua lelaki sialan yang hendak mencumbu miliknya.
Alvin memukuli kedua orang itu tanpa ampun. Mereka juga tidak melawan. "Apa yang kalian lakukan ha? Aku akan membunuh kalian."
"Kami hanya merealisasikan konsep berbagi. Kau bisa mendapatkannya kenapa kami tidak? apapun yang kau inginkan selalu kau dapatkan."
"Istriku bukan barang. Dasar sialan. Sudah kau apakan Istriku ha?" bentak Alvin pada keduanya.
"Baru kami ciumi. Belum ke tahap selanjutnya tiba tiba kau datang." Jawabnya tanpa dosa.
"Kalian akan membayarnya." Alvin melepaskan ikatan pada Aya dan memeluk wanita yang tengah syok itu.
"Mas. Aku minta maaf."
"Kamu nggak salah sayang. Mas yang minta maaf karena lalai menjaga kamu. Tenanglah. Ayo kita pulang. Aku akan mengurus mereka setelah ini."
"Mau aku gendong?"
"Aku bisa sendiri."
Alvin merangkul dan menuntun istrinya untuk berjalan. Baru beberapa langkah. Aya memeluk suaminya dengan erat bersamaan dengan suara tembakan yang menembus tubuhnya. "Aku mencintaimu Mas. Benar yang kau katakan. Aku hanya milikmu seorang." Katanya sebelum memuntahkan darah dari mulut dan memejamkan mata.
"Yang..."
"Bangun..."
"Kamu nggak boleh pergi..." Alvin menangis sambil berteriak. Ia menggendong Istrinya untuk di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Rio telah salah sasaran. Ia malah melukai wanita yang dicintainya. Keduanya hanya menatap nanar kepergian Alvin dan Aya dengan penyesalan.