Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Terimakasih Ya Allah


__ADS_3

Suasana lebaran kali ini berbeda dengan adanya Daniel di tengah tengah mereka.


"Mas aku minta maaf ya." Aya hendak sungkem pada suaminya namun Alvin langsung mencegah dan memeluk wanita itu.


"Mas sudah maafkan sayang. Mas juga minta maaf belum bisa jadi Imam yang baik untuk kamu dan keluarga kita."


Aya tersenyum memandang suaminya.


"Kamu sudah menjaga dan melindungi kami dengan baik."


"Udah Yah. Jangan pandang pandangan begitu. Kita juga mau minta maaf."


"Kamu. Ganggu aja."


"Hehe.."Zam sambil nyengir.


"Ibu. Ayah. Zam minta maaf ya belum jadi anak yang baik." Zam sungkem mencium tangan Aya dan Alvin bergantian serta memeluk dan mencium kedua orang tuanya.


"Iya sayang."


"Ara juga minta maaf Ibu, Ayah. Ara suka ga nurut, suka ngebantah." Gadis itu melakukan hal yang sama seperti kakaknya.


"Iya sayang."


"Daniel minta maaf Ibu, Ayah. Daniel merepotkan kalian. Daniel juga berterimakasih atas semuanya."


Daniel melakukan hal yang sama seperti kedua kakaknya.


"Iya Sayang. Kami sebagai orang tua tidak merasa direpotkan sama sekali."


"Daniel minta maaf kak."


"Iya." Keduanya membalas pelukan saudara tak sedarah itu.


"Kita ke rumah Oma. Daritadi sudah telpon mulu."


"Kalian masukin barangnya ke mobil. Ayah sama Ibu tunggu di luar."


"Iya Yah." Jawab ketiganya patuh.


Setelah bermaaf maafan mereka berkumpul untuk mengobrol. Tidak seperti lebaran lebaran yang lalu. Keluarga Aya sudah tidak berkumpul lagi semenjak Kakek dan Nenek Aya meninggal. Tahun lalu Aya yang mengunjungi mereka. Namun, tahun ini tidak. Suaminya melarang karena takut terjadi sesuatu.


"Wih Om badannya udah bagus lagi aja. Kemarin kemarin agak gemukan."


"Dia nge gym Mulu."


"Iya kak?"


"Iya. Tanyain aja kalo ga percaya. Waktu aku buat masak kesita cuma suruh nemenin dia nge gym."


"Om.."


"Kenapa? Sewot aja kamu. Daripada kalian muda ga pernah olahraga. Game mulu."


"Wih nggak tau si Om. Jelasin No.." Darren menyenggol Ano yang sedang sibuk bermanja dengan kakaknya.


"Kita tiap dua Minggu sekali basket tau."


"Alah dua Minggu sekali."

__ADS_1


"Mau cari waktu luang susah."


"Bisa aja kalo ngejawab."


"Kalian nginep kan?"


"Enggak Mom. Kemarin kemarin kan sudah."


"Kenapa?"


"Anak anak pada nggak mau Dad."


"Kalo gitu kamu aja yang nginep. Anak anak biar pulang sama Ayahnya."


"Ga bisa Opa. Ayah mana bisa tidur kalo ga ada Ibu."


"Yaudah. Ayah sama Ibu kalian biar nginep disini. Kalian pulang aja."


"Nggak bisa Om. Kita maunya pulang sama Ayah sama Ibu."


"Om masih kangen sama Ibu kalian."


"Om hampir tiap hari ketemu juga bilangnya gitu." Kata Ara sambil cemberut.


"Ibu, Zam pengen bakso." Katanya setelah sampai di rumah.


"Kamu tadi udah makan kok lapar lagi?"


"Iya Yah. Tadi Zam kan cuman makan sate."


"Siapa yang mau lagi? Ibu buatkan."


"Daniel juga Bu."


"Kamu Mas?"


"Boleh."


"Kalian bersih bersih dulu. Ibu buatkan."


"Iya Ibu."


Aya menyiapkan makan di ruang keluarga.


"Sambal sama saosnya ambil sendiri."


"Baunya enak. Zam nggak sabar."


"Punya aku yang mana Yang?"


"Yang ini. Yang ini punya aku." Tunjuk Aya dua mangkuk bakso yang ada di depan mereka.


Alvin mengambil punya istrinya dan menuangkan ke mangkuknya.


"Mas..Itu..."


"Kita makan semangkuk berdua."


"Ok. Sambelnya..."

__ADS_1


"Aku yang ambilin. Nanti kalo kamu yang ambil pedes lagi."


Alvin menyuapi istrinya. Sebelumnya, pria itu meniupnya dulu sampai dingin agar Aya tidak kepanasan.


"Enak. Kamu makan juga Mas."


"Suapi." Kata Alvin manja. Daniel tersenyum melihat kedua orangtuanya sementara Zam dan Ara fokus makan.


"Terimakasih Ya Allah. Lebaran pertama Daniel sangat berkesan." Bantinnya.


"Astaga sayang sambalnya jangan banyak banyak. Wajah kamu merah tu." tegur Aya pada Zam.


"Pedas. Tapi enak."


"Makan sambelnya jangan banyak banyak. Perut kamu nanti sakit." Aya mengelap keringat di dahi Zam.


"Dia emang doyan pedes Yang."


"Iya. Tapi makan sambel jangan kebanyakan nanti sakit perut."


"Dah terlanjur Bu."


"Kamu. Minum susunya dulu. Biar pedesnya ilang."


"Iya Ibu."


"Mas. Lebaran kali ini kita nggak kerumah Mama."


"Nggak papa. Kita punya alasan untuk nggak datang kesana. Aku takut Mama kamu nggak bisa kontrol diri lagi."


"Iya Bu. Oma jahat. Buktinya waktu itu mau tampar Ara. Padahal Ara kan ngomong apa adanya."


"Sudah. Ibu jangan sedih. Yang terpenting sekarang keselamatan Ibu. Kita nggak mau terjadi sesuatu sama Ibu. Untuk itu menjauh lebih baik. Karna yang Zam tau setiap Oma ketemu Ibu pasti buat masalah."


Daniel yang tidak tahu apa yang mereka bahas hanya diam memperhatikan.


"Iya."


"Yang aku mau ambil sekertaris baru boleh?"


"Bukannya sudah ada Om Jaya."


"Dia kerepotan. Sementara aku udah pulang kalo jam makan siang."


"Siapa?"


"Adiknya Om jaya. Namanya Edo."


"Kalo kamu butuh nggak Papa Mas."


"Makasih Ya."


"Iya."


"Oh Iya Yang. Hari Kamis nanti aku ada pertemuan sama klien. Paling pulangnya agak sore kalo nggak malem. Nggak papa ya."


"Iya Mas. Kamu hati hati kerjanya."


"Iya. Kamu kalo di rumah juga hati hati."

__ADS_1


Alvin memeluk dan mengecup kening istrinya.


__ADS_2