Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Tidak Ada Spesifikasi Khusus


__ADS_3

"Kamu bisa diem nggak Yang. Aku balikin kamu ke rumah sakit lagi kalo ngeyel. Percuma tadi aku debat sama dokter nurutin kemauan kamu supaya bisa pulang. Ternyata kamu sampe rumah ga mau istirahat."


"Aku pengen lihat..."


"Apalagi yang pengen kamu lihat. Semuanya sudah pulang. Anak anak juga sudah tidur. Mau apa lagi kamu?"


"Kamu kok galak banget."


"Maaf. Aku cuman khawatir sama kamu. Kamu inget kan kata dokter. Harus banyak banyak istirahat." Alvin memeluk istrinya.


"Iya ingat."


"Bagus kalo gitu istirahat aja."


"Pengen nonton."


"Nonton di sini aja sambil tiduran."


"Iya." Jawab Aya menuruti suaminya.


Aya dan Alvin tengah menonton film di kamar. Pria itu membelai lembut kepala sang istri yang Ia sandarkan di dada bidangnya.


"Yang." panggil Alvin lembut.


"Iya."


"Kamu suka laki laki romantis nggak?"


"Enggak."


"Kenapa?"


"Geli aja liatnya." Jawabnya masih fokus ke film.


"Berarti aku sering kasih bunga dan hadiah sama kamu gitu. Kamu juga geli dong?"


"Mau jawaban jujur atau enggak nih?"


"Ya Juju dong."


"Biasa aja."


"Katanya kamu ga suka yang romantis."


"Entah kenapa kalo kamu yang gitu aku biasa aja. Maksudnya nggak seneng juga nggak geli. Biasa aja gitu. Ah pokoknya gitu lah."


"Kamu sukanya laki laki yang gimana emang?"


"Tidak ada spesifikasi khusus."


"Apa apaan begitu? semua wanita kan suka sama tipenya masing masing. Masa kamu nggak ada?"


"Nggak tau Mas. Aku nggak gitu. Seadanya jodoh aja. Kalo dikasih baik ya Alhamdulillah."


"Aku suami kamu. Baik nggak?"


"Baik."


"Beneran?"


"Iya. Tapi kadang juga suka bikin jengkel aja."


"Apa yang bikin kamu nggak suka. Akan aku rubah."


"Kalo di sebutin satu satu bisa sampai subuh."


"Banyak banget dong."


"Ya begitulah."


"Yang paling nggak kamu suka aja. Coba sebutin."


"Kamu suka ngomong kasar di depan anak anak. Umur mereka masih 3 tahun Mas. Suka niruin kebiasaan orang tuanya. Makannya kasih contoh yang baik."

__ADS_1


"Iya. Nanti aku rubah. Ada lagi nggak?"


"Yang paling parah kamu suka marah marah. Kasian tau yang kerja di rumah kita. Tiap hari kamu marahin. Bisa kena mental mereka lama lama."


"Mereka kan salah Yang. Lagian sekarang aku juga udah kontrol emosi aku."


"Iya. Tapikan bisa dibicarakan baik baik. Kalo emosi, di redam Mas. Sabarnya di tingkatkan."


"Iya. Ada lagi?"


"Sementara itu dulu di perbaiki. Yang lain menyusul pelan pelan."


"Apa aja?"


"Ya semuanya. Nggak mungkin kamu nggak ngerti."


"Baiklah."


"Kalo kamu Mas. Sikap aku yang kamu nggak suka apa? Biar kita sama sama saling membenahi diri."


"Apa ya?" Kata Alvin mencoba untuk berfikir.


"Enggak ada kayanya."


"Nggak mungkin. Kalo kamu nggak kritik aku aku nggak akan tau kesalahan aku Mas. Coba di pikir lagi."


"Mungkin kamu sering nggak nurut sama aku. Suka ngeyel kalo di bilangin."


"Terus apalagi?"


"Kamu perhatian sama orang lain. Suami sendiri di cuekin."


"Mana pernah aku cuekin kamu?"


"Iya. Kalo keluarga datang pasti kamu lupain Aku."


