
Aya mengerjapkan mata merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia mengingat betul kejadian semalam. Bagaimana perlakuan suaminya yang merenggut kesuciannya dengan cara yang tidak dia inginkan. Aya menangis, Ia merasa hina diperlakukan seperti ini. Bagaimanapun juga suaminya sudah berjanji untuk menunggunya sampai Ia benar benar siap.
Alvin terbangun mendengar suara tangis yang samar samar. Ia mendudukkan diri menatap iba istrinya. Kini Ia sadar, dan merasa sangat bersalah.
"Sayang Aku..."
"Kau bilang akan menunggu. Tapi kenyataanya seperti ini. Kau menyakitiku." Perkataan Aya menusuk hati Alvin. Begitu sedih mendengar kekecewaan istrinya.
"Maafkan Aku." Kata Alvin memeluk Aya.
"Aku benar benar minta maaf. Aku egois. Aku menyakitimu." Lanjutnya lagi.
Aya melepaskan pelukan suaminya. Memungut bajunya yang ada di ranjang dan mengenakan sebisanya. Hal yang sama juga dilakukan Alvin.
"Tunggulah di sini. Akan aku siapkan air hangat untuk mandi." Kata Alvin bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan segala keperluan istrinya. Aya hanya diam di ranjang. Ia benar benar malas untuk sekedar berbicara dengan suaminya sekarang.
"Airnya sudah siap sayang."
Aya langsung turun dari ranjang. "Sst..." ringisnya menahan sakit.
"Aku bantu." Alvin menggendong istrinya dan memasukkan dalam bathup dengan hati hati. Keduanya mandi bersama. Aya hanya diam saja sedari tadi. Hal ini membuat Alvin merasa sangat bersalah. Seberapa sering pria itu minta maaf namun tak kunjung juga mendapat jawaban dari sang istri. Selesai berganti baju Aya pergi ke dapur untuk sekedar minum. Kali ini Alvin tidak melarangnya. Toh penjaga di luar sana juga banyak. Istrinya tidak mungkin bisa kabur lagi.
"Nyonya."
Aya tersenyum tipis menanggapi mereka. Semuanya juga merasa heran. Tapi tidak mau ikut campur dengan urusan majikannya.
"Nyonya butuh sesuatu?"
"Aku mau minum Bi."
Maid itu segera mengambilkan segelas air putih dan langsung diteguk Aya sampai habis.
"Nyonya sakit?" katanya memberanikan diri untuk bertanya karena khawatir.
"Tidak. Aku baik baik saja." Kata Aya sambil tersenyum lemah.
Suasana makan siang terasa sepi. Biasanya Aya akan mengobrol dengan para pekerja tapi kali ini hanya diam saja. Ia mengambilkan makan untuk suaminya dan dirinya lalu memakannya dengan tenang tanpa sepatah katapun diucap. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring menghiasi makan siang kali ini.
"Mommy." Aya berhambur memeluk Mommy dan kedua adiknya. Ia menyembunyikan kesedihannya agar tidak membebani pikiran wanita itu.
"Kau tampak pucat sayang. Sakit ya?"
"Enggak kok Mom. Aku baik baik saja." Alvin melihat itu semua. Bagaimana istrinya dengan pintar menyembunyikan lukanya. Hatinya begitu sakit. Ia telah merusak kepercayaan wanita yang di cintainya.
Semuanya berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
"Yang lain kemana Mom?" tanya Alvin mulai mengubah panggilannya pada iparnya itu.
"Ih jangan panggil begitu Vin. Seperti biasa saja."
"Iya deh. Yang lain kemana?"
"Belum pulang."
"Kakak nggak nginep di rumah sama kita?"
"Kemarin kemarin kan udah." Jawab Aya sambil mengelus kepala kedua adiknya.
"Ngomong ngomong kalian jam segini udah pulang?"
"Iya kak. Enggak tau kenapa di pulangkan lebih awal."
"Sudah makan?"
"Sedang sayang. Kita sebelum kesini tadi sudah makan."
"Kak. Mau eskrim dong."
"Ayo. Kakak ambilin." Aya mengajak kedua adiknya pergi ke dapur.
