Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Maaf Mas


__ADS_3

Alvin baru tersadar. Ia bergegas mencari istrinya. Ternyata Ia sudah hanyut terlalu lama. Aya dan Anak anaknya sudah pergi entah kemana. "Istri saya kemana?" Ia menghampiri seorang pekerja di rumahnya.


"Nyonya pergi dengan Tuan dan Nona muda Tuan. Nyonya bilang sudah mendapat izin dari tuan Alvin."


"Pergi kemana?"


"Tidak tau Tuan. Nyonya tidak mau diantar tadi. Nyonya menaiki taxi."


Alvin pergi ke kamarnya lagi dengan perasaan kalut. Ia segera menelfon kakaknya berharap sang istri berada disana.


"Assalamualaikum kak."


"Waalaikumsalam Vin."


"Istriku disana?"


"Tidak. Aku daritadi telfon Aya juga tidak diangkat. Memangnya ada apa Vin?"


"Tidak apa. Tidak jadi. Ternyata dia sedang pergi ke swalayan. Ponselnya tertinggal di rumah." Kata Alvin berbohong tak ingin masalahnya diketahui sang ipar.


"Udah dulu ya kak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Alvin bergegas mencari keberadaan istrinya di tempat tempat yang mungkin wanita itu kunjungi. Menurut informasi yang di dapat terakhir kali sang istri mengambil uang tabungan pribadinya di bank terdekat. Alvin segera menuju kesana. Berharap Aya masih dapat di jumpai nya.


Sampai di sana ternyata Nihil. Ia menyuruh orangnya untuk segera mencari tahu posisi sang istri lewat taxi yang ditumpanginya. Alvin kehilangan jejak lagi karena sang istri kemungkinan berganti transportasi beberapa kali. Alvin rasa ini dilakukan untuk menghilangkan jejak. Terbukti Aya juga tidak membawa ponselnya serta jam tangan yang Ia berikan.


Alvin begitu frustasi sekarang. Ia tak bisa menemukan istrinya. Emosi hari ini sudah berada di puncak. Ia sudah tak bisa lagi menahan amarah karena rasa cemburu. Alvin Menyadari betul sudah berkali kali Ia seperti ini. Aya mungkin sudah sangat sabar menghadapi tuduhan demi tuduhan suaminya. Tapi untuk kali ini wanita itu cukup muak dengan semua itu. Ia sudah cukup menahan kesabarannya. Alvin ingat betul Aya tadi bersimpuh sampai bersumpah sambil memegangi kakinya untuk meyakinkan bahwa Ia tak pernah berselingkuh. Kata terakhir sebelum wanita itu pergi dan ciuman tangan dari Aya masih terasa seperti beberapa saat lalu. Alvin menangis mengacak acak rambutnya frustasi. Ia berteriak sekencang kencangnya untuk menyalurkan segala kesedihan.


Aya membuka pagar rumah cukup besar berlantai dua dengan desain minimalis itu.


"Kita disini dulu ya sayang." Kata Aya membuka pintu rumah sambil membawa keperluan anaknya yang baru Ia beli.


"Memang tidak seluas rumah kita dulu. Tapi semoga kalian nyaman." Lanjutnya lagi.


"Tidak Apa Ibu. Rumahnya bagus kok."


"Ibu, kenapa Ayah tidak ikut?"

__ADS_1


"Ibu dan Ayah ada urusan sayang. Kita orang dewasa harus menenangkan diri masing masing. Tidak saling bertemu dulu untuk menyelesaikan masalah."


"Oh."


"Ayo masuk. Ibu tunjukkan kamar kalian."


"Kita tidur dengan Ibu saja."


"Baiklah."


Selesai memandikan kedua anaknya. Aya menata bajunya dan baju anak anak di lemari.


Ia merebahkan diri di samping mereka setelah kegiatannya selesai. "Ibu kita ada di mana? perjalanannya tadi lama sekali."


"Kita di Jogja sayang."


"Jauh ya dari rumah kita?"


"Jauh. Makannya tadi kita naik pesawat."


"Oh."


"Iya Ibu."


"Maaf Mas. Semoga ini jalan terbaik untuk merubah sikapmu. Rasa percayamu ternyata tidak ada untukku. Kamu menganggap ku wanita yang seperti itu. Secara tidak langsung Kamu sudah melukai harga diriku." batin Aya ikut memejamkan mata.


Pagi hari Aya sudah sibuk di tempat baru dan suasana baru juga. Ia sudah siap untuk mengantar Zam dan Ara pergi mendaftar ke sekolah barunya.


"Kalian sudah siap?"


"Sudah Ibu. Ayo berangkat sekarang."


"Iya sayang."


"Pulang nanti kita mampir ke restoran Ibu ya."


"Ibu punya restoran?"


"Punya. Tapi belum buka. Mulai sekarang Ibu akan bekerja."

__ADS_1


"Iya Ibu. Nanti kita bantu."


"makasih sayang."


"Sama sama Ibu." Aya memang membeli restoran untuk memutar uang agar dapat mencukupi kebutuhan anak anaknya di masa depan. Agar mereka hidup berkecukupan dan bahagia tentunya. Kenyamanan anak anaknya adalah hal utama. Ia akan melakukan apapun untuk mencukupi segala fasilitas yang dibutuhkan mereka agar mereka bahagia.


"Wa bagus." Kata anak anak memasuki restoran bergaya klasik modern tersebut. Begitu indah dengan nuansa warna hitam yang mendominasi. Untuk sementara ini Ia akan merekrut beberapa pelayan untuk membantunya. Masalah memasak akan diatasinya sendiri.


"Kalian mau coba menu di sini?"


"Mau Ibu."


"Sebentar ya. Ibu masakkan spesial untuk kalian."


"kami ikut ke dapur Ibu."


" Iya. Duduk saja ya."


"Iya Ibu." Jawab mereka patuh.


Lama berkutat di dapur semua hidangan sudah tersaji di meja. Mulai dari makanan berat, Dessert sampai cemilan kesukaan anak anak.


Aya menyuapi anak anaknya untuk mencoba semua masakannya satu per satu.


"Enak tidak?"


"Mana mungkin masakan Ibu tidak enak. Masakan Ibu paling enak. Restorannya pasti ramai nanti kalau sudah buka."


"Amin. Doakan ya. Semoga semuanya lancar."


"Pasti Ibu. Kami akan selalu mendoakan."


"Terimakasih sayang."


"Sama sama Ibu."


Disisi lain Alvi masih terus berusaha mencari keberadaan Istri dan kedua anaknya. Sampai saat ini Ia belum juga menemukan titik terang atau bahkan kabar terakhir tentang dimana keberadaan mereka. Keluarga besar juga belum tau tentang kepergian Aya. Ini masih menjadi rahasia yang harus di simpannya rapat rapat.


"Kamu dimana Sayang?" Alvin menatap foto istrinya sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Aku minta maaf. Aku salah lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku mohon kembalilah. Kita harus tetap bersama. Aku akan memperbaiki segalanya. Aku tidak akan menuduhmu berselingkuh lagi. Kamu wanita baik baik. Kamu penurut dan selalu menjaga pandangan dari laki laki lain. Aku salah sangka. Aku yang salah. Aku minta Maaf." Lirih Alvin.


__ADS_2