
"Semuanya sudah di masukkan?" Tanya Alvin pada supir dan dua pengawalnya.
"Sudah Tuan."
"Bagus." Alvin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah untuk memanggil sang istri. Aya sedang mengobrol dengan pelayan rumah tak mengetahui kedatangan suaminya. Pelukan hangat dari belakang tiba tiba Ia rasakan.
"Sayang. Ayo berangkat. Semuanya sudah siap."
"Iya. Saya berangkat dulu ya." Pamit Aya pada semuanya.
"Hati hati di jalan Nyonya. Tuan."
Mereka mengantarkan majikannya sampai ke depan.
"Jangan biarkan orang asing masuk. Jika ada sesuatu segera laporkan ke saya."
Kata Alvin sebelum masuk ke mobil menyusul istrinya.
"Baik Tuan." Jawab mereka kompak.
"Kamu capek Yang?" Tanya Alvin mengkhawatirkan keadaan istrinya.
"Enggak kok." Jawab Aya yang kini tengah berada dalam pelukan suaminya.
"Aku pijitin Ya."
"Nggak usah. Aku baik baik aja."
"Duduk kamu dah nyaman belum?"
"Sudah."
"Kamu mau sesuatu?"
"Minum Mas. Aku haus."
"Iya." Dengan sigap Alvin membuka botol minum dan memberikannya pada sang istri.
"Sudah?"
Aya menganggukkan kepalanya.
"Mau apa lagi?"
"Enggak lagi mau apa apa."
"Yaudah tidur aja. Kita sampainya masih lama."
"Enggak ngantuk. Emang tempatnya jauh banget ya?"
"Lumayan. 2 Jam dari rumah."
"Oh. Di sana aku boleh masak kan Mas?"
"Nggak."
Alvin teringat sesuatu. Kemarin Aya merengek terus agar suaminya tidak membawa ART dari rumah karena berbagai alasan. Ia sadar sekarang dengan maksud istrinya.
"Oh pantesan kamu ga bolehin aku bawa pelayan dari rumah. Ternyata kamu pengen masak. Tapi sayangnya sudah ada ART di sana. Jadi kamu ga perlu masak." tegas Alvin.
"Aku bosen nganggur terus."
"Kamu temenin aku aja udah kerja namanya."
"Tapi kan..."
"Udah ga usah ngeyel. Di sana sudah ada yang ngurus semua. Ya meski ART di Villa nggak seprofesional di rumah. Minimal tau lah makanan sehat untuk ibu hamil apa."
"Orang sana juga Mas?"
"Iya. Suaminya sama dia yang jaga Villa."
"Oh."
__ADS_1
Alvin membantu istrinya turun dari mobil dengan hati hati. Aya mengedarkan pandangannya mengamati sekitar. Villa yang suaminya beli begitu indah dan mewah dengan dominasi warna putih. Banyak tanaman juga disana. Udaranya sangat sejuk di tambah angin semilir yang berhembus begitu membuat Aya nyaman.
"Kamu suka." Tanya Alvin memeluk istrinya.
"Iya." kata Aya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah kalo kamu suka."
"Makasih Mas."
"Sama sama Sayang." Pria itu mencium bibir dan kedua pipi istrinya.
"Ayo masuk." Alvin menggandeng tangan Aya memasuki Villa.
Seorang wanita dan seorang pria tengah berjalan cepat menuju pasangan suami istri itu.
"Selamat datang Tuan, Nyonya."
"Iya." Jawab Alvin singkat dan Aya tersenyum ramah.
"Semuanya sudah bersih kan?"
"Sedang Tuan. Semuanya bersih. Sesuai yang Tuan minta. Tidak ada debu." Kata wanita paruh baya itu menjelaskan.
"Ini istri saya." Alvin memperkenalkan Aya pada kedua orang itu.
"Cantik banget." Batin mereka menatap Aya.
"Saya Aya." Kata wanita hamil itu sambil tersenyum.
"Saya Sumi Nyonya. Panggil saja Bi Sumi." Katanya sambil menerima uluran tangan Aya untuk bersalaman.
"Saya Tono Nyonya. Penjaga Villa ini."
Memperkenalkan diri dan ikut menyalami Aya.
"Pak Tono sama Bi Sumi suami istri?"
"Iya Nyonya. Kok nyonya tau?"
"Ayo Sayang masuk." Ajak Alvin untuk menyudahi obrolan ketiga orang itu.
