
"Mas. Kamu sarapan sendiri sama anak anak ya. Aku sedikit pusing."
"Kamu nggak papa? Ke dokter ya. Dari semalem pusing mulu."
"Ga mau ah. Aku mau istirahat aja."
"Yaudah. Ntar aku bawain sarapan kamu kesini."
"Aku lagi nggak pengen sarapan Mas."
"Pokoknya kamu harus sarapan dan minum obat."
"Terserah Mas aja."
"Kamu istirahat ya. Aku ambilin kamu makan sebentar."
"Iya Mas."
Ara celingukan mencari Ibunya karena dari kejadian itu Ara tidak bertemu Ibunya lagi. Makan malam pun Sang Ibu juga tidak ikut bergabung. Ia ingin minta maaf. Ia sangat menyesal dengan apa yang dikatakannya kemarin.
"Ayah Ibu mana?"
"Lagi tidur. Nggak enak badan."
"Mama sakit Om?"
"Iya. Kalian habis ini berangkat."
"Kita mau pamitan sama Ibu Yah."
"Nggak usah. Nanti Ayah sampaikan. Jangan ganggu Ibu."
"Ayah. Ara mau minta maaf sama Ibu."
"Ibu Tidur. Jangan diganggu."
"Tapi Yah."
"Nggak ada tapi tapian."
"Niel. Kalo kamu bosen bisa keluar atau main sesuka kamu."
"Iya Om. Makasih."
"Yang. Ini sarapannya makan dulu ya." Alvin memasuki kamar. Namun Aya sudah tertidur dengan pulas. Ia menaruh sarapannya di atas nakas. Alvin duduk di sisi ranjang dan mengelus lembut wajah sang istri. "Kamu lelah ya dengan semua yang terjadi?" Tanyanya pelan. Alvin tau betul sebenarnya istrinya capek dan tertekan dengan kejadian yang begitu bertubi tubi. Wanita itu tak pernah mengeluh atau menyalahkan keadaan. "Kamu wanita hebat Sayang. Maaf aku sebagai suami lalai dalam melindungi kamu. Menjadi sosok Ayah yang belum baik buat anak anaknya. Aku kurang tegas pada mereka."
Alvin membenarkan selimut istrinya agar merasa hangat. Tangan istrinya begitu dingin dengan wajah yang pucat.
"Makannya mulut di jaga. Ibu juga sedih lah anaknya sendiri bilang begitu."
"Ara nggak sengaja Kak."
"Kamu nggak bisa kontrol bicara kamu Ra. Kamu kalo di kasih tau orang tua juga ngebantah mulu."
"Ara..."
"Udah Ra. Kakak udah nasehatin kamu berkali kali. Emang kamu aja susah dikasih tau." Zam meninggalkan adiknya di parkiran kampus.
"Mama sakit ya?" Tanya Daniel menghampiri Ara yang sedang duduk sendiri di teras belakang.
"Cuma nggak enak badan sayang. Mama nggak papa."
"Oh. Om mana?"
"Lagi bicara sama temannya di ruang kerja."
__ADS_1
"Mama pucat lo. Istirahat ya."
"Mama tadi kan sudah istirahat."
"Ma. Sekarang Daniel sudah sholat lagi. Meskipun belum lima waktu."
"Bagus itu. Pelan pelan aja. Nanti juga terbiasa. Asal kamu telaten dan ikhlas melakukannya."
"Iya Ma. Makasih ya udah bimbing Daniel."
"Sama sama Sayang." Aya membalas pelukan Daniel.
Aya pulang langsung berlari menuju kamar Ibunya. Gadis itu mengetuk pintu berkali kali namun belum juga di bukakan. "Apaan sih Ra. Jangan ganggu Ibu."
"Ara mau minta maaf sama Ibu kak."
"Nanti aja. Ibu lagi istirahat paling."
"Iya kak. Nanti aja. Mama lagi istirahat."
"Diem kamu."
"Apa sih ribut ribut?" Alvin membuka pintu. Tanpa menjawab Ara langsung masuk ke dalam. "Ibu mana Yah?"
"Lagi sholat."
Gadis itu berjalan cepat menuju ruangan sholat. Ia memeluk Aya sambil menangis keras dan mengucapkan kata maaf dengan sesenggukan.
"Ara minta maaf...."
"Ara nggak sopan sama Ibu."
"Ara jadi anak durhaka."
"Udah jangan nangis lagi. Ibu sudah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Lain kali jangan diulangi lagi. Dan Ibu minta kalo Ara ngomong sama siapapun yang sopan. Ayah sama Ibu nggak pernah ngajarin Ara nggak sopan. Terutama sama Ayah. Kalo dibilangin Ayah di dengarkan dulu. Ayah cuman pengen anak anaknya selamat."
"Iya Ibu."
"Dengerin tuh."
"Kalian berdua juga ada. Sini Ibu pengen peluk."
Zam dan Daniel ikut memeluk Aya. Alvin ikut bahagia melihat kebersamaan mereka.
Sore hari semuanya tengah memetik buah di kebun belakang.
"Ini Om yang tanam?"
"Tukang kebun lah. Masa Om."
"Oh. Itu pisangnya nggak di petik Om?"
"Petik Mas. Bikin pisang goreng enak."
"Iya Ibu. Ara juga pengen. Apalagi di kasih coklat sama keju."
"Iya. Minta Ayah petik gih."
"Yah.."
"Iya iya. Panggil pak Bon."
"Kok Pak Bon? Ayah gitu aja masa ga bisa."
"Yaudah ambilin golok."
__ADS_1
"Iya. Tunggu dulu."
"Ini."
"Bukan gitu Om." Tegur Daniel.
"Kamu tau?"
"Tau. Sini Daniel petikkan."
Daniel dengan cekatan memetik pisang.
"Kok pohonnya di robohkan?"
"Pisang itu berbuah satu kali. Kalo nggak di robohin pohonnya bisa busuk dan bikin pisang yang lainnya nanti ketularan."
"Pinter kamu. Kamu suka berkebun?"
"Nggak dulu waktu kecil suka ikut pak supir pulang kampung. Di sana Daniel belajar banyak." jelasnya.
Mereka makan pisang goreng dengan lahap. "Pelan pelan makannya."
"Iya Ibu."
"Ma. Mama nggak makan?"
"Tenggorokan Mama nggak enak. Takut batuk kalo makan gorengan."
"Sebentar Ara ambilin larutan." Kata Ara langsung melesat.
"Ini Ibu."
"Makasih ya."
"Sama sama Ibu. Ara bukain." Alvin hanya tersenyum melihat tingkah Ara yang begitu cekatan.
"Ibu. Zam pengen pangsit. Kita beli ya."
"Pesen aja Zam. Biar diantar ke rumah nanti."
"Iya Yah. Ayah punya nomernya?"
"Ada di hp Ayah. Nih. Pesen gih biar cepat di anter."
"Iya."
"Punya ibu nggak pake sambel."
"Kok gitu Mas. Pake sambel."
"Sedikit."
"Iya. Kamu pedes nggak Niel?"
"Pedes."
"Ok."
"Sayang. Sama minumnya es kelapa muda."
"Ada yang lain lagi."
"Minumnya pesankan sekalian kaya punya Ibu."
"Iya Yah."
__ADS_1