"Vin.." Panggil Mommy tengah berdua dengan adik iparnya.
"Orang yang sering kirim bunga ke Aya sudah ketemu?"
"Belum. Susah nyarinya."
"Kamu nggak ada curiga sama seseorang gitu?"
"Maksudnya?"
"Nggak ada orang yang kamu curigai?"
"Enggak deh kayanya."
"Aku pengen ngomong sama kakak." Kata Alvin serius.
"Apa?"
"Semalam Istriku mau kabur. Dia sudah sampai di bandara. Untung orang orangku bergerak cepat. Jadi dia tidak bisa lari."
"Kok kamu ga kasih kabar." Kata Mommy sambil membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Sudah aku atasi."
"Vin Aya baik baik saja kan?"
"Baik kok." Jawab Alvin sedikit gugup.
"kok pucat begitu?"
"Semalam pusing. Tapi sudah minum obat kok." bohong Alvin.
"Oh. Kirain terjadi sesuatu." lirih Mommy pelan.
"Hati hati ya." Kata Aya memeluk Mommy dan kedua adiknya bergantian.
"Iya Kakak jaga kesehatan."
"Iya."
"Kami pulang dulu ya."
"Iya Mom."
Aya masuk ke dalam mengabaikan suaminya setelah mobil meninggalkan halaman.
Ia melangkah menuju kamar dan duduk di kursi balkon untuk sekedar menghirup udara segar sambil menikmati pemandangan dari atas sana. Alvin merasa frustasi karena Aya terus mendiaminya tanpa mengajaknya berbicara. Istrinya hanya menurut jika Ia perintah tanpa menjawab atau protes seperti biasanya. Ia membuka pintu kamar. Mengedarkan pandangannya untuk mencari Aya. Alvin duduk di kursi sebelah istrinya. "Aku minta maaf." kata Alvin untuk yang kesekian kalinya sampai Aya jengah mendengarnya.
Wanita itu tak berkutik atau bahkan hanya sekedar menengok. Tatapannya lurus ke depan.
Alvin beranjak dari duduknya. Berdiri di depan sang istri untuk menghalangi pandangan istrinya. Namun Aya tetap dalam posisi yang sama. Alvin berjongkok dan memeluk pinggang
ramping Aya. Ia menidurkan kepalanya di paha sang istri sambil mengucapkan kata maaf berkali kali. "Sayang maafkan aku. Jangan mendiamiku seperti ini." Kata Alvin memohon.
Aya meneteskan air matanya lagi. Alvin mendongak merasakan basah. Ia menatap sang istri dengan rasa bersalah yang mendalam. Ini bukan bahagian dari rencananya. Ia telah membuat istrinya merasakan sedih dan kecewa.
Alvin memeluk sang istri. Menenggelamkan kepalanya pada dada wanita itu.
"Kau mencintaiku?" Tanya Aya secara tiba tiba.
Alvin menatap istrinya yang masih setia menatap ke depan.
"Sangat." Jawab Alvin penuh penekanan.
"Jika kau mencintaiku kau tidak akan melakukan hal hal yang akan menyakitiku, membuatku sedih dan tersiksa. Kau akan memikirkan kebahagiaanku. Bukankah cinta itu ada Karna rasa saling percaya? Namun aku tidak menemukan itu dalam dirimu. Kau terlalu takut kehilangan tanpa memikirkan kenyamanan."
Kata Aya membuat Alvin lemas.
__ADS_1
"Aku minta maaf." Lirih Alvin dengan suara yang sudah melemah.
"Semakin hari semakin aku tak mengenalimu." Kata Aya beranjak dari duduknya. Alvin berdiri memeluk istrinya dengan erat. Tak membiarkan wanita itu beranjak darinya sedikitpun. "Ini yang aku lakukan untuk bisa terus bersamamu. Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Jangan pernah pergi. Jangan tinggalkan Aku." Alvin mulai meneteskan air matanya. Ia sangat takut kehilangan istrinya. Benar Ia melakukan kesalahan. Namun Ia tak akan pernah membiarkan wanita yang dicintainya pergi dari sisinya.