
Keluarga Alvin tengah sarapan bersama ditambah Daniel di tengah tengah mereka.
"Ibu. Ayah. kita berangkat dulu ya."
"Iya. Hati hati."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Yang. Pakaikan dasiku dong."
"Iya." Aya memakaikan dasi untuk suaminya.
"Kamu nggak sekolah Niel?"
"Libur Om."
"Oh iya. Lupa."
"Udah Mas. Berangkat gih."
"Iya. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum." Alvin mencium kening istrinya.
"Waalaikumsalam. Hati hati."
"Iya Sayang."
Daniel sangat ingin memiliki keluarga bahagia seperti mereka.
"Kok melamun. Sarapannya di habiskan."
"Iya Ma." Melanjutkan makan.
Daniel tengah duduk manja bersama Aya di teras belakang. "Daniel. Mama boleh tanya sesuatu sama kamu?"
"Boleh Ma."
"Sebenarnya Agama kamu itu apa?"
"Daniel Muslim Ma. Sama seperti Papa."
"Oh. Papa kamu muslim?"
"Iya."
"Tapi Maaf Sayang, Mama kok ga pernah lihat kamu sholat."
"Daniel lupa caranya sholat Ma. Dari kecil nggak ada yang ajarin Daniel sholat. Daniel juga nggak punya teman muslim. Rata rata mereka non Islam. Jadi Daniel mau belajar agama juga susah. Sedangkan Papa sibuk sendiri dengan pekerjaannya."
"Jadi kamu nggak bisa sholat sama sekali?"
"Bisa. Daniel baca buku kok Ma. Cuma Daniel suka lupa bacaannya aja. Daniel juga nggak bisa ngaji."
"Mau Mama ajarkan ngaji sama sholat Sayang?"
"Makasih Ma. Kita belajar sekarang?"
"Iya. Kamu wudhu dulu. Tau caranya wudhu kan?"
"Tau Ma. Tunggu sebentar ya."
"Iya."
Daniel sudah selesai wudhu langsung kembali menghadap Mamanya. Ia mulai belajar mengaji dari huruf Hijaiyah dasar. Anak itu begitu antusias dan cepat menangkap apa yang di ajarkan Aya padanya. Dengan sekali belajar Ia sudah bisa membaca meski masih terbata bata.
Seorang penjaga menghampiri Alvin yang hendak makan siang dengan keluarga. "Tuan. Ada tamu."
"Siapa?"
"Aduh. Saya lupa tanya namanya Tuan."
"Laki laki atau perempuan?"
"Laki laki. Wajahnya oriental China."
"Papa kamu ya Niel?"
"Masa Papa Om? Mau apa kesini."
"Suruh masuk aja."
__ADS_1
"Iya. Tuan."
Sosok pria memasuki ruang makan.
"Papa."
"Hy Niel." Felix mengusap rambut anaknya.
"Tuan Felix. Silahkan duduk." Sambut Alvin ramah membuat Aya sedikit terkejut.
"Terimakasih Tuan. Panggil saja Felix."
"Ya."
"Nona Aya apa kabar?"
"Baik."
"Kita makan siang sama sama."
"Terimakasih Tuan."
"Ayah sama Om Felix saling kenal?"
"Iya. Om Felix rekan kerja Ayah."
"Bagaimana masakan Istri Saya?"
"Enak. Sangat enak." Jawabnya di sela sela makan.
"Memangnya Oma sama Bibi sudah pulang Pa?" Tanya Daniel saat mereka berkumpul setelah makan siang.
"Maaf ya Niel. Mereka belum pulang."
"Nggak papa Pa. Papa nggak salah."
"Felix. Sebenarnya kamu tau nggak perlakuan Mama, Kakak sama keponakan kamu ke Daniel?"
"Aku tau Kak. Tapi apa daya. Posisi Daniel sangat rentan disini. Dia tidak memiliki darah keturunan keluarga kami. Jadi...."
"Ya. Aku paham."
"Ma. Boleh kan aku nginep di sini lagi?"
"Nggak papa kok Kak. Boleh Sayang. Nginep aja sesuka kamu. Mupung libur."
"Makasih Ma."
"Sama Sama."
"Ibu. Ayo temenin Ara."
"Mau kemana?"
"Belanja. Di depan."
