
"Nyonya dan Tuan sudah datang." Pak Tono dan Bi Sumi menyambut mereka.
"Iya. Kenalin ini kedua anak, Om dan juga adik adik saya." Kata Aya memperkenalkan mereka.
"Pinter nya. Ganteng dan cantik pula." Kata Bi Sumi melihat si kembar mencium tangannya.
"Namanya siapa sayang?" tanya pak Tono ramah.
"Azam dan ini adik Zam. Namanya Ara." Jawabnya sambil merangkul adik perempuannya.
"Ayok masuk." ajaknya setelah semuanya berkenalan.
"Semuanya sudah bersih kan Bi?" tanya Alvin memastikan.
"Sudah Tuan. Jangan khawatir."
"Bagus."
"Kalo gitu saya permisi siapkan minum dulu ya."
"Nggak usah Bi. Kita baru aja minum kok. Tadi di jalan.
"Yasudah. Bibi ke dapur dulu. Nanti kalau perlu sesuatu tinggal panggil ya."
"Iya Bi."
"Kamar kita mana Vin?"
"Diatas semua. Sudah ada namanya di pintu. Jangan ribut."
"Iya. Iya."
"Kita ke atas dulu ya."
"Iya."
Alvin dan Aya duduk bersama kedua anaknya setelah mereka ke kamar masih masih.
Pria itu bersender manja di pundak sang istri yang tengah memangku kedua anaknya.
"Yang."
"Hm.."
"Yang."
"Apa sih mas?"
"Kamu cuekin aku." manjanya sambil memainkan rambut Aya.
"Ih jangan kaya anak kecil deh. Dah tua juga. Aku mau ke kamar dulu. Anak anak ngantuk."
Alvin mengikuti istrinya yang menggandeng si kembar.
"Kok kamar kita Yang. Mereka ada kamar sendiri. Sini aku tunjukin."
"Yaudah."
"Mau tidur sama Ibu." Rengeknya tak membiarkan Aya pergi.
"Iya. Ibu temani." Aya ikut berbaring menemani anaknya sampai tertidur.
Aya tengah menikmati pemandangan yang begitu indah dari balkon kamar selepas memastikan kedua anaknya tertidur pulas. Sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Alvin menciumi pipi merah jambu istrinya. "Kamu kangen pemandangan kaya gini?"
"Iya. Udah lama juga kita nggak ke sini. Kebun buahnya masih ada kan mas?"
__ADS_1
"Masih lah Yang. Terawat dengan baik. Itu kan kesayangan kamu. Mana mungkin aku mengabaikannya."
"Kita kesana yuk."
"Nanti aja. Kita istirahat dulu. Kamu nggak capek apa? dari tadi kan belum istirahat."
"Enggak."
"Kalau aku ngantuk Yang."
"Yaudah tidur sana."
"Temenin dong."
"Aku nggak ngantuk. Mau liat Bi Sumi di dapur dulu." Aya melepaskan pelukannya dan mulai melangkah pergi.
"Selangkah lagi, aku benar benar hukum kamu."
Aya tak menghiraukan suaminya dan terus melangkah.
"Apaan sin mas?" Kata Aya saat tiba tiba Alvin menggendong dan membaringkannya di atas ranjang. Ia memeluk tubuh istrinya erat sampai tak bisa bergerak.
"Aku kan udah bilang. Aku mau hukum kamu."
"Ih. Gerah tau. Aku nggak bisa gerak nih."
Alvin mencium bibir istrinya yang sedari tadi mencoba meronta sambil mengomel.
"Mas. Aku nggak bisa gerak nih. Gerah tau."
"Bagus kalo gitu. Nggak usah pakai baju sekalian."
"Jangan aneh aneh kamu. Aku temenin tidur."
"Peluk."
"Oke."
Aya memeluk suaminya. Alvin menenggelamkan wajahnya ke dada sang istri. Menciumi aroma segar yang membuatnya selalu merindukan. Bibirnya mengecup bagian itu dengan lembut. Tangannya tak berhenti. Menelusup ke baju Aya dan membelai punggung istrinya yang mulus.
