Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Emang Aku Lagi Bercanda?


__ADS_3

Aya sangat sebal dengan suaminya yang sedaritadi tak berhenti menciumi wajahnya.


"Geli Mas."


"Biarin." Katanya tak mau berhenti meski sudah berkali kali mendapat peringatan dari sang istri.


"Mas. Ih kamu tuh." Katanya sambil cemberut.


"Kamu lucu kalo lagi marah gini."


"Kamu yang bikin aku marah."


"Aku pengen cium."


"Geli tau."


"Masa sih?" Tanyanya sambil mentoel toel pipi istrinya.


"Tau ah."


"Mau kemana?" Tanya Alvin melihat istrinya beranjak dari sofa.


"Mau nonton. Sama kamu aku sebel mulu."


"Ikut." Kata Alvin menyusul istrinya.


Aya tengah menonton dengan serius mengabaikan suaminya yang mengomel sedaritadi.


"Kamu denger aku nggak sih Yang?"


"Apa?"


"Ih. Daritadi kamu nggak dengerin aku?"


"Lagian kamu. Aku kan lagi nonton malah kamu cerita Mulu daritadi."


"Kamu ma gitu." Alvin merajuk seperti anak kecil.


"Bercanda. Aku denger kok."


"Apa coba?"


"Kamu mau beli tanah lagi kan? buat apa sih?"


"Mau bangun Mall."


"Ah terserah kamu Mas. Aku nggak ngerti."


"Jadi boleh beli?"


"Ya kalo kamu mau. silahkan."


"Makasih Yang."


"Hm."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Tumben pulangnya agak sorean."


"Iya Ibu. Soalnya tadi masih ada seminar."


"Ibu nanti teman kompleks mau main basket di sini."


"Iya sudah lama mereka nggak main kesini."


"Yah."


"Hm."


"Printer Ayah yang satunya taro kamar Zam ya." "Printer kamu kenapa?"


"Rusak."


"Ambil aja."


"Makasih Yah."


"Iya."


"Kalian bersih bersih gih."


"Iya Ibu." Jawab ketiganya patuh.


Aya menghampiri anak anak yang sedang istirahat selesai main basket.


"Minum dulu. Tante bawain Minum sama brownies juga."


"Wih.. Makasih Tan." kata mereka langsung minum.


"Kalau mau petik buah juga boleh. Banyak tuh."


"Iya Tan. Nanti aja. Capek banget."

__ADS_1


"Baim. Kuncinya sehat kan?"


"Sehat Tan. Tadi siang habis Baim mandiin juga."


"Kata Zam Tante alergi bulu hewan ya?"


"Iya Rel. Suka flu kalo ada bulu hewan."


"Yang." Alvin menghampiri dan duduk di dekat Istrinya.


"Mai yuk Om."


"Nggak ah. Om capek."


"Habis gym ya."


"Iya. Tau aja."


"Zam suka cerita kalo tiap hari Om nge gym."


"Biar sehat."


"Ara mana Mas?"


"Tidur. Capek ngomel ngomel daritadi gara gara temannya ilangin buku dia."


"Kok kamu tau?"


"Gimana nggak tau. Orang telfonnya keceng gitu."


"Om. Om nggak tertarik budidaya ikan patin? halaman belakang rumah Om luas lo."


"Yang.." Kata Alvin hendak meminta izin.


"Enggak. Udah cukup apa apa kamu budidaya mulai jamur tiram, buah, lobster apalagi itu. Ah sampai lupa."


"Ibu."


"Ya."


"Nanti malem Zam sama teman teman mau bakar bakar disini boleh?"


"Boleh."


"Makasih Tante. Nanti Farel bawa sosisnya."


"Nggak usah. Di rumah ada. Pokoknya kalian tinggal dateng aja semuanya udah siap."


"Beres Tan."


"Siapa aja yang datang Bu?"


"Banyak."


"Ibu Ara mau keripik boleh?"


"Boleh. Ambil yang banyak sekalian sama semua."


"Iya."


Malam hari selesai sholat isya mereka berkumpul di rumah Zam.


