
Baru tiga minggu restoran Aya buka. Pengunjung semakin banyak setiap harinya. Belum lagi pesanan pesanan yang datang tanpa henti. Kini Ia begitu sibuk meski sudah dibantu dengan koki dan pelayan.
"Bos istirahat saja. Biar saya yang lanjutkan."
"Ah tidak usah. Saya masih harus memasak banyak pesanan. Lagipula saya juga belum capek."
"Baiklah. Jika lelah istirahat saja Bos." Kata pelayan itu melihat Aya daritadi belum istirahat sama sekali.
"Iya. Ini tolong pesanannya di antar ke depan ya."
"Baik Bos." Langsung melaksanakan perintah Aya.
"Pak Andi. Nanti jam 3 saya sudah pulang ya."
"Oke." Jawab koki yang sedang sibuk menumis bumbu itu sedikit berteriak menyahuti Aya.
Selesai membuat pesanan Aya tidak tinggal diam. Ia langsung membuat cake maupun kue kering untuk persediaan di etalase.
"Mbak Nanik anak anak belum bangun?"Tanya Aya pada salah satu karyawati yang tadi ditugaskan untuk melihat Zam dan Ara di ruang pribadinya.
"Belum Bos. Mereka tidurnya nyenyak sehabis disuapi Bos tadi."
"Ok."
"Ada yang bisa saya bantu Bos? Pesanannya sudah diantar semua. Jadi saya menganggur."
"Tolong coklatnya dilelehkan dan kejunya di parut ya mbak. Saya mau bikin cream dulu."
"Baik Bos."
Aya sudah bertekad untuk menjadi wanita mandiri. Kini Ia mengendarai mobil sendiri agar lebih mudah mengantar jemput anak anaknya ke sekolah.
"Zam dan Ara mau apa sayang?" Tanya Aya dalam perjalanan pulang.
"Ibu Zam boleh minta dodol seperti kemarin?"
"Ara juga mau Ibu."
__ADS_1
"Boleh sayang. Kita beli sekarang."
Mobil berhenti di salah satu toko oleh oleh yang cukup terkenal. Ia mengajak Zam dan Ara untuk masuk.
Aya membawa keranjang belanja. Sementara mereka sibuk memilih apapun yang mereka inginkan.
"Sudah cukup?"
"Sudah Ibu."
"Yasudah. Ibu bayar dulu."
Selesai membayar Aya memutuskan untuk mampir sebentar di swalayan sebelah untuk membeli susu dan keperluan anaknya.
"Mandi dulu ya."
"Iya Ibu. Ibu mandikan."
"Iya Ibu mandikan."
Meskipun sangat lelah Aya tetap memperhatikan kedua anaknya. Semua keperluan mereka selalu Aya penuhi dengan baik. Hanya satu ART yang bekerja di rumah ini. Untuk bersih bersih saja, setelah itu pulang. Kegiatan memasak dan mengurus semuanya Aya lakukan sendiri.
Alvin belum menemukan juga keberadaan istrinya. Ia sudah dimarahi habis habisan oleh semua orang. Darwin dan Rio yang turut mencari juga tidak mendapatkan hasil.
"Makan Vin. Kamu kurus banget."
"Iya Vin. Jaga kesehatan kamu supaya ga sakit. Kalo kamu sehat kan kita lebih mudah cari Aya." Darwin menimpali.
"Kalian belum dapat kabar?" Tanya Alvin tanpa menghiraukan bujukan sahabatnya.
"Maaf." Lirih Darwin.
"Sudah aku bilang Vin. Kamu jangan gegabah. Kejadian seperti ini sudah berkali kali terjadi karena kecemburuan kamu yang berlebihan itu. Buktinya Felix dan Istrimu tidak ada hubungan apapun kan. Istrimu juga habis kesabaran karena selalu kamu tuduh selingkuh terus." Alvin hanya diam tak menyahuti semua ocehan Rio.
"Besok kita ada meeting di Jogja Vin. Jangan lupa."
"Hm."
__ADS_1
Suara pintu terbanting mengagetkan mereka bertiga. Daddy Aya berjalan dengan raut wajah marahnya. Ia baru tahu alasan kepergian Aya dan kehidupan rumah tangga anak perempuannya yang sudah berkali kali di tuduh berselingkuh oleh sang suami.
Daddy Aya membanting map di atas meja dengan kasar. Ia terlihat menahan amarahnya agar tidak memukuli menantunya itu.
"Ini apa kak?" Tanya Alvin.
"Buka dan Baca baik baik." Katanya dingin.
Alvin membuka map itu dan membacanya. Jantung pria itu seakan berhenti berdetak melihat surat cerai itu.
"Tandatangani itu Vin. Biarkan anakku hidup sendiri."
"Tidak kak. Aku tidak mau bercerai."
"Aku memaksamu. Setuju atau tidak ceraikan putriku."
"Tidak. Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan bercerai dengan istriku sampai kapanpun. Aku mencintainya."
"Jika kau mencintainya. Kau tidak akan melukainya."
"Aku minta maaf kak."
"Kau menyakitiku aku akan diam. Tapi kau menyakiti putriku. Disitulah aku akan marah."
"Maaf kak. Aku tidak akan menceraikannya."
Alvin merobek surat itu.
"Terserahmu. Jika Putri dan cucu cucuku kembali lagi. Akan aku pastikan mereka tidak akan bersamamu." Kata Daddy penuh penekanan dan berlalu pergi.
Rio dan Darwin segera menenangkan sahabatnya itu. Memberikan dukungan dan jalan keluar masalah ini.
"Sabar Vin. Kita akan bantu kamu cari Aya dan anak anak."
"Iya Vin. Sebentar lagi mereka akan ketemu. Kamu harus semangat. Jangan terlihat lemah seperti ini. Jangan lupa juga untuk perhatikan kesehatan kamu. Jangan sedih berlarut larut sehingga kamu lupa makan."
"Iya Vin. Jika kalian bertemu nanti mereka juga tidak akan suka melihat penampilanmu yang berantakan seperti ini."
__ADS_1
"Kita ke Jogja sekarang." Kata Alvin bangkit dari duduk meninggalkan mereka berdua.
Sesuai kemauannya Alvin dan Rio memutuskan untuk berangkat ke Jogja malam ini. Mungkin Alvin butuh suasana baru untuk menenangkan dirinya. Pria itu hanya berdiam dengan wajah dinginnya semenjak kepergian sang istri. Alvin juga sering lembur atau bahkan jarang pulang ke rumah. Ia lebih sering tidur di kantor, di Rumah Darwin ataupun di rumah Rio. Kedua sahabatnya itu tak pernah meninggalkan Alvin sendiri. Mereka selalu menemani pria itu.