
Mereka tengah duduk di ruang tengah sambil menunggu Zam dan Ara.
"Kalian berangkat sekarang?"
"Iya. Mau ikut?"
"Nggak deh. Makasih. Kita dirumah aja."
"Kita mampir ke makam Kakek dan Nenek ya Mas."
"Iya."
"Ke rumah Mami juga ya."
"Kemarin kan udah kesana."
"Mami sama Papi yang minta."
"Besok besok aja deh. Nanti kalo kesana pulangnya pasti lama. Kalo nggak suruh nginep juga."
"Yaudah. Nanti aku bilangin."
"Ayah, Ibu ayo pergi." Zam dan Ara menghampiri mereka.
"Kalian dandan aja lama banget."
"Nunggu Ara tuh Yah. Lama."
"Ih. Aku kan cari kaos kaki yang keselip."
"Makannya yang rapi dong. Ibu kan udah sediain tempat buat kaos kaki."
"Iya Bu. Maaf. Lain kali nggak lagi."
"Sudah. Ayo berangkat."
"Kita berangkat dulu ya Om. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Ibu. Udah lama Ara nggak makan nangka."
"Bilang aja mau di belikan."
"Ayah pinter."
"Kamu kalo minta sesuatu berbelit Belit."
"Ih. Kakak juga begitu."
"Nanti kita mampir ke pasar."
"Suruh Bibi beli aja Yang."
"Kenapa sih Mas. Sekalian lewat juga kan."
"Ih aku ga suka. Tempatnya kotor."
"Ayah nanti di mobil aja. Biar kita sama Ibu yang turun."
"Kalian aja yang turun Ayah sama Ibu di mobil. Gimana?"
"Kita mana ngerti."
"Iya nanti Ibu yang beli." Putus Aya agar mereka cepat selesai berdebat.
Sebuah mobil mewah terparkir di halaman pondok. Mereka turun dan berjalan bersama menuju aula pondok.
"Assalamualaikum."
"waalaikumsalam." Jawab semua orang yang berada di dalam.
Alvin sudah dengan muka masamnya karena sang istri yang terus di tatap ustadz yang ada di sana.
"Kalian cantik dan tampan. Sudah lama tidak bertemu." Kata pengurus pondok yang hanya ditanggapi senyuman oleh keduanya.
"Silahkan duduk."
"Terimakasih pak kyai."
"Saya mau mengantarkan dana untuk pondok pesantren. Mohon dananya digunakan untuk pembangunan asrama baru. Karna setiap tahun santrinya bertambah banyak. Takutnya nanti kekurangan tempat." Aya menyerahkan koper di atas meja.
"Baik nak Aya. Terimakasih banyak ya. Saya terima uangnya dan insyaallah kami akan melakukan pembangunannya dengan segera."
"Sama sama pak Kyai."
"Kami pamit dulu pak Kyai."
__ADS_1
"Kenapa buru buru. Baru saja sampai."
"Maaf pak kyai. Anak anak tadi minta dibawa mampir ke pasar. Takutnya nanti kesiangan."
"Yasudah. Sering sering main kesini ya."
"Insyaallah pak. Nanti kalo ada kesempatan kita main."
"Kita pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati hati ya."
"Iya." Alvin langsung menggandeng tangan istrinya untuk cepat cepat pergi dari sana.
"Udah dong Mas. Mukanya jangan di tekuk begitu."
"Iya ni Ayah."
"Biarin. Jangan datang kesana lagi."
"Kok gitu Mas."
"Kamu tau sendiri kan alasannya. Ga mungkin aku jelasin lagi."
"Ayah cemburu Ibu."
"Iya Ibu. Ayah cemburu tuh."
"Sudah sudah. Jangan pada ribut."
Selesai dari makam mereka langsung menuju ke pasar.
"Katanya nggak mau turun Mas." kata Aya melihat Alvin turun dari mobil dan menggenggam tangannya.
"Aku ikut."
"Yang jualan nangka mana Ibu?"
"Itu di depan."
"Kita kesana."
"Kalian minta yang mana?"
"Ibu pilihkan."
"Yang ini Non. Manis dagingnya renyah."
"Yasudah. Yang ini pak."
"Kalian minta apa lagi?"
"Manggis, Duku sama salak Ibu."
"Bilang sama Bapaknya."
"Pak manggisnya 3 kilo, Dukunya sekilo, sama Salaknya tiga kilo ya."
"Iya Non."
"Banyak banget."
"Papa sama Daddy kan ada juga." Jawab Ara.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mami kesini. Sama siapa?"
"Sama Daddy, Sama Darren dan Ano juga."
"Kakak." Darren dan Ano langsung berhambur memeluk Aya.
"Ya...Ya.. Ayo duduk."
"Wi kalian beli apa?"
"Buah. Kebetulan Om Om pada kesini."
"No. Nangkanya bawa ke dapur. Minta Bibi kupasin."
"Ayo Dar.."
"Ngapain. Lagi mau makan manggis ini."
"Bantu bawa."
__ADS_1
"Astaga. Nggak berat itu. Bawa sendiri."
"Ah dasar." Kata Ano bergegas ke dapur.
Mereka berkumpul di ruang keluarga sambil memakan buah buahan. "Kamu hamil lagi ya sayang. Kok beli buah buahan segini banyak."
Alvin tersedak saat menyesap tehnya.
"Hamil apaan?"
"Emang Ibu hamil?"
"Enggak. Ini tadi anak anak yang mau."
"Kirain ada adik lagi buat Zam sama Ara."
"Nggak Mau Oma."
"Kenapa?"
"Kita berdua ada udah cukup."
"Dua aja bikin pusing. Udah itu aja." Kata Alvin.
"Nggak nginep aja?"
"Enggak sayang. Lain kali aja. Daddy masih ada kerjaan di rumah."
"Daddy jangan capek capek dong. Istirahat juga. Jangan kerja mulu."
"Iya."
"Om Darren sama Om Ano nggak nginep?"
"Nggak bisa sayang. Nanti yang temani Oma sama Opa di rumah siapa."
"Mereka kangen nanti sama kita."
"Halah. Kalian. Bisa bisanya."
"Emang iya kan Mi."
"Enggak."
"Kita pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati hati."
Alvin hanya mengamati mereka yang tengah asyik bermain basket di lapangan belakang.
"Ayah nggak ikut?"
"Nggak." Jawab Alvin sambil berteriak. Ia tak menyangka istrinya bisa sehebat itu. Wanita itu beberapa kali tampak cekatan memasukkan bola ke dalam ring. Alvin bangkit dari duduknya sambil membawa sapu tangan. Ia menghampiri istrinya dan mengelap keringat di kening Aya dengan lembut sambil memberi minum.
"Yah. Kalian kalo pengen romantis romantisan jangan di sini."
"Iri ya."
"Nggak. Lebih ke geli aja." Jawab Darwin sambil tertawa.
"Vin kebun buah kamu gimana??"
"Lagi banyak buahnya Pa. Kita kesana yuk."
"Ayo."
"Ini kalo dijual bisa untung Vin."
"Ngapain jual buah. Kaya kekurangan uang aja."
"Yah. Kita boleh bawa mobil sendiri ya."
"Kalian belum punya SIM. Tunggu sampai punya SIM dulu."
"Masih satu tahun lagi. Baru boleh buat SIM."
"Ya itu tau. Tunggu lah."
"Ibu mau kemana?"
"Mau ke dapur. Bikin puding."
"Ara Ikut."
"Ayo."
"Ya bikinin bolu pandan juga Ya."
__ADS_1
"Iya Om." Menyahuti Darwin.