
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Aya masih terjaga tengah mengamati suaminya yang tertidur pulas memeluknya. Ia merasakan bagai hidup di neraka sekarang. Untuk sekedar apa apa harus selalu diawasi. Belum lagi sifat Alvin yang begitu posesif membuatnya semakin tersiksa. Hidup di lingkungan rumah saja membuatnya begitu frustasi. Ia tak pernah keluar kecuali berkunjung ke rumah Mommy nya. Ia sudah menyerah dengan semua ini. Sudah bosan diperlakukan seperti tahanan. Ini adalah kesempatannya untuk sekedar menghirup udara segar di luar sana. Menikmati kebebasannya. Perlahan Ia menyingkirkan tangan kekar suaminya. Gadis itu dengan hati hati meraih tas kecil yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ia mengendap endap mengamati sekitar setelah berhasil keluar dari kamar. Langkahnya di percepat karena suasana dirasa aman. Tangannya Membuka pintu gerbang perlahan. Ia berhasil keluar dari sangkar emasnya. Gadis itu menatap gerbang menjulang tinggi itu sebentar kemudian melangkah menyusuri jalan. Ia menghentikan taxi dan pergi meninggalkan tempat yang membuatnya tersiksa. Ia akan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Menjadi orang normal pada umumnya.
Alvin terbangun. Ia memanggil istrinya beberapa kali namun tidak ada jawaban. Pria itu seketika panik. Ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi untuk mencari Aya namun tetap tidak menemukannya. Seluruh rumah sudah di periksa namun hasilnya tetap sama. Alvin mengerahkan seluruh orang di rumah tapi tidak satupun menemukan keberadaan Aya. "Cek CCTV." Perintah Alvin langsung di kerjakan oleh mereka.
"Nyonya keluar Tuan." Kata salah seorang penjaga dengan segera karna tau bahwa Alvin orang yang tidak sabaran.
'Kau mulai berani.' gumam Alvin geram dengan kelakuan istrinya.
"Cepat cari istri saya. Jangan kembali jika tidak bisa menemukannya." Perintah Alvin terpaksa tidak mencari Aya sendiri karen Ia benar benar emosi saat ini. Ia tak mau emosinya langsung meledak saat bertemu Istrinya. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Baik Tuan." Kata mereka segera melaksanakan titah tuannya.
Alvin menunggu istrinya di kamar. Mengatur nafasnya agar keadaan emosinya lebih baik. "Mau kabur dariku? Tidak akan aku biarkan." Katanya sambil mengepalkan tangan.
Aya tengah berada di bandara sekarang. Ia duduk sebentar di sebuah bangku sebelum masuk ke sana. Hatinya bimbang antara akan pergi atau tetap berada di rumah hidup terkekang oleh suaminya. Ia beranjak dari duduknya setelah cukup lama termenung. "Aya." Sapa seorang lelaki yang berdiri tepat di depannya.
"Maaf." Kata Aya tidak mengenali orang itu.
"Aku Darwin. Kita pernah bertemu di Bali. Kamu keponakan Tuan Alvin kan?"
"Oh Om Darwin. Maaf aku sedikit lupa." Jawabnya merasa tidak enak.
"Tidak masalah. Sedang apa disini?"
" Hanya menunggu teman saja." Jawab Aya asal.
__ADS_1
"Kalau Om?" Tanyanya pada pria itu.
"Aku menunggu Asistenku. Di ke kamar mandi sebentar. Kami baru pulang dari Jerman."
"Oh. Kalau begitu Aku permisi dulu Om."
"Oh iya hati hati."
"Om juga." Aya berlalu pergi meninggalkan Darwin yang masih memperhatikannya.
Aya baru saja keluar dari kamar mandi. Dua sosok laki laki membawanya masuk ke dalam mobil. "Maaf Nyonya kami melakukan Ini. Tuan sedang menunggu anda di rumah." Jelas keduanya merasa tidak enak.
