
Mereka tengah sarapan bersama si ruang makan.
"Susunya dihabiskan sayang. Setelah ini kita berangkat. Bekalnya sudah Ibu siapkan di tas kalian masing masing."
"Baik Ibu."
"Biar mereka berangkat sama aku atau supir saja Yang."
"Mas. Kemarin kan kita sudah bahas ini."
"Yasudah. Kalau ada apa apa kabari aku ya."
"Iya. Lagian aku kan perginya sama pak supir juga. Jangan terlalu khawatir."
"Baiklah." Alvin melanjutkan sarapannya.
"Aku berangkat dulu Mas sama anak anak. Kamu juga berangkat gih."
"Iya." Alvin memberikan pelukan dan kecupan pada istrinya begitu pula kepada anak anak.
"Assalamualaikum."
Aya dan kedua anaknya mencium tangan Alvin sebelum memasuki mobil.
"Waalaikumsalam." Mereka segera berangkat ke tujuan masing masing.
Mobil berhenti di halaman sekolah anak anak. Aya turun dari mobil. Ia mengantarkan Zam dan Ara sampai di depan kelasnya.
"Ibu pulang dulu ya. Nanti ibu jemput."
"Iya Ibu. Assalamualaikum." mencium dan memeluk Aya.
"Waalaikumsalam."
Aya memutuskan untuk pulang setelah memastikan anak anaknya masuk kelas.
"Nyonya sudah pulang."Tanya mereka melihat kedatangan Aya di dapur.
"Sudah Bi."
"Nyonya butuh sesuatu akan kamu siapkan."
"Ah tidak. Saya hanya ingin membuat puding untuk anak anak. Saya sudah izin suami kok." Lanjut Aya ketika melihat mereka ingin bicara untuk mencegahnya.
__ADS_1
"Baik Nyonya." Mereka duduk bersama sibuk dengan kegiatan masing masing sambil mengobrol.
"Nyonya. Boleh saya tanya sesuatu?"
"Boleh Bi. Tanya saja."
"Kenapa Tuan Rio dan Darwin belum menikah juga. Mereka kan tampan dan kaya. Pasti banyak wanita yang mengejar."
"Oh itu. Mereka tidak mau menikah katanya. Padahal sudah di bujuk juga sama suami saya. Mereka tetap dalam pendiriannya. Kalo Om Rio sih ada trauma di masa lalu dengan wanita. Kalo Om Darwin punya alasan tersendiri yang tidak bisa di jelaskan."
"Oh begitu. Mereka sangat dekat ya dengan keluarga Nyonya dan Tuan. Terutama dengan Nyonya. Saya sering melihat Tuan cemburu."
"Ternyata Bibi juga memperhatikan suami saya ya." Kata Aya sambil tersenyum.
"Bukan begitu Nyonya. Saya hanya tidak sengaja melihat."
"Mereka hanya punya kami dan tidak punya siapa siapa lagi. Hubungan kita seperti keluarga. Saling membantu dan saling membutuhkan. Ya meski suami saya pasti ada rasa cemburu. Kami sudah sepakat tentang hal ini. Jika bukan kita yang membahagiakan kedua bujang tua itu siapa lagi." Kata Aya sambil terkekeh.
Mereka tertawa mendengar Aya yang menyebut Rio dan Darwin bujang tua.
"Nyonya sangat lucu. Dapat kata kata 'Bujang tua' darimana?"
"Ah itu. Saya mendengarnya dari pak supir."
"Sayang kalian masuk mobil dulu ya. Ibu mau ke kamar mandi sebentar."
"Iya Ibu."
Beberapa menit di kamar mandi. Aya telah selesai. Selepas mencuci tangannya Ia berjalan cepat ke parkiran mobil.
"Brug...." Tak sengaja Ia menabrak seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Pria itu menangkap tubuh Aya sebelum terjatuh. Aya mendongakkan tubuhnya menatap wajah oriental China itu.
"Cantik" Batin pria itu menatap wajah Aya.
"Astaghfirullah." Kata Aya cepat menegakkan tubuhnya.
"Maaf." kata Aya namun pria itu masih terdiam.
"Duìbùqǐ xiānshēng, wǒ bùshì gùyì de. Gǎnxiè nǐmen duì wǒ de bāngzhù (Maaf tuan, saya tidak sengaja. Terimakasih telah menolong saya)" Kata Aya memutuskan menggunakan bahasa Mandarin karena tidak mendapat respon.
"Méi wèntí xiǎojiě (tidak masalah Nona.)" Jawab pria itu masih terbengong.
"Duìbùqǐ xiānshēng(saya permisi Tuan)"
__ADS_1
Aya berlalu pergi sambil tersenyum manis.
"Zhēn hǎokàn. Wǒ bèi tā mí zhùle(sangat cantik. aku terpikat olehnya) gumamnya menatap kepergian Aya.
Aya dan Alvin tengah bersantai selesai makan siang.
"Makasih Ibu.Ayah." Mereka memeluk orang tuanya bergantian.
"Sama sama sayang."
"Puas mereka. Biar ikut berenang di dalam juga sekalian." Melihat kedua anaknya kegirangan. Berlari kesana kemari melihat ikan dan kura kura di aquarium berukuran 2 x 3 meter itu.
"Mereka seneng banget."
"Iya. Kamu juga seneng Yang?"
"Mereka seneng aku juga seneng."
"Ibu itu ikan apa?"Tanya Zam dan Ara menghampiri Ibunya.
"Ibu tidak tau sayang. Coba tanya Ayah."
"Ayah itu ikan apa?"
"Ayah juga tidak tau sayang. Tapi Ayah punya foto dan namanya. Kalian cocokkan dengan ikan yang ada di aquarium."
"Baik Ayah." Mereka membawa foto foto yang di berikan Alvin kemudian mendekat ke aquarium sambil mencocokkan ikan dengan yang ada di gambar agar mengetahui namanya.
"Yang." Alvin mulai meraba paha istrinya melihat ada kesempatan.
"Iya."
"Aku kan sudah berikan apa yang mereka inginkan. Dan mereka seneng banget."
"Lalu?" Tanya Aya mengangkat kedua alisnya.
"Ah masa kamu nggak ngerti apa yang aku maksud." Memeluk sang istri tetapi tangan masih asyik dengan kegiatannya. Alvin mencium dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher sang istri. Lidahnya menjilat leher jenjang itu membuat Aya kegelian.
"Aku menginginkanmu." berbisik dengan suara sexy.
Aya melepaskan pelukan suaminya. Ia menangkup wajah Alvin.
"Zhēn de ma? Nǐ zěnme duì zìjǐ de háizi zhème suànjì? Nǐ zǒng shì yǐ zhè zhǒng fāngshì yāoqiú huíbào. Tiān nǎ, duìbùqǐ. Dànshì wǒ kěyǐ yǒu yīgè xīn zhàngfū ma? Zhège tài biàntàile. (Benarkah? kenapa kamu begitu perhitungan dengan anak sendiri? Kamu selalu meminta imbalan dengan cara itu. Ya tuhan, maafkan aku. Tapi bisakah aku memiliki suami baru? Yang ini terlalu mesum.)
__ADS_1
Kata Aya berlalu pergi sambil tersenyum membuat Alvin kebingungan. Ia tidak tau sama sekali bahasa Mandarin. "Yang apa yang kamu katakan barusan? Kamu bilang aku yang jelek jelek ya?" Alvin menyusul Istrinya yang sudah melangkah cukup jauh.