Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Andaikan dari Dulu


__ADS_3

Aya memasuki rumah setelah mengantar Mama, Oma dan Papanya yang berkunjung tadi.


Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamar anak anak. Kedua bocah itu tengah tertidur pulas dengan Darren dan Ano.


"Sayang." Panggil Alvin pelan takut akan membangunkan kedua anaknya. Si kembar tertidur adalah sebuah keberuntungan. Jadi dia bisa menghabiskan waktu dengan sang Istri.


"Ada apa Mas?" Tanya Aya menutup pintu kamar dengan hati hati.


"Mau mandi atau makan dulu?" lanjutnya lagi.


"Mau mandi sama kamu."


"Aku baru aja mandi." Katanya sambil berjalan menuju kamar.


"Mandi lagi aja."


"Nggak ah. Aku siapin air sama baju kamu dulu."


"Yah kok gitu." Keluh Alvin menyusul langkah sang istri menuju kamar mandi.


Selesai makan siang Aya merasa tidak enak badan. Alvin membawanya ke kamar dan membuatkan minuman hangat.


"Diminum dulu Yang." Alvin membantu istrinya.


"Makasih Mas."


"Sama sama. Kamu istirahat dulu aja."


"Iya." Aya menyelimuti tubuhnya karena merasa dingin.


Alvin menaiki ranjang memeluk istrinya erat untuk memberi kehangatan.


"Kamu pasti capek."


"Enggak kok."


"Iya. Buktinya kamu jadi demam begini. Aku panggil dokter ya. Dari tadi kamu nolak mulu."


"Nggak mau. Aku mau istirahat aja."


"Yaudah tidur. Aku peluk kamu biar hangat." Alvin semakin mengeratkan peluknya.


Selesai makan malam. Semua menemani Aya yang masih terbaring lemas di ranjang.


"Ibu cepat sembuh ya." kata Azzam dan Ara mencium pipi Aya.


"Iya Sayang."


"Nanti kita temani Ibu tidur."


"Jangan. Ibu butuh istirahat. Kalian tidur sendiri." Cegah Alvin agar anak anaknya tidak ikut tidur dengannya.

__ADS_1


"Mas." Aya memperingati suaminya.


"Emang bener kan Yang. Kamu butuh istirahat."


"Yaudah. Kita tidur sendiri. Biar Ibu cepat sembuh." Kata keduanya.


"Aya kamu sakit?" suara dua orang lelaki bersamaan memasuki kamar.


Aya mendudukkan diri melihat kedatangan mereka.


"Kalian apaan sih. Berisik tau." Ketus Alvin melihat kedatangan Rio dan Darwin.


"Iya nih para Om,Om. Suka datang tiba tiba deh."


Kata Darren.


"Biarin." Sahut mereka mendudukkan diri di sofa dekat ranjang Aya.


"Cuman kecapean aja Om. Om Darwin sama Om Rio darimana. Tumben nggak makan malam disini?"


"Oh. Aku udah makan di rumah Rio. Meskipun cuman mie instan."


"La aku cuman bisa masak itu aja."


"Kalo masih lapar. Minta makan sama Bibi. Tadi masih ada banyak kok."


"Iya tenang aja. Nanti kita makan. Sekalian kita nginep di sini. Boleh kan?"


'Hm. Rumah dah kaya penampungan perjaka tua.' Batin Alvin.


"Zam sama Ara mau ikut Om Darwin nggak?"


"Enggak. Maunya sama Ibu aja." Jawabnya sambil memeluk Aya.


"Sukurin." Rio mengejek Darwin.


"Kalian kesini jenguk orang sakit tangan kosong?"


"Mas apaan sih."


"Tenang Vin. Kita bawa sesuatu kok."


"Apa?"


"Kita bawa martabak."


"Ini." Rio membukanya.


"Kalian beling pinggir jalan?"


"Iya. Tapi di jamin higienis dan enak."

__ADS_1


"Boleh ya Mas?"


"Boleh Ya. Makan aja. Suamimu itu memang aneh." Kata Darwin mewakili Alvin.


Mereka semua makan martabak dengan lahap kecuali Alvin yang terlihat tidak tertarik sama sekali.


"Gimana enak kan?"


"Enak Om. Baru pertama kali aku makan ini."


"Apa gunanya kamu punya harta banyak. Martabak aja nggak pernah makan."


"Nggak boleh sama itu." Katanya sambil menunjuk sang suami.


"Kan demi kebaikan kamu juga Yang."


"Ngeles aja kamu Vin."


"Ya pinjem duit boleh?"


"Kenapa pinjem? Dah miskin ya kamu." Tanya Darwin.


"Nggak gitu. Aku punya hutang di toko bangunan tadi. Aku ga ada uang cash."


"Berapa Om?"


"2,5."


"Sebentar aku ambilkan."


"Biar aku aja Yang."


"Yaudah."


Beberapa saat kemudian Alvin kembali.


"nih." Menyerahkan amplop coklat pada Rio.


"Nanti aku ganti."


"Nggak usah Om. Ambil aja."


"Jadi nggak enak aku."


"Modus. Dalam hati seneng tuh." Kata Darwin menyindir.


Suasana kembali tenang setelah semua kembali ke kamar masing masing. Alvin memeluk istrinya yang tengah tertidur dengan nyaman selepas minum obat. Ia merasakan kebahagiaan Sekarang. Hidupnya begitu lengkap dan damai.


Di sisi lain seorang pria tengah menatap langit langit kamar. Ia begitu bahagia. Hidupnya kini lebih berwarna dengan keluarga barunya. Meskipun tak bisa bersama Aya. Namun setidaknya Ia bisa terus dekat dan melindunginya. Darwin sangat beruntung dapat merasakan kehangatan keluarga ini. 'Andaikan dari dulu' batinnya.


Kini Darwin benar benar memiliki keluarga.

__ADS_1


Semua orang akan membantunya mengatasi masalah yang tengah dihadapi. Ia merasa tak sendiri sekarang. Selalu ada mereka yang mensupport dari belakang. Seperti kejadian beberapa waktu lalu. Ia sangat berterimakasih pada Aya yang terus memberikan dukungan untuk nya yang saat itu hampir menyerah Setelah bertahun tahun berusaha dengan susah payah. Ia dinyatakan sembuh dari trauma yang di deritanya. Sudah beberapa tahun belakangan Ia menyudahi untuk terapi. Namun berkat nasihat dari Aya. Tekadnya untuk sembuh datang kembali. Ia ingin benar benar sembuh dari ingatan buruk ketika sang Ibu menjualnya sebagai pekerja di kapal dulu. Ia mendapatkan siksaan fisik dan Verbal. Hingga Ia kabur dan tinggal di panti asuhan yang kemudian di adopsi oleh Oma Aya. Selalu ada jalan yang Tuhan siapkan. Darwin kini lebih dekat dengan sang pencipta. Wanita itu, telah mengajarinya sholat dan mengaji. Alvin sama sekali tidak keberatan. Ia dengan ikhlas memperbolehkan sang istri mengajari Darwin. Ia tentu ikut juga. Tidak mungkin membiarkan Darwin dan Aya berdua saja.


__ADS_2