
Alvin menghampiri istrinya yang tengah duduk di balkon kamar. Ia mencium pipi Aya kemudian ikut duduk di sofa sambil memeluk hangat wanita itu.
"Masuk yuk dingin. Nanti kamu sakit."
"Nanti dulu Mas."
"Mas Aku kangen sama anak anak deh."
"Kemarin kan kita baru jenguk mereka Yang."
"Iya. Tapi masih kangen. Berasa sepi aja. Kalo ada mereka pasti rame."
"Sabar aja. Hari Minggu nanti mereka kan pulang. Kurang dua hari lagi. Sabar ya."
"Iya."
"Yang."
"Ya."
"Tidur yuk. Aku udah ngantuk."
"Iya. Ayo." Alvin menggendong Aya dan membaringkannya di ranjang dengan hati hati. Ia ikut berbaring di samping Aya dan memiringkan tubuhnya untuk melihat wajah memikat sang istri.
"Mas kenapa perasaan aku nggak enak ya?"
"Nggak enak gimana?"
"Ga tau ada yang mengganjal gitu. Firasat aku ga enak aja."
"Mungkin hanya perasaan kamu. Sekarang tidur aja."
"Iya." Jawab Aya berusaha memejamkan mata dalam dekapan hangat suaminya.
Sore hari entah kenapa perasaan Aya semakin tidak enak. Ia hanya mondar mandir cemas di dalam kamar. Ponselnya tiba tiba bergetar menandakan panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Ia dengan cepat mengangkatnya.
....
"Waalaikumsalam. Iya saya sendiri."
....
...
"Iya saya akan segera kesana."
..
"Waalaikumsalam."
Aya menerobos masuk ke walk in closet sambil berganti baju dengan gamisnya.
Ia buru buru keluar.
"Mas. Ayo ke pesantren sekarang." Ajak Aya ketika Alvin baru saja memasuki kamar.
"Ada apa Yang?"
"Buruan ganti baju. Ara demam."
"Iya. Tunggu sebentar." Alvin bergegas mengganti bajunya.
Perjalanan menyita waktu cukup lama karena sedikit mancet sore ini.Alvin memeluk istrinya untuk menenangkan wanita yang tengah cemas itu.
"Jangan cemas gitu Yang. Ara akan baik baik aja kok."
"Aku khawatir Mas."
"Iya. Mas tau. Berdoa aja ya."
__ADS_1
"Iya."
Sampai di sana Aya langsung bergegas turun mengabaikan suaminya. Ia menuju kamar sang putri untuk melihat kondisinya.
"Assalamualaikum." Kata Aya melihat pak Kyai dan para pengurus pondok pesantren tengah berada di depan kamar anak perempuannya.
"Waalaikumsalam." Jawab mereka semua.
Aya langsung masuk melihat kondisi putrinya.
Ia memeluk Ara yang tengah tertidur dengan kondisi badan yang masih panas.
"Semalam demam Nak Aya. Terus memanggil Ibunya. Mau di bawa ke rumah sakit tidak mau. Ara cuman minta ketemu sama nak Aya." pak Kyai menjelaskan.
"Tadi Tuan Alvin di hubungi tetapi tidak diangkat. Jadi pak Kyai minta nomor Bu Aya dari Kakek Bu Aya." Kata salah satu Ustadz.
"Maaf Ustadz. Mungkin suami saya sedang sibuk tadi jadi tidak mengangkat telfonnya."
"Assalamualaikum." Zam datang dengan Alvin ikut masuk ke dalam menjumpai Ibunya.
"Ibu." Zam memeluk Aya erat.
"Iya sayang." Aya mengusap lembut pipi Azzam.
"Ibu." Panggil Ara membuka matanya.
"Iya sayang."
"Ara kangen Ibu. Ara mau pulang sama Ibu."
"Iya sayang kita pulang."
"pak Kyai saya Izin bawa anak anak pulang ya. Maaf sudah merepotkan."
"Tidak merepotkan Nak. Sudah biasa kejadian seperti ini. Mereka hanya butuh menyesuaikan diri."
"Waalaikumsalam. Hati hati."
Aya menggendong putrinya.
"Biar Ara sama aku aja Yang. Nanti capek kamu."
