Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Part 2


__ADS_3

Hy


Ini lanjutan kisahnya ya...


Simak terus sampai selesai.


Zam dan Ara sudah 16 tahun sekarang. Mereka duduk di bangku kuliah. Kedua remaja itu sangat cantik dan tampan serta dibekali dengan otak yang cerdas.


"Assalamualaikum." Si kembar datang menghampiri sepasang suami istri yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Keduanya mencium tangan Alvin dan Aya bergantian.


"Waalaikumsalam. kalian sudah pulang?"


"Sudah Ibu."


"Kalian sudah sholat?"


"Sudah Yah. Tadi waktu di kampus."


"Sudah makan belum?"


"Belum Bu. Nanti saja. Ibu sama Ayah sudah makan?"


"Belum juga. Nanti kita makan sama sama."


"Iya."


"Ibu yang masak atau Bibi?"


"Ibu masak sendiri. Ayah kamu pengen di bikinkan soto."


"Ayah udah tua masih manja aja."


"Wah berani ya. Ayah potong uang jajan kalian."


"Lah kok aku si Yah. Kan yang ngomong Ara."


"Sama aja. Kalian kan kembar. Katanya kalau kembar itu sehati, senasib."


"Ya kalau urusan uang jangan di bawa bawa."


"Bisa bisanya. Udah, kalian mandi sana. Ayah sama Ibu tunggu di ruang makan."


"Iya Yah." Keduanya bergegas pergi untuk melaksanakan perintah ayahnya.


"Yang."


"Iya Mas."


"Emang aku udah tua banget ya?"


"Ya kamu tau sendiri lah umur kamu berapa."


"Kamu nggak akan ninggalin aku kan?"


"Ngomong apaan sih. Jangan ngaco deh."


"Ih. Aku tanya serius. Kamu nggak akan ninggalin aku kan?"


"Nggak kok."


"Makasih." Alvin mencium dan memeluk istrinya erat.


"Ibu. Nanti temenin Ara ke Mall ya."


"Mau beli apa sayang?"


"Mu beli buku."


"Kenapa nggak sama kakak kamu? Zam kan ada."


"Biarin Ayah. Kak Zam nanti juga ikut."


"Trus kalian mau ninggalin Ayah dirumah sendirian?"


"Biasanya kan Ayah ga mau ikut."


"Kalo sama Ibu Ayah mau kok."


"Ayah Bucinnya keterlaluan."

__ADS_1


"Kalian juga manjanya sama Ibu keterlaluan."


"Ya kita kan anaknya."


"Ayah kan suaminya."


"Udah dong. Jangan ribut. Di teruskan makannya."


"Iya Ibu." Jawab mereka patuh.


Seperti yang di janjikan Aya. Ia dan suaminya tengah menemani kedua remaja itu pergi ke mall. Zam dan Ara sibuk memilih buku sementara Alvin dan Aya menunggu sambil duduk. "Mas katanya Om Darwin sama Om Rio lagi di rumah kita."


"Mereka chat kamu."


"Iya. Soalnya chat kamu ga dibalas."


"Ah biarin. Ga penting."


"Jangan gitu ih. Ga baik."


"Paling mereka mau nginep. Udah seminggu ini kan mereka nggak nginep di rumah kita."


"Iya Juga."


"Ayah Ibu. Kita sudah selesai. Ayo pulang."


"Kalian udah nggak mau beli apa apa lagi?"


"Enggak. Semuanya udah lengkap kok."


"Yasudah kita pulang."


"Kita mampir beli bakso sama mie ayam dulu ya Ibu. Daddy sama Papa tadi nitip."


"Ada ada aja mereka."


"Udah Mas. Mampir dulu aja."


"Iya deh. Tempatnya dimana? Tanyain sama Darwin."


"Katanya deket taman Yah. Sekitar 200 meter dari sini."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab Darwin dan Rio yang sedang ngobrol di ruang tengah.


"Nyusahin kalian. Suruh beli bakso sama mie ayam segala. Antriannya panjang banget tau."


"Mas." Tegur Aya pada suaminya.


"Maaf Yang."


"Ya maap Vin, emang disitu terkenal enak."


"Papa sering kesana?"


"Jarang sih sekarang, tapi dulu sering."


"makan yuk. Nanti keburu dingin nggak enak." Ajak Darwin dengan semangat.


Mereka makan bersama sambil mengobrol tentang berbagai hal.


"Jangan banyak banyak sambelnya Yang. Nanti kamu kepedesan."


"Nggak banyak Mas."


"Ibu. Ara mau cobain punya Ibu."


"Ini."


"Suapi."


"Baiklah." Aya menyuapi anak gadisnya.


"Zam mau."


"Ini sayang." Aya menyuapi Zam.


"Udah besar jangan manja."

__ADS_1


"Apaan si Yah."


"Ayah kalian juga manja sama Ibu. Jadi kalian juga boleh manja sama Ibu."


"Diem kamu." Ketus Alvin pada Rio.


"Papa sama Daddy nginep disini kan?"


"Iya dong. Tiga hari ke depan kan libur."


"Masa sih."


"Iya. Kalian belum cek kalender ya."


"Belum."


"Kalian berdua kalo soal libur cepet banget taunya."


"Ya harus dong Vin."


"Mas besok aku mau antar dana ke pondok pesantren."


"Aku antar Yang."


"Gausah. Sebentar aja kok."


"kita ikut ya Ibu."


"Iya."


"Pokoknya aku yang anterin kamu Yang."


"Kenapa sih Vin. Masih cemburu sama ustadz yang ada disana?"


"Harus dong. Kamu nggak liat aja gimana mereka memandangi istri orang."


"Jangan suudzon Mas. Ga baik."


"Bukannya suudzon. Emang kenyataannya begitu Yang. Lagian kenapa nggak di transfer aja sih?"


"Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan ke pengurus. Jadi harus ketemu langsung."


"Itu pondok pesantren yang dulu kan Ibu?"


"Iya sayang."


"Kenapa tanya. Kalian mau masuk pondok pesantren lagi?"


"Enggak Yah. Enakan di rumah bisa sama Ibu tiap hari."


"Kirain. Kalo kalian mau juga ga papa."


"Ih Itu ma maunya Ayah biar bisa berdua sama Ibu terus."


"Tau darimana kalian."


"Ya tau lah. Ayah kan kalo nggak ada Ibu sebentar aja pasti uring-uringan. Makannya nempel terus."


"Kalian nanti kalo punya suami atau istri juga begitu."


"Oma sama Opa nggak gitu."


"Itu beda"


"Udah ah. Jangan ribut mulu. Ayah sama Anak anaknya ngga ada yang mau ngalah. Debat terus tiap hari."


"Kasian kamu Ya. Pasti pusing banget."


"Iya nih Om. Aku juga heran anak sama bapak nggak bisa akur."


"Buang salah satu aja."


"Yah. Jangan dong


"Maaf Ibu."


"Maaf Yang." Mereka memeluk Aya bersamaan.


"Ih bosen. Tiap hari dengerin maaf kalian dan tiap hari juga diulangi lagi."

__ADS_1


"Ibu jangan ngambek dong." Bujuk mereka pada Ibunya.


__ADS_2