"Aku ke minimarket depan ya Mas."
"Iya. Jangan lama lama."
"Aku ikut boleh Ma?"
"Ayo."
Mereka meninggalkan kedua pria itu untuk mengobrol.
"Jadi bagaimana Kak?"
"Maksud kamu?"
"Dua orang itu."
"Mereka sudah tidak akan mengganggu keluargaku lagi. Makasih atas bantuanmu waktu itu. Jika saja terlambat sedikit nyawa istriku tidak akan tertolong." Kata Alvin berterimakasih karena Felix memberi bantuan saat keadaan lalulintas mancet. Pria itu memanggil ambulance agar cepat sampai di rumah sakit.
"Sama sama. Kita sudah sepantasnya saling menolong."
"Tidak mau menikah lagi?"
"Tidak. Luka yang dulu masih berkesan. Cukup Daniel saja temanku hidup."
"Kau orang baik. Buktinya kau mau merawat dengan baik anak dari selingkuhan istrimu."
__ADS_1
"Anaknya tidak salah. Yang salah orang tuanya. Aku ingin Daniel jadi anak baik. Tidak seperti orangtuanya kelak."
"Apa mereka tidak pernah menanyakan kabar Daniel?"
"Sama sekali tidak."
"Dimana mereka sekarang?"
"Di Hongkong. Wanita itu punya dua anak sekarang."
"Apa pekerjaan suaminya?"
"Suaminya seorang pegawai bank. Dia juga punya satu orang anak gadis dengan istri lamanya. Kira kira umurnya 20 tahunan."
"Wah. Detail sekali pengetahuanmu tentang mantan."
"Hanya mencari tahu. Jika suatu saat nanti Daniel tanya aku sudah punya jawaban."
"Apa kau memaafkan mereka?"
"Ya. Tapi untuk sekedar berbicara dan melihat aku tidak mau. Aku takut lepas kendali. Lalu bagaimana dengan Kakak? Apa bisa memaafkan yang sudah membuat kesalahan?"
"Aku tidak memaafkan. Bahkan jika istriku tidak melarang. Aku akan membunuh kedua orang itu dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan berbelas kasihan terhadap siapapun yang berani menyakiti atau menyentuh Istriku. Apalagi mereka yang sudah kami anggap seperti keluarga sendiri dengan teganya melakukan hal keji seperti itu."
"Sabar kak. Mereka akan mendapat karmanya. Bagaimana hidup mereka disana?"
"Seperti biasa. Namun hidupnya tidak akan tenang dibayang bayangi oleh kesalahan. Aku tidak mengizinkan mereka untuk berkomunikasi ataupun bertemu dengan orang orang yang aku sayangi. Aku dengar kesehatannya menurun akhir akhir ini."
"Lalu bagaimana dengan mertua?"
"Sama. Aku juga melarang mereka untuk bertemu istri dan keluargaku. Kak Aslan juga sudah memberi peringatan."
"Felix."
"Ya."
"Maaf telah menuduhmu berselingkuh dengan istriku. Maaf karena mencium istriku di depanmu waktu itu."
Felix terkekeh mendengar penuturan Alvin. "Santai saja."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Beli apa banyak banget. Pasti Ara ni biangnya." Melihat lima kantong kresek besar.
"Enggak. Kak Zam tuh."
"Ini buat Mabar nanti malam Yah. Ayah ikut nggak?"
"Kamu Zam. Tiap hari game mulu. Main di luar sana. Anak anak kompleks pada nanyain tuh."
"Iya. Sore nanti Zam mau Volly. kamu ikut nggak Niel?"
"Emang Boleh?"
"Boleh."
"Yaudah Daniel ikut."
"Ibu mana?"
"Disini. Mas aku bikin rujak ya."
"Ya. Jangan pedes pedes."
Aya bergegas ke dapur untuk membuat rujak.
Semuanya tengah menikmati rujak buatan Aya.
"Enak banget." Kata Felix makan dengan lahap.
"Papa malu maluin."
"Biarin."
"Felix. Kalo kamu mau kamu petik buah aja di kebun belakang. Nanti biar sambelnya istri aku yang bikin."
"Nggak ngrepotin nih?"
"Enggak."
"Makasih ya."
__ADS_1
"Iya."-