Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Dasar Otak Bisnis


__ADS_3

"Ayo Yang. Katanya minta Mie pangsit."


"Anak anak ga diajak."


"Mereka lagi tidur. Kita aja yang pergi."


"Yasudah. Ayo." Aya begitu bersemangat menarik tangan suaminya.


"Tempatnya dimana?" Tanya Alvin sambil menyetir. Ia sengaja tidak diantar supir karena ingin berdua dengan istrinya saja.


"Kalo menurut lokasi yang dikirim Om Rio sih disini. Coba parkir dulu. Kita carinya sambil jalan aja. Banyak orang yang jualan di sana. Mungkin di sana."


"nanti kamu capek. Parkirnya lumayan jauh tau."


"Ga papa. Aku nggak capek kok."


"Yasudah." Alvin putar balik untuk memarkirkan mobilnya.


Ia berjalan sambil menggandeng tangan istrinya dengan erat. "Kamu jangan senyum gitu dong Yang. Banyak yang liatin itu. Aku ga rela." Kata Alvin sambil cemberut.


"Terus aku harus gimana? Kamu ada ada aja."


"Pake masker aja."


"Nggak ah. Makin aneh aja."


Mendapat penolakan sang istri, tangannya beralih merangkul pinggang Aya dengan mesra.


"Ih..Malu tau." Rengek Aya pelan.


"Diam istriku. Nanti aku ajak pulang lagi, ga jadi beli. Mau?" Ancam Alvin membuatnya patuh.


Cukup lama mencari akhirnya mereka sampai di depan sebuah kedai sederhana yang cukup ramai. Aya mencekal tangan istrinya.


"Pindah ke restoran aja yuk." Ajak Alvin khawatir akan kebersihannya.


"Nggak ah. Aku maunya di sini. Lagian kita sudah sampai kan. Ayo masuk." Aya menggandeng tangan suaminya.


"Pak. Mie pangsitnya dua ya."


"Makan di sini atau di bawa pulang mbak?"


Tanyanya dengan logat Jawa yang kental.


"Makan disini pak."


"Baik Mbak. Silahkan duduk dulu." sambil tersenyum ramah.


"Iya pak."


"Ngapain ga di bawa pulang aja sih Yang?" Bisik Alvin.


"Kenapa sih Mas. Sesekali makan di luar."


"Iya kalau di restoran yang private ga papa. La ini."


"Udah ah. Jangan cemberut gitu." Aya mengusap tangan suaminya pelan.


"Kita juga perlu makan di tempat seperti ini Mas. Jangan taunya tempat mewah aja."


Alvin begitu terkesan dengan kesederhanaan istrinya. Meskipun hidup dengan harta yang berlimpah. Tak pernah sekalipun menyombongkan hartanya. Berbeda dengan Alvin yang suka mubasir atau hidup bermewah-mewah. Tak jarang juga sikap dan kata katanya juga cenderung sombong. Namun belajar dari sang istri. Ia mulai berubah dari tutur kata maupun perilakunya.


"Silahkan Mbak, Mas." Kata bapak itu sambil menyajikan dua porsi pangsit di atas meja mereka.


"Terimakasih pak." Aya tersenyum manis.


"Mbaknya Ayu Jan (Mbaknya cantik banget.)" katanya dalam bahasa Jawa.


Aya hanya tersenyum tidak mengerti sementara Alvin mengumpat dalam hati.


"Saya permisi dulu."Pamitnya pada Aya dan Alvin.


"Iya pak."

__ADS_1


"Dasar. Matanya ga bisa liat orang bening. Di rebus istrinya baru tau." Gerutu Alvin.


"Bapaknya ngomong apa sih Mas? kamu kok ngedumel begitu."


"Dia bilang kamu cantik banget. Kurang ajar bukan?"


"Oh, kamu tau artinya ya."


"Aku kan asli Jawa Yang. Mana mungkin aku ga ngerti."


"Iya. Lupa. Ayo makan."


"Kamu duluan. Hati hati masih panas." Alvin meniup dan menyuapkannya pada Aya.


"Iya." Aya memakannya.


