Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Mertua Tuan


__ADS_3

Aya tengah bersantai di rumah mendapat pesan bahwa suaminya pingsan di hotel tempat pertemuan. Ia langsung kesana untuk mengecek keadaan sang suami.


Alvin mencekal tangan wanita itu sebelum berhasil meraih dasinya. Dengan cepat pria itu bangun dan menjauh. "Dasar ****** menjijikkan." Katanya penuh emosi.


"Bagaimana bisa..."


"Kau pikir aku siapa dengan bodoh masuk ke perangkap murahan kalian."


"Tuan. Apakah Tuan mau menghabiskan satu malam saja dengan saya. Saya akan menjamin Tuan akan ketagihan."


"Cih. Dasar tidak tau malu. Tidakkah kau mengaca jika istriku berjuta kali lebih menarik dari dirimu."


"Mungkin saja Tuan ingin yang berbeda." Katanya terus menggoda mencoba untuk mendekat kepada Alvin.


"Oh Baiklah. Ayo kita mulai. Lebih menarik mana kau atau istriku."


Kata Alvin menantang di balas senyum senang.


Sepanjang perjalanan ia terus berdoa agar suaminya baik baik saja. Setelah memarkirkan mobilnya Ia langsung masuk ke hotel.


Aya bergegas menaiki lift menuju lantai 13 dan kamar 305 yang sudah tertera dari pesan misterius yang Ia dapat.


Aya membuka pintu perlahan. Ia cukup terkejut dengan pemandangan yang ada disana.


Suaminya tengah memerintahkan pengawalnya untuk menyakiti dua orang yang sedang duduk terikat di kursi.


"Mas."


"Sayang. Kamu disini." Alvin langsung memeluk istrinya.


Rebecca melihat Aya begitu terkesan. Wanita itu lebih cantik dari yang di foto. Tampilannya anggun, berwibawa dengan kharisma yang memancar alami begitu saja. Pantas saja Alvin tidak tergoda dengan perempuan manapun. Istrinya sangat sempurna.


"Kenapa kamu.."


"Ayo masuk dulu aku jelaskan."


Alvin menceritakan semuanya pada sang istri tanpa terlewat sedikitpun.


"Oh.." Kata Aya mulai paham.


"Kalian belum mau bicara juga." Bentak Alvin memenuhi ruangan. Aya hanya bisa menggenggam tangan suaminya untuk memberi ketenangan.Aya tak mencegah, Ia tau perasaan suaminya dan dampak besar yang akan timbul jika jebakan itu benar benar berhasil.


"Siksa lagi. Jangan berhenti sampai mereka bicara." Perintahnya pada pengawal.


"Mas. Aku takut."


"Tenang sayang. Mas hanya ingin mereka bicara." Alvin memeluk istrinya


"Baik Tuan."


"Saya akan bicara." Kata Rebecca yang sudah tidak tahan dengan luka akibat tamparan dan pukulan di seluruh tubuhnya.


"Katakan. Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni orang menjijikkan seperti kalian."


"Kami. Kami diperintahkan Oleh mertua Tuan."


Jawaban itu membuat Aya terkejut namun Alvin santai saja.

__ADS_1


"Jelaskan."


"Nyonya ingin Tuan dan Nyonya Aya berpisah sehingga Nyonya bisa tinggal dengan Mamanya. Nyonya juga ingin menjodohkan Nyonya Aya dengan anak temannya."


"Kau kenapa kau katakan. Kita akan mati nanti." Kata sosok lelaki di sebelahnya.


"Maaf. Sebenarnya aku juga tidak mau melakukan ini."


"Katakan dengan jelas."


"Kami dipaksa dan diancam Tuan. Kami ditekan untuk membatu mereka memisahkan Tuan dan Nyonya. Jika tidak kamu lakukan keluarga kami menjadi taruhannya. Kami minta maaf."


"Kalian tidak perlu takut. Kalian akan dilindungi mulai sekarang." Kata Aya.


"Yang."


"Mas. Mereka di ancam Mama. Kasihan."


Rebecca memperhatikan Aya. Ia heran bagaimana orang sejahat Mama Aya memiliki anak berhati malaikat seperti ini.


"Kalian pindah saja. Bawa keluarga sekalian. Orang saya mengurus semuanya."


"Baik Tuan. Nyonya. Terimakasih."


"Hm. Ini karna permintaan istriku."


"Terimakasih Nyonya."


"Sama sama. Semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi baik." Kata Aya sambil tersenyum.


"Ada apa sih Mas?"


"Mupung ga ada yang ganggu. Ayo."


"Ayo apa?"


"Ayo olahraga siang."


"Kamu." Alvin langsung membungkam istrinya dengan ciuman panas. Perlahan tangannya menelusup masuk ke dress Istrinya memainkan bagian tubuh wanita itu yang membuatnya candu.


Alvin menanggalkan seluruh pakaian Aya dan pakaiannya sendiri.


"Aku mulai." Katanya sambil bersemangat.


"Kok tiap hari? semalem udah."


"Pengen lagi. Ah... Yang. Jangan banyak tanya dong. Aku udah nggak tahanan."


Pria itu langsung menghujani istrinya dengan kegiatan yang tak pernah membuatnya bosan.


Alvin menyudahi kegiatannya melihat sang istri sudah lemah tak berdaya.


"Mau lagi?" Tanya Alvin memeluk istrinya.


"Udah. Enggak. Capek."


Alvin tersenyum melihat sang istri yang menyembunyikan wajah di dada bidangnya.

__ADS_1


Alvin membuka pintu karena suara ketukan dari luar tak kunjung berhenti.


"Ada apa?"


"Ibu mana Yah?"


"Ganti baju. Ada apa?"


"Nggak cuman tanya aja."


"Ada apa sayang?" Tanya Ara menghampiri mereka.


"Cuman kangen aja. Daritadi kita belum ketemu Ibu." Ketiganya memeluk Aya erat.


"Ibu tidur tadi. Capek."


"Cepek banget Ya?" Goda Alvin.


"Tau ah."


Malam hari Aya memeluk suaminya erat.


"Ada apa Yang? Kamu mau lagi?"


"Enggak."


"Mas. Maaf ya."


"Kenapa?"


"Mama keterlaluan."


"Dia yang salah. Bukan kamu."


"Iya. Tapi dia orang yang melahirkan aku."


"Sudah jangan dipikirkan lagi. Semuanya baik baik saja sekarang."


"Aku nggak tau apa nanti yang akan terjadi jika benar benar berhasil rencananya."


"Dari awal aku sudah menduga ada yang tidak beres."


"Kamu kok bisa menghindar?"


"Pertama aku tau percakapan mereka lewat alat penyadap di hotel. Kedua aku menukar cappucino yang mereka pesan. Aku suruh semua pengawal aku untuk bekerja agar rencananya bisa gagal."


"Pinter kamu."


"Iya dong."


"Kamu tadi sempat sentuh wanita itu?"


"Iya tangannya. Lalu aku cuci tangan berkali kali. Kalo nggak aku cegah dia nanti malah yang nyentuh aku. Yang boleh nyentuh aku cuma kamu. Istriku."


"Aku ngantuk."


"Yaudah tidur." Alvin memeluk istrinya erat.

__ADS_1


__ADS_2