Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
"Aduh"


__ADS_3

Aya memasuki kamar kedua anaknya. Baru beberapa langkah melewati pintu. "Brug.." Ia terjatuh karena terpeleset mainan yang berserakan. "est..." Rintihnya sambil meringis kesakitan memegangi pergelangan kaki.


"Ibu." Zam dan Ara berlari menuju ke arah ibunya.


"Ibu tidak apa?" Tanya mereka khawatir.


"Astaga Yang. Kamu kenapa?" Tanya Alvin yang baru datang dengan panik. Tak memberi kesempatan Aya untuk menjawab pertanyaan anaknya.


"Mana yang sakit Yang?"


"Pergelangan kaki. Sakit banget."


Alvin langsung menggendong Aya.


"Kita ke rumah sakit. Takutnya kenapa napa."


"Kita ikut Ayah."


"Ayo."


Zam dan Ara menunggu Aya yang tengah di periksa di luar ruangan dengan cemas. Ayahnya maupun dokter belum ada yang keluar padahal sudah beberapa jam Ibunya di dalam. Alvin keluar ruangan membantu istrinya berjalan.


"Ibu." Keduanya menghampiri Aya.


"Masih sakit Ibu?"


"Sudah lebih baik."


"Kami minta maaf Ibu. Gara gara mainan kami yang berserakan Ibu jadi jatuh." Kata keduanya sangat menyesal.


"Tidak apa. Nanti juga sembuh. Jangan sedih begitu." Aya tersenyum mengusap lembut air mata anaknya.


"Ayo pulang." Kata Alvin dingin. Ia begitu ingin memarahi Zam dan Ara jika sudah sampai rumah.


Setelah istrinya tertidur Alvin mengajak anaknya untuk duduk di ruang keluarga.


"Duduk." Perintahnya dengan nada tegas.


"Kalian tau apa kesalahan kalian?"


"Maaf Ayah. Kami janji tidak akan mengulanginya lagi." Jawab mereka sambil tertunduk.


"Kalian sudah bikin pergelangan kaki Ibu patah. Untung saja kepalanya tidak ikut terbentur. Jika iya. Akibatnya bisa fatal. Kalian tau nggak?" Alvin sedikit membentak.


Kedua anak itu tengah menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Maaf Ayah."


"Renungkan kesalahan kalian dan selama itu tetap berada di kamar. Ayah kurung kalian."

__ADS_1


"Tapi Ayah. Kita pengen temani Ibu."


"Ibu sedang istirahat. Jangan di ganggu."


"Tapi Ayah..."


"Tidak ada bantahan. Masuk ke kamar sekarang."


"Baik Ayah.."


Alvin memijit pelipisnya. Ia beranjak dari duduk untuk melihat kondisi istri tercinta.


Aya tertidur dengan tenang. Tangan kekar Alvin mengelus lembut pipi istrinya. Menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik itu ke belakang telinga. Biarkan Ia bersikap demikian kepada anak anaknya. Hal ini dilakukan untuk memberikan efek jera. Agar mereka tidak ceroboh lagi. Bibir Alvin menyatu ke bibir mungil Aya. Kemudian Ia memeluk wanita itu dan tertidur di sampingnya.


"Anak anak kemana Mas? biasanya nempel terus sama aku." tanya Aya yang sedang disuapi suaminya.


"Tidur mungkin."


"Masa sih. Kalo tidur siang juga biasa sama aku. Aneh deh."


"Udah. Di lanjut makannya."


"Mereka ga papa kan?"


"Enggak. Memangnya kenapa?"


"Aneh aja."


"Aku ke dapur dulu ya Yang. Mau ambilin kamu buah. Jangan turun. Jangan banyak gerak." Alvin memperingati istrinya.


"Iya."


Setelah kepergian Alvin Aya turun dari ranjang dengan perlahan. Ia berjalan pelan dengan tongkatnya menuju kamar anak anak.


Aya meraih gagang pintu kamar. Namun tidak bisa dibuka. Ia meraih kunci yang berada di atas meja dan membukanya.


"Ibu." Mereka mendongakkan kepala dengan mata sembab.


Aya di bantu keduanya untuk duduk di ranjang.


