Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Kamu Ganteng deh...


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Mas." Aya langsung bangkit dari duduknya untuk mencium tangan Alvin yang baru datang.


"Kamu mandi dulu. Aku sudah siapin makan siang."


"Kenapa capek capek. Biar mereka yang siapin."


"Nggak papa. Aku nggak capek kok."


" Anak anak udah pulang?"


"Udah. Mereka ketiduran di ruang keluarga."


"Ayo kalo gitu."


"Kemana? aku tungguin kamu disini."


"Mandiin aku lah."


"Tapi kan..."


"Ayo. Kamu mandiin aku. Terus kita makannya di kamar aja." Alvin menggandeng tangan istrinya.


"Kamu beneran udah makan?"


"Nanti aja. Aku masih kenyang."


"Kok gitu. Kamu harus makan."


"Aku beneran masih kenyang banget. Tadi aku makan puding sama anak anak. Punya kamu di kulkas. Mau di ambilin?"


"Enggak usah. Kamu udah minum obat?"


"Udah."


"Suapi Yang."


"Iya. Baju kamu lepas dulu."


"Kamu pengen aku telanjang."


"Ya nggak gitu. Maksudnya baju Koko kamu itu loh ganti dulu. Ntar kotor."


"Oh kirain. Gitu juga boleh."


"Jangan ngada ngada kamu."


"Sebentar. Aku ganti dulu."


"Iya."


Alvin kembali lagi duduk si samping Aya sambil memeluk pinggang wanita itu.


"Kamu masak sendiri?" Tanya Alvin sambil menguyah makanannya.


"Iya."


"Kok nggak bilang bilang."


"Maaf Mas. Aku boleh masak ya. Aku udah nggak papa?"


"Ga boleh. Kamu nanti kecapean."


"Nggak kok. Emang kamu nggak suka sama masakan aku."


"Mana ada. Masakan kamu paling enak."


"Yaudah. Kasih Izin aku masak dong."


"Iya. Tapi jangan capek capek."


"Iya. Makasih Mas."


"Sama sama Sayang. Cium dulu dong."


"Habiskan dulu makan kamu."


"Sekarang. Ntar kamu lupa."


"Enggak."


"Sekaran di pipi sama kening atau nanti di bibir."

__ADS_1


"Iya." Aya langsung mencium pipi dan kening suaminya.


Aya dan Alvin tengah bersantai di balkon kamar. Wanita itu tiba tiba membalas pelukan suaminya. "Kamu kenapa? Daritadi senyam senyum."


Aya mendongak memperhatikan wajah suaminya.


"Mas. Kamu ganteng deh."


"Udah bilang aja. Mau minta apa. Jangan merayu begitu."


Aya tertawa kecil karena niatnya sudah terbaca.


"Nanti malam beli sate yuk."


"Jangan keluar. Biar aku suruh orang beli."


"Iya."


"Kenapa tiba tiba pengen sate? kamu nggak lagi ngidam kan?"


"Enggak lah. Kamu kan nggak ngebolehin aku punya anak lagi."


"Bukan cuman aku Yang. Anak anak kan juga begitu."


"Kalian aneh."


"Biarin."


"Mas."


"Iya Sayangku. Mau apa lagi?"


"Kapan kita liburan ke puncak?"


"Kalo kamu udah sembuh benar. Kita kesana."


"Aku udah sembuh kok. Gimana kalo Jumat nanti."


"Aku pikir pikir dulu. Aku trauma sama kejadian yang lalu."


"Mereka udah nggak ada. Kamu tenang ya Mas."


"Gimana aku bisa tenang punya istri yang jadi rebutan kaya gini."


"Kamu yang nggak tau. Di belakang itu semua aku berjuang buat dapatkan kamu."


"Masa sih?"


"Iya. Aku aja sewa orang buat jagain kamu biar nggak ada yang berani dekat dekat."


"Kamu nekat."


"Harus. Kalo nggak gitu sekarang yang jadi suami kamu mungkin bukan aku."


"Semuanya takdir. Jodoh, rezeki, maut. Semuanya sudah di gariskan sama Allah."


