Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Poliandri


__ADS_3

Zam, Ara dan Alvin memeluk Aya begitu wanita itu tiba tiba sampai di rumah. "Kenapa nggak kasih kabar sih. Kan kita bisa jemput."


"Nggak papa. Zam sama Ara oleh olehnya kalian antar ke rumah Oma, Papa dan Daddy ya. Disitu sudah ada namanya."


"Ibu nggak ikut?"


"Ibu baru sampai masih capek. Kalian pergi sendiri diantar pak supir ya."


"Iya Ibu. Kita ganti baju dulu."


"Ini kita bawa ya Ibu. Kita berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Mas aku pengen ngomong penting sama kamu." Kata Aya setelah kedua anaknya pergi.


"Ngomong aja Yang."


"Tapi nggak disini. Kita ke kamar."


"Iya."


"Ada apa Yang?" Tanya Alvi saat Aya hanya terdiam belum mengatakan sesuatu.


"Coba kamu jelaskan masalah ini." Aya mengeluarkan amplop coklat.


Alvin dan membukanya. Ia begitu terkejut dengan apa yang ada di tangannya saat ini. Semua bukti kebohongannya sudah terbongkar.


"Yang aku bisa jelaskan."


"Jelaskan."


"Ini memang bukan surat wasiat dari Ibu aku. Aku memalsukannya supaya aku bisa nikahin kamu. Aku cinta sama kamu. Aku nggak mau kamu di miliki orang lain selain aku. Maaf aku egois dan maaf juga karena aku telah bohongin kamu dan semuanya. Aku menyesal Yang. Tapi aku sama sekali nggak punya niat jahat. Aku cuma pengen hidup bahagia sama kamu."


"Aku paling nggak suka di bohongi Mas. Selama belasan tahun kamu bohongi aku."


"Maaf Yang. Aku salah." Alvin memeluk istrinya erat kemudian duduk berlutut sambil menggenggam tangan istrinya.


"Aku minta maaf. Jangan tinggalin aku." Kata Pria itu sudah tak dapat lagi menahan air matanya.


"Berdiri Mas." Aya membantu Alvin berdiri kemudian mengusap air mata pria itu.


"Aku maafin kamu. Jangan cengeng. Aku nggak suka."


"Terimakasih." Alvin memeluk Aya lagi untuk kesekian kalinya.


"Jangan ada kebohongan lagi mulai sekarang. Kamu harus janji sama aku."


"Iya. Aku nggak bohong lagi."


"Bagus. Sekarang lepas. Aku mau mandi dulu."


"Ayo."


"Nggak. Aku mau mandi sendiri."


"Aku pengen temenin." Alvi tak menghiraukan peringatan Istrinya langsung menyusul ke kamar mandi.


"Sudah di antar?"


"Sudah. Semuanya bilang terimakasih."


"Kalo punya Bini sama Paman yang kerja sudah di bagikan?"


"Sudah Ibu. Mereka bilang terimakasih."


"Bagus."


"Ibu nggak beli bakpia?"


"Itu di atas meja. Cari dulu dong. Tanya mulu" Sewot Alvin.

__ADS_1


"Mas."


"Iya. Iya."


"Ibu. Nanti kita tidur bareng ya."


"Nggak Ayah yang boleh tidur sama Ibu."


"Kita kangen sama Ibu."


"Ayah juga. Pokoknya kalian tidur sendiri. Jangan ngebantah." tegas Alvin.


Pagi hari Aya selesain mengantar keluarganya ke depan rumah Aya langsung kembali lagi ke kamar untuk menemani suaminya. Pria itu semalam demam tinggi.


"Makan dulu ya Mas. Kamu harus minum obat."


"Suapi."


"Biar Ara aja. Ibu istirahat gih. Dari semalem kan jagain Ayah terus."


"Enggak mau. Ayah mau di suapi Ibu."


"Iya. Makan dulu." Aya mulai menyuapi suaminya.


"Kamu masak buburnya sendiri?"


"Iya."


"Pantesan enak. Kalian berdua nggak ke kampus?"


"Libur Yah. Tanggal merah."