"Ya nggak gitu. Aku nggak cuekin kamu kok."


"Iya. Kamu cuekin aku."


Huft...Alvin hanya menghembuskan nafasnya mendengar jawaban sang istri.


"Kamu nggak ke kantor Vin?" Tanya Rio yang sedang sarapan bersama.


"Mau temenin Istri di rumah. Kamu urus deh."


"Tau tuh Om. Padahal aku udah bilang gak papa di tinggal. Tapi mas Alvin ga mau dengerin."


"Maklum Ya. Kamu kan baru aja pulang kemarin." Kata Darwin.


"Dengar kan Yang?"


"Iya. Iya."


"Yaudah kita berangkat dulu."


"Iya hati hati."


"Zam, Ara. Om berangkat dulu ya." Darwin dan Rio mengecup kening keduanya bergantian.


"Iya Om."


"Susunya di habiskan sayang."


"Iya Ibu."


"Setelah sarapan langsung ke kamar ya istirahat."


"Aku pengen duduk di teras belakang deh Mas. Janji nggak bakal ngapa ngapain."


"Yaudah. Boleh."


"Makasih Mas."

__ADS_1


"Sama sama Yang." Alvin mencium kening Istrinya.


Mereka tengah duduk bersantai di teras belakang rumah. Suasananya begitu sejuk. Semilir angin berhembus di pagi hari. Meniup dedaunan yang tumbuh subur di sana.


"Ibu Ara kangen sama Ibu." Bocah itu mengeratkan pelukan kepada Aya diikuti sang kakak.


"Kita kangen makan, duduk, tidur dan main sama Ibu."


"Ibu juga kangen sama kalian."


"Ayah."


"Ya sayang."


"Memang benar waktu itu. Kata Ayah kali kita punya adik sayangnya Ibu ke kita kurang?"


"Iya."


"Enggak kok sayang." jawab Aya cepat.


"Yang benar yang mana?" Tanya Zam kebingungan.


"Semuanya dapat kasih sayang yang sama dari Ibu."


"Kok Ayah bilangnya begitu?"


"Itu karena Adik Zam sama Ara masih bayi. Harus diberi perhatian lebih sama Ibu. Ayah berkata begitu karena Ibu nanti akan lebih sibuk urus adik yang masih belum bisa apa apa. Semasa kecil Zam sama Ara juga begitu."


"Kalo gitu Zam ga mau punya adik lagi."


"Kok begitu sayang?"


"Nanti Ibu akan lebih sibuk dengan Adik. Zam sama Ara nanti ga di perhatikan."


"Tetap di perhatikan kok sayang. Sudah Ibu katakan. Kasih sayang Ibu ke anak anaknya itu sama rata." Aya mengelus lembut kepala kedua anaknya.


"Ikuti program pemerintah Yang. Dua anak aja udah cukup."


"Ada ada aja."


"Kalo kamu tambah anak. Aku juga kurang perhatian. Mereka aja udah menyita waktu kamu. Apalagi tambah satu lagi."


"Kamu aja dah tua masih manja."


"Biarin."


"Ayah. Ayah setuju nggak kalo kita punya adik lagi?"


"Kalian aja dah cukup." Alvin mencubit gemas hidung Zam dan Ara.


"Tuh kan Ibu. Ayah juga ga setuju kita punya adik lagi."


"Kalian memang sama saja."


"Ibu. Kenapa Om Adam belum punya anak?"


"Belum rezekinya sayang. Belum di kasih sama Allah."


"Emang anak itu rezeki ya Bu?"


"Iya."


"Oh berarti Zam sama Ara itu rezeki ya Ibu?"


"Iya. Kalian itu rezeki yang tak ternilai harganya."


"Oh."


"Ibu. Ibu. Ayo ke kebun buah. Sudah lama kita nggak kesana."


"Jangan dulu Ya. Ibu harus banyak istirahat biar cepat sembuh. Nanti kalau sudah sembuh kita kesana."


"Iya Ayah."

__ADS_1


"Ibu istirahat ya. Biar cepat sembuh. Nanti kita temani."


"Iya sayang." Aya memeluk kedua anaknya.


__ADS_2