"Enak?"


Aya mengangguk mantap.


"Aku makan sendiri. Kamu makan punya kamu Mas. Enak kok." Aya makan dengan lahap membuat Alvin ingin mencoba. Pria itu makan perlahan.


"Enak kan?"


"Lumayan." Jawab Alvin.


"Berapa pak?"


"Tiga puluh ribu Mas."


"Ini pak. Kembaliannya ambil aja."


"Tapi Mas. Masih 70 ribu."


"Ambil aja pak." Kata Aya lembut.


"Terimakasih Mbak. Mas."


Alvin memutuskan untuk mengajak Aya pulang setelah menuruti permintaannya.


"Kita mampir ke pasar dulu Mas."


"Mau ngapain sih Yang. Mending pulang istirahat."


"Sebentar aja. Mau beliin nangka buat Ara."


"Suruh Bibi aja."


"Sekalian mampir. Kita kan lewat juga."


"Yaudah. Cium dulu."


"Hah. Kamu emang ga bisa rugi dikit. Dasar otak bisnis." gerutu Aya tetap melakukan permintaan suaminya.


Alvin berjalan merangkul pinggang istrinya untuk melindungi wanita itu dari orang orang yang berlalu lalang.


Aya berhenti di penjual buah. Seorang pria paruh baya.


"Pak. Nangkanya ada?"


"Ada Non. Silahkan dipilih."


"Bisa bantu pak. Saya tidak begitu mengerti."


"Bisa bisa." Bapak itu mulai memilihkan nangka untuk Aya.


"Ini Non. Sudah matang sempurna. Aromanya juga harum."


"Baik pak. Saya beli yang ini."


"Ada lagi Non?"


"Ini apa pak?"

__ADS_1


"Salak Non."


"Saya juga mau Ini." Alvin hanya memperhatikan istrinya yang sedang berinteraksi dengan penjual itu.


"Kebanyakan Mas."


"Ambil aja pak."


"Terimakasih banyak. Semoga diberi kesehatan dan kelancaran rezeki."


"Amin. Sama sama pak."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Ibu sama Ayah darimana?"


Mereka memeluk Aya.


"Ibu beli buah sayang. Ara nangis ya." Aya mengusap air mata anaknya.


"Ara kira Ibu kemana."


"Dah. Kan Ibu sudah pulang."


"Bibi. Tolong siapkan buahnya ya. Saya mau mandiin anak anak dulu."


"Baik Nyonya." Membawa buahnya ke dapur.


Keluarga kecil Alvin tengah berkumpul di teras belakang sambil menikmati buah yang dibelinya tadi. Zam dan Ara begitu lahap makan nangka juga kesemek yang sudah dikupas bersih dan disajikan di piring besar.


"Mas Ini cara makannya gimana ya?" Tanya Aya kebingungan mengamati salak yang tengah di pegangnya.


"Sini aku kupaskan." Alvin mengupasnya dan menyuapkan pada sang istri.


"Gimana. Enak?"


"Enak."


"Kamu kok nggak pernah tanam ini di kebun Mas?"


"Banyak durinya. Bahaya buat kamu sama anak anak. Lagian juga ribet tanam salak harus mengawinkan segala."


"Iyakah."


"Iya Sayang."


"Ibu coba ini Rasanya manis."


Zam menyuapi Ibunya kesemek.


"Iya Manis."


"Ayah mau?"


"Enggak. Kalian makan aja."


"Mau lagi?"


"Iya." Alvin menyuapi istrinya lagi.


"Yang. Ini kenapa?" Tanya Alvin baru menyadari lengan istrinya yang memar.


"Kebentur pintu tadi habis mandiin anak anak."


"Kamu kok nggak bilang. Aku ambil obat dulu."


Alvin berlalu pergi beberapa saat kemudian kembali lagi. Ia mengolesi obat pada memar di lengan Aya dengan hati hati sambil sesekali meniupnya.


"Lain kali hati hati."Tutur Alvin.


"Iya Mas."


Alvin memeluk istrinya dan mengecup kening Aya lembut.

__ADS_1


__ADS_2