Aya membiarkan apa yang dilakukan suaminya. Wanita itu mengusap lembut surai hitam milik sang suami. Perlahan Alvin memejamkan mata menikmati setiap sentuhan dan tertidur pulas.
Sore hari mereka tengah berjalan menyusuri perkebunan. "Loyal banget sama Bini Vin. Di rumah ada kebun. Di sini juga punya kebun."
"Iyalah. Banyak uang mau di kemanakan?"
"Jangan sombong Mas." tegur Aya.
"Iya Yang." Kata Alvin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Darwin dan Rio tertawa melihat Alvin yang seperti anak kecil jika di depan istrinya. Pria arogan itu banyak mengalami pembenahan dari Aya. Meskipun umurnya masih muda, tapi wanita itu cukup dewasa dan bijak dalam setiap tutur kata dan perilakunya.
"Ibu." Ara berlari memeluk Aya.
"Ada apa sayang?"
"Kak Zam nakal."
"Enggak Bu. Zam nggak nakal. Zam cuman ga bolehin Ara makan jeruknya karena asam."
"Tapi kak Zam cubit Ara."
"Kak Zam benar sayang. Nanti kamu sakit perut. Zam juga jangan cubit adiknya dong. Cukup di nasihati aja. Kalo Ara masih bandel bilang sama Ibu. Dah sekarang baikan."
Keduanya saling minta maaf dan berpelukan.
__ADS_1
"Ga nyangka Vin kamu punya anak manis manis kaya gini."
"Bukan karena Alvin. Karena istrinya. kalo di didik sama Alvin pasti sama bar barnya." Kata Darwin mengejek.
"Sialan kamu."
"Astaga Mas. Mulutnya ga insaf juga. Dah dibilangin jangan ngomong kasar depan anak anak, nanti ditiru."
"Maaf Yang. Kelepasan."
"Sukurin di marahin bini." Ledek Rio.
"Wah kalian. Bagus..bagus....bawa sini."
Darwin tampak bersemangat melihat Ano dan Darren membawa banyak buah buahan.
"Om om pada kemana sih. Gaada yang bantuin." Katanya sambil duduk di samping sang kakak.
"Ya maap. Kita keasikan ngobrol."
"Payah."
"Ibu Zam mau."
"Ara juga."
"Mau apa sayang? anggur?"
"Iya."
"Aya."
"Ya Om."
"Zam sama Ara nggak dikasih adik?"
"Zam sama Ara mau adik nggak sayang?" Tanya Darwin pada keduanya.
"Enggak." Jawab Alvin dengan cepat.
"Zam mau punya adik Yah."
"Kan sudah punya Ara sayang." Alvin mengelus kepala putranya kemudian menatap Rio dan Darwin dengan tajam.
"Gara gara kalian." katanya pelan.
"Tapi Ayah. Ara kan belum punya adik."
"Punya adik tidak enak sayang. Nanti Ibu sayangnya sama kalian jadi kurang."
"Mas apaan sih. Malah ngomongnya gitu."
"Emang bener kan? Semenjak kita punya anak aja kamu nggak perhatian sama aku. Berasa nggak punya istri aja." Alvin merasa Aya terlalu sibuk dengan kedua anaknya. Padahal wanita itu sudah sebaik mungkin membagi waktu antara mengurus anak anak dan suami. Namun Alvin merasa selalu tidak cukup. Ia ingin perhatian penuh dari istrinya.
"Oh jadi gitu. Yaudah cari istri baru sana. Lagian aku juga masih muda. Masih banyak yang mau. Nanti malam jangan tidur sama Aku." Kata Aya pelan agar tak di dengar boleh kedua anaknya.
"Sukurin Vin. Lagian aneh aneh aja."
"Diam." Geramnya pada Darwin dan Rio.
"Sayang jangan marah dong." Kata Alvin tak ditanggapi Aya.
"Sayang. Ayo minum susu dulu." Aya mengajak kedua anaknya untuk kembali ke villa.
"Iya Ibu."
__ADS_1
"Yang. Jangan marah lah." Alvin melangkah mengikuti istrinya.