"Aku tidak mau pulang." Kata Aya sambil meronta ronta.
"Maaf Nyonya." Kata mereka tetap melajukan mobilnya meski di hati merasa kasihan.
Alvin duduk sambil bersedekap dada. Pria itu berusaha menetralisir emosinya.
"Mau kabur ya?" Aya hanya diam tidak menjawab suaminya.
"Bagus sekali sekarang sudah berani kabur By."
"Aku hanya ingin bebas. Kau terlalu mengekang ku. Aku muak." Jawab Aya jujur sambil menatap suaminya.
Alvin berdiri dan mendekat pada istrinya.
__ADS_1
Ia mengambil tas Aya dan membukanya. Sebuah tiket pesawat dan formulir beasiswa. Alvin yakin Istrinya akan kabur ke luar negeri.
Alvin merobek tiket dan formulir itu membuat Aya membelalakkan matanya. Aya menangis sejadi jadinya. "Kenapa kamu lakukan ini padaku?" Tanyanya sambil berderai air mata.
"Kamu tidak boleh pergi. Kamu istriku. Sampai kapanpun kau harus tetap bersamaku."
Alvin menyeret Aya dan menghempaskannya ke ranjang sampai sang istri terlentang. Ia membuka baju Aya dengan paksa.
"Jangan lakukan ini." Tangis Aya semakin kencang.
"Diam. Aku sudah menunggu terlalu lama. Kau menguji kesabaran ku." Setelah Aya tak memakai sehelai benang pun Alvin beralih membuka pakaiannya sendiri sampai keduanya sama sama telanjang.
Aya mencoba menutupi tubuh polosnya dengan selimut namun Alvin menarik selimutnya hingga tubuh indahnya terpampang dengan jelas. Ia mengalihkan pandangannya ke samping agar tak melihat tubuh suaminya. Alvin mencengkram dagu Aya dan memaksa mata wanita itu untuk menatap tubuhnya. "Aku suamimu. Kau harus melihat tubuhku." Kata Alvin sambil membelai paha Aya dengan lembut.
Alvin mengunci tangan Aya yang terus memberontak. Ia menciumi wajah dan seluruh tubuh istrinya tanpa terlewat sedikitpun. Jejak kemerahan memenuhi tubuh indah Aya yang kontras dengan kulit putihnya. Lenguhan dan tangisan memenuhi ruangan kamar. Alvin terus mencium bibir istrinya dan tangannya tak berhenti bergerilya.
Aya terus menggeliat di bawah suaminya karena merasakan sensasi aneh dalam tubuhnya. "Ah.." ******* Aya membuat Alvin semakin bersemangat.
"Bagus sayang mendesahlah. Suara indahmu mengalun di telingaku. Membuatku semakin bergairah. Kita akan mulai sayang." kata Alvin dengan suara sensasionalnya memulai penyatuan mereka.
"Sakit." Kata Aya benar benar merasa kesakitan.
"Tahan sebentar Sayang. Nanti kau akan terbiasa." Kata Alvin meneruskan aksinya.
Alvin mengulangnya beberapa kali dan menyudahinya meski belum puas. Bahkan Ia tak akan pernah puas dengan tubuh candu istrinya. Ia merasa kasihan pada Aya yang sudah kelelahan. Peluh membasahi keduanya menjadi saksi kedua suami istri itu telah melakukan kewajibannya meskipun dengan cara yang tak biasa.
__ADS_1
"Kau akan segera hadir di sini. Kau akan membuat ibumu tetap bersamaku." Kata Alvin mengelus perut Aya yang sudah tertidur pulas karena kelelahan. Alvin menyelimuti Aya dan dirinya sendiri. Ia memeluk istrinya dengan erat. "Terimakasih dan Maaf." Kata Alvin mengecup bibir mungil Aya. Kemudian memejamkan mata untuk menyusul sang istri ke alam mimpi.