"Kebetulan Ayah lagi pengen makan puding. Ra. Bikinin Ayah puding coklat Ra."


"Sama Ibu."


"Ibu disini jagain Ayah."


" Kamu juga Zam. Bantuin adik kamu."


"Masa Zam disuruh masak."


"Ga papa. Sana pergi."


"Iya. Iya." Aya hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alvin. Ia tau maksud terselubung pria itu. Alvin hanya tak ingin di ganggu kedua anaknya.


"Mas." Kaget Aya karena tiba tiba di tarik pria itu kemudian dipeluk dengan erat.


"Aku kangen kamu."


"Kita udah ketemu."


"Aku kangen. Ayo kita lakukan sebentar."


"Kamu lagi sakit."


"Aku bisa kok. Kamu nggak tau aja aku tersiksa gara gara tiga hari nggak sama kamu. Sekarang kamu harus bayar."


"Mau lunas atau di cicil sama nanti malam juga?"


"Jangan aneh aneh. Nanti anak anak datang."


"Aku sudah kunci pintunya. Aku udah nggak tahan." Alvin langsung melepas semua pakaiannya dan mulai mencumbu istrinya sampai puas.


"Enak nggak Yah?"


"Enak?"


"Ayah kenapa senyum senyum?" Tanya Zam heran.


"Memangnya kamu mau Ayah galak lagi?"

__ADS_1


"Ga Papa. Kalo gini jadinya serem malahan."


"Dasar."


"Ibu mana Yah?"


"Lagi mandi."


"Kok mandi lagi. Prasaan udah mandi tadi pagi."


"Biarin Ibu kan orangnya bersih."


"Vin. Sakit kamu?" Tanya Darwin menerobos masuk bersama Rio.


"Dah tau tanya."


"Papa sama Daddy." Mereka langsung mencium tangan kedua pria itu.


"Om sudah lama?" Tanya Aya baru keluar dari walk in closet.


"Baru juga duduk."


"Kamu wangi banget Ya. Habis mandi ya."


"Iya Om."


"Ya. Lemon kamu lagi berbuah nggak? Aku minta."


"Ada Om. Ayo aku petikan."


"Apa sih Yang. Biar Darwin petik sendiri."


"Mana Om Darwin tau yang berbuah sebelah mana."


"Biar tanya tukang kebun."


"Lagi libur. Kan tanggal merah."


"Ayo ya. Ga usah dengerin suami kamu." Darwin langsung menggandeng tangan Aya untuk keluar.


"Mau kemana Vin? Kamu lagi sakit duduk aja disini."


"Aku mau susulin mereka lah."


"Biarin. Kamu nggak percayaan aja jadi orang. Kamu kenal istri kamu sama Darwin bukan cuman setahun dua tahun."


"Iya." Alvin menuruti Rio.


Keluarga kecil Alvin tengah menonton film bersama. Rio dan Darwin juga ikut karena mereka akan menginap.


"Ya. Hukum poliandri tu gimana sih?"


"Nggak boleh kalau di Indonesia baik secara norma, hukum, maupun agama."


"Kok gitu. Kita laki laki aja boleh istrinya empat."


"Beda itu Om. Laki laki boleh beristri lebih dari satu asalkan bisa bersikap adil dan istrinya setuju. Kalo perempuan nggak boleh poliandri. Perempuan nggak boleh dinikahi jika masih terikat pernikahan dengan laki laki lain."


"Kenapa begitu Ya?"


"Ini berhubungan sama ahli waris. Karena kurangnya kepastian mengenai keturunan yang dihasilkan. Misalnya suaminya empat istrinya hamil nggak jelas juga itu anak suami yang mana."


"oh iya juga. Kirain poliandri boleh. Kalo boleh aku sama Darwin mau jadi suami kamu."


Alvin tersedak mendengar perkataan sahabatnya itu. "Kurang ajar. Bosen hidup kalian."


"Mas. Cuma bercanda, jangan emosian."


"Kamu belain mereka Yang?"


"Bukan gitu. Udah ah." Zam dan Ara hanya mengamati mereka yang sedang berdebat dengan fokus.

__ADS_1


__ADS_2