"Wih. Kok sudah siap semua."


"Iya. Ibu aku yang siapin. Kita tinggal bakar sosisnya aja."


"Iya."


"Makasih ya Tante. Datang datang sudah siap semua."


"Sama sama. Masak Ayam kan lama. Jadi Tante bikinin."


"Kalian makan gih. Om sama Tante ke dalam dulu."


"Iya Om."


"Masakan Tante emang enak. Nggak pernah berubah."


"Iya."


"Kamu kenapa Niel? ngelamun aja."


"Nggak papa." Jawab Daniel sambil tersenyum.


"Ara mana Zam. Tumben nggak nempel mulu sama kamu."


"Disini. kenapa emang?"Ara datang membawa dua kantong plastik besar.


"Apa ini Ra?"


"Snack. Disuruh Ibu kasih ke kalian."


"Makasih."

__ADS_1


"Iya."


"Kamu nggak makan Ra?"


"Udah tadi sama Ibu sama Ayah."


"Oh."


Aya dan Alvin tengah duduk bersantai di balkon kamar.


"Kamu daritadi makan keripik mulu."


"Enak. Mas mau?"


"Enggak. Kamu aja."


"Yaudah."


"Yang."


"Hm."


"Aku masih muda nggak?"


"Dah tua lah. Umur Mas kan udah 54 jalan mau 55."


"Iya tau nggak usah di perjelas. Maksud aku masih keliatan muda nggak?"


"Biasa aja. Kaya Om aku. Hahahah." Kata Aya sambil tertawa.


"Yang..." Rengek Alvin.


"Iya iya. Kamu masih kelihatan muda kok."


"Masa iya."


"Tau ah."


"Kamu kok gitu. Yaudah besok besok nggak aku kasih kalo kamu minta bakso atau pangsit lagi."


"Ih gitu. Yaudah jangan tidur sama aku." Ancam Aya membuat Alvin kelimpungan.


"Kok bawa bawa tidur segala."


"Yang ngancem pertama kali siapa?"


"Aku."


"Yaudah. Aku kan cuma ngeladenin kamu."


"Gitu ya. Tapi aku nggak mau tidur di kamar sebelah. Jangan gitu dong Yang." Alvin kembali lagi merengek seperti biasanya jika diancam sang istri.


"Tau ah. Aku dah marah. Kamu bawa piyama kamu. Kamu tidur di kamar sebelah."


"Yang. Kamu serius."


"Emang aku lagi bercanda?"


"Yang."


"Sana. Aku mau tidur kamu jangan ganggu. Piyama kamu di sofa tuh. Ganti dan cepat pergi."


"Yang."


"Buruan Mas. Aku ngantuk."


"Tapi Yang..."


"Mau tambah lagi? berapa hari?"


"Iya iya." Kata Alvin menurut. Ia tak mau di tambah lagi hukumannya. Aya hanya tersenyum melihat suaminya pergi. Biar Ia mengerjai Alvin seperti ini. Karena suaminya itu membuat Aya kesal sejak pagi.


"Beneran nih?" Tanya Alvin sudah di depan pintu.


"Iya kalo kamu sampai tidur di depan pintu. Wah.. untuk kedepannya jangan tidur sama aku lagi." Ancamnya.


"Iya."


Pukul 10 malam Alvin belum juga tidur. Mau menyusul istrinya takut Aya marah. Ia sangat frustasi sekarang.


Aya membuka pintu kamar dengan hati hati. Ia tersenyum melihat Alvin yang masih mendumel membelakanginya. Ia bergegas naik ke ranjang dan memeluk suaminya. Alvin membalikkan badan membalas pelukan istrinya dengan erat.


"Belum tidur Mas?"


"Kamu ngerjain aku. Aku nggak bisa tidur sampai pagi kalo kamu nggak datang."


"Maaf. Tidur gih."


"Kita pindah ke kamar kita."


"Ngapain? Tidur disini aja."


"Kita kan mau olah raga."

__ADS_1


"Jangan macam macam kamu." Alvin tak menghiraukan istrinya langsung menggendong wanita itu.


__ADS_2