"Aku tiap malam berdoa semoga berjodoh dengan kamu. Eh Alhamdulillah berjodoh juga. Aku cinta mati sama kamu." Alvin memeluk istrinya lebih erat.


Aya tengah berkumpul dengan keluarga kecilnya di ruang tengah. Sebenarnya tadi ada para pekerja juga untuk di ajak makan bersama. Namun mereka cukup tau diri untuk membiarkan sepasang suami istri dan anak anak untuk menikmati waktu kebersamaan mereka. Alhasil mereka makan di tempat yang terpisah.


"Nah. Untuk kamu Yang. Makannya jangan pakai sambel."


"Ih. Kok gitu. Makan sate ya harus ada sambelnya dong Mas."


"Iya, Ayah ni aneh."


"Biar nggak kepedesan."


"Ini Yah. Kan ada sambel yang nggak pedes Yah."


"Ibu pakai ini ya."


"Iya sayang. Makasih ya."


"Sama sama Ibu." Zam mencium pipi Ibunya.


"Heh. Apa apaan cium cium."


"Kenapa sih Yah. Zam kan cuman cium Ibu."


"Ga boleh. Ini semua punya Ayah." Tunjuknya pada seluruh badan Aya.


"Punya kita juga." Zam dan Ara memeluk Ibunya Posesif.

__ADS_1


"Kalian pindah. Ayah mau sama Ibu."


"Nggak mau."


"Pindah."


"Enggak."


"Sudah ah. Ibu mau makan nih."


"Ara suapi Ibu."


"Ibu bisa sendiri. Kalian makan juga."


"Iya Ibu."


Alvin tiba tiba menarik Ara menjauh dan duduk di samping istrinya.


"Ih Ayah." Katanya sambil cemberut.


"Gantian Ra."


"Ibu mau lontongnya?"


"Boleh, tapi jangan banyak banyak."


"Gimana? enak kan?" tanya Zam setelah menyuapi Ibunya.


"Enak."


"Ibu."


"Iya Sayang."


"Kenapa Om Adam belum punya anak juga."


"Belum di kasih sayang."


"Mau sampai kapan nunggu Bu. Mereka udah nikah lama banget."


"Ya namanya belum di kasih. Yang penting mereka sudah berdoa, menunggu dan berusaha. Selepas itu Allah yang menentukan."


"Dulu salah satu dari kalian mau di ambil untuk dijadikan anak sama Om kalian."


"Bener Ibu?" kaget mereka.


"Iya. Tapi Ibu nggak mau. Anak Ibu harus tumbuh besar bersama Ibu. Ibu nggak mau yang ibu alami dulu terjadi sama kalian."


"Alhamdulillah Ibu nggak kasih izin kita di jadiin anak sama mereka."


"Kenapa? kalo kalian di rawat sama mereka bakal kaya. Kalian bakal jadi pewaris tunggalnya Adam."


"Mau harta sebanyak apapun Yah. Zam nggak bakal bahagia kalau hidup terpisah sama orang tua. Apalagi Zam harus pisah sama Ibu. Zam nggak mau."


"Iya. Keluarga adalah segalanya."


"Tumben Ra kamu bener."


"Ayah jangan mulai lagi. Ara lagi malas debat nih."


"Enggak enggak. Cuma bercanda."


"Sayang Ibu minta sambal kamu." Kata Aya pada anak gadisnya dengan berbisik.


"Heh. Aku dengar ya. Nggak ada minta sambal sambal segala. Sambal kamu yang nggak pedes itu."


"Tapi Mas..."


"Nurut ya." Alvin mencium kening istrinya.


"Yah. Sepeda Zam Ayah taro dimana kemarin?"


"Di garasi lah."


"Tadi Zam cari nggak ada."


"Masa sih. Ntar di cari lagi. Lagian sepeda banyak. Kenapa pake yang itu mulu."


"Itu kan hadiah dari Ibu waktu Zam menang lomba."


"Kita besok sepedahan yuk."


"Kamu nggak boleh ikut." Kata Alvin sebelum istrinya angkat bicara.

__ADS_1


__ADS_2