"Kalian kenapa?" Aya memeluk kedua anaknya.


"Kami minta maaf Ibu. Kaki Ibu sakit gara gara kami."


"Tidak sayang. Kalian ga salah. Ibu yang kurang hati hati. Siapa yang mengurung kalian di kamar?"


"Ayah Ibu. Ayah ingin kami merenungi kesalahan kami. Tidak boleh bertemu Ibu dulu. Kata Ayah Ibu butuh Istirahat."


Aya menangis memeluk kedua anaknya. Ia tak habis pikir dengan suaminya yang dengan tega mengurung kedua anaknya. Memisahkan Ibu dan Anak. Aya tak mengerti lagi dengan jalan pikiran Alvin.

__ADS_1


"Ibu jangan nangis." Kata mereka mengusap Air mata Aya.


Alvin menghentikan langkahnya ketika melihat kamar yang terkunci itu sudah terbuka. Ia sangat yakin Istrinya berada di dalam.


Pria itu memasuki kamar anak anaknya. Ia mendapati sang istri tengah menangis bersama kedua anaknya.


"Yang." Lirih Alvin memanggil istrinya.


Aya menatap suaminya dengan tajam.


"Kamu keterlaluan."


"Aku...."


"Kamu nggak perlu seperti ini Mas. Sikap kamu sudah terlalu jauh."


"Aku minta maaf."


"Kamu salah sama mereka."


"Ayah minta maaf sayang." Alvin berjongkok di depan Anak anak dan Istrinya.


"Kami juga minta maaf Ayah. Gara gara kami kaki ibu sakit." Kata mereka.


"Ayah pengen peluk." Keduanya memeluk Alvin kemudian duduk kembali bersama Ibunya.


Aya menyuapi kedua anaknya sementara Alvin merangkul bahu istrinya mesra.


"Dah habis. Kalian pinter."


"Zam. Ara. Tolong simpan piring sama gelasnya di dapur. Tapi jangan di cuci. Nanti pecah. Sekalian tolong ambilkan laptop Ayah di ruang kerja."


"Iya Ayah." Jawab mereka langsung melaksanakan perintah.


Alvin membalikkan badan istrinya dengan cepat dan mencium bibir mungil itu dalam dalam. Tangannya menelusup ke dress Aya mengelus perut rata itu dengan lembut tanpa melepaskan bibir mereka yang masih menyatu.


Alvin merebahkan tubuh istrinya perlahan ke sofa. Sambil mengecupi dada istrinya yang sedikit terbuka. Meninggalkan karya seni kemerahan di bekas kecupannya. "Aku menginginkannya." Bisik Alvin yang membuat badan Aya menegang.


Aya hanya diam tak menanggapi suaminya, membuat pria itu semakin gencar dengan kegiatan favoritnya. Ia mulai menindih Aya dan membuka kancing baju istrinya dengan tidak sabaran. "Anak anak Mas." Kata Aya pelan.


"Mereka akan lama. Aku sudah menyembunyikan laptopnya." Kata Alvin.


"Kamu licik juga."


"Kalau tidak begitu. Mana sempat. Aku pengen di puaskan sekarang."


Alvin membelai tubuh bagian atas sang istri yang setengah terbuka. Ia membuka kaosnya dan membuangnya sembarangan. Menindih lagi tubuh sang istri dan....."Aduh." kata Aya memekik karena kakinya di tindih sang suami.


Alvin langsung bangkit dari tubuh sang Istri. Ia begitu khawatir sekarang. Aya merapikan bajunya kemudian duduk. "Mana yang sakit Yang?"

__ADS_1


"Kaki aku kamu tindih. Sakit tau." Katanya sambil meringis.


"Maaf Yang aku nggak sengaja." katanya sambil berjongkok memeriksa kaki Istrinya. Alvin dengan terpaksa harus menahan hasratnya. Ia tak mau memaksa istrinya dengan kaki yang sakit seperti sekarang. Mungkin Ia akan memintanya nanti malam. Di tempat yang lebih luas daripada di sofa. Sehingga lebih leluasa. Membuat sang istri akan terjaga semalaman menikmati permainannya.


__ADS_2