"Ini kamar kita Sayang." Alvin membawa Aya untuk istirahat di kamar. Wanita itu langsung melangkah ke balkon yang menarik perhatiannya. "Pelan pelan Yang."
Alvin mengikuti istrinya. Aya berdiri menghirup udara yang begitu segar dalam dalam. Pemandangannya begitu indah dari atas sana.
Alvin memeluk istrinya dari belakang. Melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang ramping wanita yang tengah hamil itu.
"Mas Ayo jalan jalan."
"Nanti sore aja. Kamu harus istirahat dan tidur siang."
"Aku nggak capek kok."
"Tuh kan. Ngeyelnya kumat lagi."
"Ayolah."
"Nanti." Jawab Alvin tegas.
"Kamu juga belum makan." lanjutnya lagi.
"Bi Sumi lagi masak apa?" Tanya Aya memasuki dapur diikuti suaminya.
"Eh Nyonya, Tuan. Lagi masak Tumis daging, Ayam goreng, Capcay, sama udang asam manis Nyonya. Sudah siap. Tinggal pindahkan ke meja saja Nyonya."
"Oh. Ayo makan bareng kalo gitu."
"Tidak usah Nyonya."
"Ayolah Bi. Yang lain juga akan makan sama sama."
"Tapi Nyonya." merasa tidak enak.
__ADS_1
"Turuti saja kemauan istri saya Bi."
"Baik Tuan."
Mereka makan siang bersama sambil sesekali mengobrol.
Selesai makan siang dan sholat Alvin mengajak istrinya untuk tidur siang.
"Ayo Mas." Aya sangat bersemangat untuk jalan jalan sore sesuai yang di janjikan suaminya.
"Iya Ayo." Kata Alvin sambil menggandeng tangan Aya.
Mereka menyusuri jalanan di sekitar Villa. Begitu sejuk, banyak tanaman dan pohon pohon rindang. Alvin membeli Villa yang jauh dari keramaian. Hanya ada villanya saja di lingkungan sana. Ini karena Ia ingin suasana tenang untuk menghabiskan waktu bersama Istrinya.
Suasana sepi sore ini. Matahari masih bersinar namun hawanya begitu sejuk.
"Kebunnya di mana Mas?"
"Di sana." Tunjuk Alvin.
"Emang ada apa di sana?"
"Banyak. Teh, Buah buahan, sampai jagung juga ada."
"Ayo ke sana." Aja Aya pada suaminya.
"Jangan ah. Nanti kamu kecapean."
"Ayolah. Aku pengen lihat." Aya mulai merengek pada suaminya.
"Yaudah." Putus Alvin karena tak tega.
"Semuanya subur. Siapa yang rawat?"
"Pak Tono."
"Sebanyak ini masa pak Tono sendiri."
"Ya enggak lah Yang. Mana sanggup. Ada pekerja lain juga banyak. Tapi lagi pulang."
"Oh."
"Duduk dulu yuk. Kamu udah jalan dari tadi belum istirahat."
"Sebentar." Kata Aya melangkah melepaskan genggaman suaminya.
"kamu mau kemana sih Yang?"
"Mas itu apa?"
"Rambutan."
"Aku mau."
"Ibu hamil boleh makan itu?"
"Boleh kok."
"Kamu aja baru tau itu buah apa. Bisa bisanya bilang boleh makan."
"Tanya aja kalo ga percaya."
"Yaudah sebentar aku ambilkan." Kata Alvin sambil menyimpan ponselnya karena sudah mendapat jawaban dari keraguannya.
Pria itu memetik beberapa tangkai rambutan matang yang tidak terlalu tinggi dan menyimpannya dalam keranjang.
Selesai memetik semua buah yang diinginkan istrinya. Alvin mengajak Aya untuk duduk di gazebo dekat kebun yang Ia sediakan agar ketika istrinya kesini dapat beristirahat. Pria itu begitu mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Apapun Ia lakukan untuk sang istri. Untuk kenyamanan dan kebahagiaan wanita yang begitu Ia cintai.
'Hanya Untuknya.' Batin Alvin memandang lekat istrinya.
"Manis." Kata Aya.
Alvin mencium kedua pipi istrinya gemas. Pipi merah jambu Aya menggembung karena sedang memakan rambutan yang di kupaskan oleh suaminya.
__ADS_1
"Lihatlah Ibu begitu menggemaskan." Kata Alvin mengelus perut Aya seolah mengajak kedua anaknya berbincang.