Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Untuk Mengikatnya


__ADS_3

Mobil Alvin berhenti di halaman sebuah rumah mewah setelah 45 menit menempuh perjalanan.


"Ini rumah baru kita Yang. Kamu suka?"


Tanya Alvin menggandeng istrinya untuk memasuki rumah.


"Iya." Jawab Aya sambil memperhatikan sekeliling. Dominasi warna putih sangat cocok dengan perabotan yang begitu elegan. Semuanya tertata rapi, sangat rapi malahan.


"Aku ajak kamu keliling. Mau sekarang atau kamu mau istirahat dulu?"


"Sekarang aja. Aku ga capek kok."


Alvin mengajak Aya melihat lihat seluruh ruangan. Mulai dari ruang keluarga, dapur dan semuanya tanpa terlewat. Aya mendapati banyak sekali foto pernikahan keduanya yang terpajang di dinding dinding setiap sudut. Begitu banyak, hingga Aya sendiri bosan melihatnya.


Keduanya beralih menuju ke halaman belakang. Ada kolam renang besar di sana dan sebuah gazebo dengan tanaman bunga cantik yang merambat di kubahnya.


Selesai berkeliling Alvin mengajak istrinya untuk ke kamar. Pria itu membuka jendelanya lebar lebar agar udara segar di luar sana bisa masuk. Aya berjalan ke luar menikmati pemandangan indah dari balkon. Ia memejamkan matanya menikmati segarnya udara di pagi hari. Sepasang tangan kekar merangkul pinggangnya yang ramping dari belakang. "Kamu suka?" Tanya Alvin sambil mengeratkan pelukannya.


"Ini khusus untuk kamu. Aku sendiri yang merancang rumah ini."


"Terimakasih. Aku suka."


"Sama sama. Apapun akan aku lakukan. Untuk membuatmu bahagia." Alvin membalikkan tubuhnya. Mencium bibir mungil itu dengan lembut.


"Kalian bikin istriku capek aja harus repot repot masak. Kalo kesini bawa makanan dong. Jangan bawa barang yang ga bisa di makan." Canda Alvin saat makan siang dengan keluarga besar di rumah barunya.


"Kamu ga bantu makannya capek." Kata Nenek menyalahkan.


"Aku bantu kok. Tapi malah diomelin."


"Kamu sudah cari ART kan Vin?"


"Sudah lah. Nanti agak sorean mereka datang."


"Bagus itu." Kata Mommy.


Selesai makan siang semuanya berkumpul di ruang keluarga untuk sekedar mengobrol ringan.

__ADS_1


"Sayang kamu belajar masak darimana?"


"Baca buku resep Dad. Ga enak ya?"


"Enak kak, Enak banget malah." Kata Ano bersemangat.


"Vin, Kamu bangun rumah kok jauh banget."


"Nggak jauh kok. Cuman selisih berapa menit dari apartemen aku."


"Jauh tau."


"Lumayan lah. Tapi juga ga jauh jauh amat."


Adam menatap adiknya yang sedari tadi hanya diam saja. Gadis itu hanya sesekali tersenyum dan menjawab singkat pertanyaan mereka. Adam sadar semua ini berat bagi Aya. Namu ia tak bisa berbuat apa apa untuk membantu.


"Kami pulang dulu ya." Semuanya memeluk Aya bergantian. Begitu lama seakan tak rela berjauhan.


"Iya. Hati hati."


"Jaga anakku baik baik." Kata Papa Aya menepuk pundak sang adik yang kini sudah menjadi menantunya.


"Susu kamu Yang." Alvin duduk di samping Aya sambil menyerahkan segelas susu.


"Terimakasih."


"Sama sama." Alvin mencium Istrinya beberapa kali dan merebahkan kepalanya di paha Aya. Ia mengelus lembut perut istrinya yang tengah sibuk menghabiskan susu. Tangan kekarnya memeluk pinggang sang istri hingga wajahnya menempel pada perut rata Aya. Ia menduselkan kepalanya.


"Ih geli tau." Keluh Aya atas aksi suaminya.


Alvin menghentikan aksinya dan beralih mencium degan kecupan beberapa kali. "Sebentar lagi kau akan hadir sayang. Untuk mengikatnya." Batinnya sambil tersenyum.


Suara bel rumah berbunyi. Alvin menggerutu, mengumpat dalam hati karena merasa diganggu saat bersama istrinya.


"Awas ah. Aku mau lihat dulu."


"Biar aku aja Yang." Kata Alvin masih di posisi yang sama.

__ADS_1


"Kalo gitu cepet bukain. Ga baik bikin orang nunggu."


"Iya iya." Kata Alvin bergegas menuruti perintah istrinya.


Belum lama Alvin meninggalkan Aya. Pria itu kembali namun tidak sendiri. Ia datang dengan beberapa orang yang mengekor di belakangnya. Mereka berjejer rapi menghadap Alvin yang berada di depannya sementara Aya tak beranjak dari duduknya. Manik mata indahnya memperhatikan semua orang. Sekitar 12 perempuan usia sekitar setengah abad dan 13 laki laki dengan badan tegap seusia suaminya. 'Apakah mereka para pekerja yang dimaksud?' batin Aya. Jika memang benar...Aya membelalakkan matanya. 'Banyak sekali.' kata Aya masih dalam hatinya.


"Sore." Sapa Alvin dengan suara baritonnya tampak tegas dan berwibawa.


"Sore Tuan." Jawab mereka serempak.


"Yang duduk di sana adalah istri saya." Alvin menunjuk istrinya.


Mereka menatap sekilas dan termenung sebentar mengagumi kecantikan majikannya sebelum menyapa.


"Selamat sore Nyonya."


"Selamat sore." Jawab Aya lembut sambil tersenyum ramah.


"Saya yakin kalian sudah membaca tugas di kontrak sebelumnya. Perlu saya tegaskan sekali lagi. Prioritas kalian bekerja di sini adalah istri saya. Layani Istri saya dengan baik. Semua yang boleh dan tidak boleh dimakan istri saya harus selalu di perhatikan. Karena dia mengidap beberapa alergi. Termasuk debu, Jadi pastikan rumah ini bersih tanpa debu sedikitpun. Dan lagi, Jangan biarkan sembarangan orang masuk rumah. Termasuk jangan biarkan istri saya keluar, Apapun alasannya." Jelas Alvin panjang lebar. Aya mendelik mendengar ucapan terakhir suaminya. Namun ia akan menanyakannya nanti.


"Kalian bisa bekerja nanti. Sekarang istirahatlah. Ke kamar yang sudah disediakan untuk masih masing orang."


"Baik Tuan." kata mereka sambil membubarkan diri.


"Apaan sih. Aku ga boleh keluar. Memangnya aku tahanan?" Protes Aya pada suaminya.


"Sayang ini demi kebaikan kamu."


"Kebaikan apanya. Aku..."


Alvin memeluk Aya erat tak memberi kesempatan sang istri untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Aku bilang kamu ga boleh keluar maka kamu harus patuh. Aku suami kamu. Aku berhak atas diri kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi."


"Bukan begini caranya.." Lirih Aya.


"Kamu salah sayang. Ini adalah satu satunya cara untuk membuatmu tetap berada di sisiku."

__ADS_1


Alvin menangkup wajah istrinya hingga mata keduanya saling menatap. Manik mata Alvin begitu lembut menatap lekat manik biru kehijauan istrinya. "Alasan semua ini hanya satu. Karena kamu milikku dan akan selalu begitu." Katanya lalu mencium bibir Aya dengan rakus.


__ADS_2