
Alvin menghampiri istrinya yang sibuk menyiapkan baju kerja.
"Mandi sana. Ini sudah jam berapa. Kamu nanti telat. Katanya mau ada janji sama orang."
"Nanti dulu Yang. Masih pengen peluk begini."
"Udah deh. Mandi gih. Bajunya sudah siap."
"Iya. Iya." Alvin mengecup pipi istrinya lalu bergegas mandi.
"Yang pakaikan dasiku."
"Iya."
"Daniel. Kamu udah rapi aja."
"Iya Yah. Hari ini Daniel mulai masuk kuliah. Ospek. Berangkatnya sama kak Zam, sama Kak Ara."
"Bagus."
"Loh. Kalo kamu ospek bukannya Zam sama Ara libur?"
"Enggak libur Yah Zam ada tanding basket. Kalo Ara tau tuh mau ngapain di kampus."
"Adek kamu kan mau Volley."
"Tuh. Ibu aja tau."
"Ututu tayang. Kakak cuman bercanda tau. Jangan ngambek gitu. Nanti kakak traktir burger sama kentang goreng."
"Jangan kebanyakan junk food. Ga baik."
"Seminggu sekali Yah."
"Kamu nanti juga ikut Niel."
"Iya Kak."
Semua perhatian tertuju pada ketiga remaja yang baru saja keluar dari mobil. Apalagi twins membawa satu sosok yang begitu asing bagi mereka.
__ADS_1
"Kak Daniel ke Aula dulu ya."
"Iya. Hati hati."
"Siapa Zam?" Tanya Rangga setelah Daniel pergi.
"Adek aku?"
"Kapan Tante Aya hamil lagi?"
"Dia bukan adik kandung. Dia anaknya teman Ayah. Diadopsi deh sama Ibu." Jawab Ara.
"Wih Punya adik lagi kalian."
"Iya."
"Udah ah. Aku mau ganti baju dulu. Bye kak."
Ara mencium kakaknya sebelum pergi.
"Bye Ra. Hati hati."
"Aku enggak Ra?"
Tatapan aneh tertuju pada Daniel. Berita karena Ia datang dengan anak pemilik kampus sudah tersebar di mana mana. Pandangan mereka sedikit aneh. Daniel dapat menelisik dari ekspresi wajah orang orang. Ada yang penasaran, ada yang tidak suka dan ada juga yang cuek. Daniel hanya diam. Ia tak heran. Wajahnya sama sekali tidak mirip dengan keluarga Louis dimana terkenal dengan paras tampan, dan cantik hidung mancung dan yang paling identik adalah mata biru kehijauan. Meskipun Daniel berwajah khas orang Eropa. Namun Ia tidak setampan keturunan keluarga Louis. Matanya juga berwarna hitam pekat menurun dari sang ibu. Mereka sudah bisa berasumsi jika Daniel adalah salah satu anak pesuruh dari keluarga Louis yang di sekolahkan.
Di sisi lain. Alvin memasuki hotel tempatnya bertemu dengan klien. "Tuan kami punya firasat tidak baik untuk kali ini. Perusahaan yang ingin investasi dari tuan juga tidak terdaftar." Kata para pengawalnya khawatir.
"Tenang saja. Cukup awasi dari jauh. Kalian jangan ikut masuk."
"Tapi Tuan."
"Ikuti saja perintah saya."
"Baik Tuan."
Alvin menaiki lift untuk menuju ruangan tempat pertemuan berlangsung.
"Selamat datang Tuan Alvin. Silahkan duduk."
__ADS_1
Sapa seorang pria ramah.
"Terimakasih. Bukannya saya minta untuk tidak membawa wanita dalam pertemuan kita." Kata Alvin melihat seorang wanita dengan penampilan terbuka di antara mereka.
"Maaf Tuan. Ini sekertaris saya. Saya pemula di dunia bisnis jadi saya butuh bantuannya."
"Its ok."
"Perkenalkan Tuan saya Rebecca." Kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Anda sudah kenal dan tau nama saya." Kata Alvin tidak mau berjabat tangan.
"Tentu Tuan." Jawabnya sambil tersenyum menggoda.
"Langsung saja. Saya tidak suka basa basi. Kenapa saya harus menanam modal di perusahaan Anda."
Pria itu menjelaskan namun dan wanita mendominasi. Alvin hanya mendengarkan saja.
"Oh begitu." Kata Alvin paham.
"Iya Tuan."
"Oh Iya Tuan. Silahkan makan dulu."
"Ah tidak. Terimakasih. Saya hanya makan masakan istri saya." Tolaknya.
"Kalau begitu minum dulu. Pasti tuan haus."
"Iya." Jawab Alvin sambil menyesap secangkir cappucinonya.
Keduanya tersenyum melihat Alvin sudah tak sadarkan diri.
Beberapa orang masuk untuk membawa Alvin darisana.
"Lakukan seperti apa yang diperintahkan. kamu mengerti?"
"Beres Tuan. Saya akan lakukan yang terbaik." Kata wanita itu bersemangat.
Wanita itu duduk di samping Alvin yang belum sadarkan diri. Ia memperhatikan Alvin yang begitu tampan di usia yang tak lagi muda. Badannya terjaga dengan bagus serta pakaiannya yang sangat rapi dengan aroma maskulin yang khas.
__ADS_1
"Jangan terlalu sombong Tuan. Setelah ini aku yakin Istrimu akan minta berpisah denganmu." Katanya sambil tersenyum.
"Hello Mr. Alvin. Aku akan membuat rumah tangga yang kau bangun selama ini hancur. Istrimu tercinta itu akan jijik denganmu."