"Gamau sama Ayah." Kata Ara mengeratkan pelukannya ke leher sang Ibu.
"Iya. Iya. Sama Ibu."
Semuanya memasuki mobil untuk pulang.
Sampai di rumah Aya langsung mengganti pakaian anaknya.
"Ara istirahat dulu ya. Ibu mau ambil makan untuk Ara."
"Ibu cepat kembali."
"Iya sayang Ibu cuman sebentar."
Aya pergi mengambil makanan.
"Masih sakit sayang?"
"Udah enggak Yah."
"Iya kan Adek mintanya pulang. Sekarang udah pulang. Udah sembuh kan?"
"Kak Zam juga minta pulang." Katanya sambil cemberut.
Semua orang tengah berkumpul di kamar Ara untuk menjenguk gadis kecil itu.
Aya selesai menyuapi dan memberi obat Ara langsung memangku sambil mendekap hangat. Putrinya tak mau berpisah dengannya sedetik pun.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu sayang?"
"Sudah baik Oma." Jawabnya lemas.
"Kan Om Rio udah bilang di pesantren ga enak."
"Diem kamu." Kata Alvin.
"Ibu Ara nggak mau ke pesantren lagi. Ara nggak betah. Ara nggak bisa jauh dari Ibu."
"Zam Juga Bu. Disana nggak enak. Zam ga betah."
"Iya. Iya. Kalian nggak usah kembali ke pesantren lagi." Darwin menenangkan kedua bocah itu.
"Tapi Ayah maksa."
"Ayah nggak maksa. Ayah cuman pengen kalian coba aja."
"Sama aja Vin. Awalnya mereka kan bersikeras ga mau."
"Bukan gitu kak. Lagian tiap tiga hari sekali aku sama Istri kan jenguk juga."
"Iya. Tapikan mereka ga nyaman Vin. Kamu ini gimana."
"Ibu juga dulu paksa aku buat ke pesantren."
"Itu beda ceritanya. Kamu ga inget dulu bandel banget. Ibu sampai pusing. Sering bolos, Keluyuran ga jelas. Maklum dong Ibu suruh kamu ke pesantren. Kalo anak anak kamu kan penurut. Untung di didik Ibunya. Kalo yang didik kamu hash....Ibu nggak bisa bayangin." Kata Nenek sambil menggelengkan kepalanya.
"Om Alvin dulu bandel Nek?" Tanya Ano.
"Iya. Om kamu itu suka bikin masalah."
"Kok sekarang udah berubah."
"Udah berubah dari dulu. Semenjak ada Kakak kamu dia hampir ga pernah keluar. Siang malam jagain mulu. Pulang sekolah langsung di rumah. Nggak kelayapan lagi."
Cerita Kakek membuat Mama dan Papa Aya terdiam hanyut dalam pikirannya.
"Emang Ayah sama Ibu kenalnya gimana? Kok Ayah bisa jagain Ibu?" Tanya Azzam pada mereka.
"Itu.." Jawab Daddy kebingungan.
"Ceritanya panjang Zam. Zam masih kecil tidak boleh tau. Ini rahasia."
"Yasudah."
"Ibu nanti temani Ara tidur di sini ya. Tapi Ayah ga boleh ikut. Ara maunya cuma sama kakak sama Ibu."
"Ga bisa dong. Dimana ada Ayah harus ada Ibu." Protes Alvin membuat semua menahan tawanya.
"Enggak boleh. Kalo Ayah ikut tidur, Ara nanti ngambek. Ayah udah pisahin aku dan kak Zam sama Ibu berhari hari."
"Ayah ga pisahin kalian sama Ibu."
"Pokoknya Ayah ga boleh ikut kita tidur."
"Yang." Keluhnya pada sang istri.
"Nggak tau Mas. Aku nggak ikut ikutan. Terserah anak anak gimana aja."
"Ih kok gitu."
"Yaudah sih Vin. Kamu tidur sendiri aja."
"Enak banget ngomong gitu."
"Atau kamu mau nginep di rumah aku aja Vin. Masa aku sama Rio yang nginep di sini terus."
"Nggak. Di rumah aja. Makasih." Tolaknya sambil cemberut membuat Rio dan Darwin tertawa.
__ADS_1