Possessive Uncle : My Beloved Little Wife

Possessive Uncle : My Beloved Little Wife
Dia Istriku


__ADS_3

Aya mengangkat panggilan yang berkali kali masuk.


"Assalamualaikum Mas."


"Kamu maunya makan siang disana?"


"Yaudah aku siapin."


"Kamu minta aku antarkan?"


"Iya."


"Waalaikumsalam."


Aya bergegas menyiapkan makan siang untuk suaminya.


Sosok wanita baru saja turun dari sebuah mobil mewah tepat di depan gedung perusahaan. Ia berjalan dengan anggun dengan sesekali membalas sapaan orang orang.


"Selamat datang Nyonya. Mari saya antar ke ruangan Tuan Alvin."


"Terimakasih. Tuan Hans." Aya mengikuti pria yang menjabat sebagai resepsionis itu.


Satu lift dengan istri bos, Hans merasa sangat gugup. Ia tak berhenti menatap wajah cantik Aya. Jika bosnya tau entah hari ini masih bisa bernafas atau tidak. Ia cukup mengenal Alvin tentang bagaimana posesifnya pria itu pada sang istri.


"Silahkan Nyonya."


"Terimakasih Tuan."


"Sama sama Nyonya." Aya masuk ke ruang suaminya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Sayang." Alvin bangkit dari duduk langsung menghampiri sang istri dan memeluknya.


"Ini makannya."


"Suapi."


"Manja banget."


"Biarin."


"Yasudah. Ayo duduk dulu."


Aya menyiapkan makan dan menyuapi suaminya.


"Sudah sholat?"


"Sudah."


"Setelah ini. Kita pulang."


"Katanya mau pulang sore?"

__ADS_1


"Nggak jadi. Aku nggak mau kelamaan jauh dari kamu."


"Dasar."


Aya tengah menunggu suaminya duduk di sofa depan ruangan Alvin. "Nona Aya?" Sapa seseorang duduk di depan Aya.


"Maaf." Kata Aya karena tak mengenali laki laki itu.


"Nona lupa dengan saya. Saya Felix papanya Daniel. Teman sekolahnya Zam dan Ara."


Aya mencoba mengingat ingat. "Oh Tuan Felix. Bagaimana kabar Daniel dan Tuan?"


"Baik Nona. Bagaimana dengan Nona?"


"Baik juga."


"Sayang. Ayo pulang." Alvin menghampiri dan memeluk pinggang istrinya posesif. Ia mengingat pria itu dulu pernah dekat dengan sang istri. Ia sengaja melakukan itu agar mempertegas bahwa wanita yang diajak mengobrol adalah miliknya.


"Saya suaminya." Alvin memperkenalkan diri di sambut baik oleh Felix.


"Anda suami Nona Aya ?" Tanya Felix heran. Aya masih muda dan suaminya seumuran Alvin membuat pria itu sedikit ragu.


"Iya, tidak percaya?" Alvin membawa istrinya mendekat dan mencium serta ******* bibir istrinya cukup lama mengabaikan Aya yang meronta. Pria itu tak merasa malu sama sekali melakukan hal itu di depan semua orang yang memperhatikan keduanya. Aya mendorong suaminya. " Maaf Tuan. Saya permisi." Katanya berlalu pergi sambil menahan malu.


"Dia istriku." Kata Alvin menyusul istrinya yang sudah melangkah cukup jauh.


Alvin segera masuk ke mobil untuk mengejar istrinya yang sudah meninggalkan perusahaan. Sampai di rumah pria itu buru buru turun untuk bertemu sang istri. "Ibu mana?"


"Ke kamar." Kata Zam dan Ara merasa heran melihat tingkah kedua orang tuanya.


"Ayah sama Ibu kenapa sih?"


"Nggak papa. Ibu lagi ngambek. Ini urusan orang dewasa."


"Yasudah." Ara meninggalkan Ayahnya.


"Yang. Jangan ngambek gitu dong. Kasih aku masuk. Aku minta maaf. Aku mau mandi juga nih."


Mendengar suaminya Aya langsung mengambil pakaian Alvin.


Alvin merasa senang karena sang istri sudah mau membukakan pintu. "Yang. Aku minta maaf."


"Mandi di luar." Kata Aya menyerahkan baju suaminya dan mengunci pintunya kembali. Dengan terpaksa Alvin menuju ke kamar tamu untuk mandi. Ia akan membujuk istrinya lagi nanti. Badannya sangat lengket sekarang.


Sedaritadi Aya mendiami suaminya. Ia hanya menjawab seadanya jika Alvin bertanya. Makan malam juga Aya lebih banyak mengobrol dengan anak anaknya. Ia juga menolak untuk menyuapi Alvin. Bukannya bermaksud durhaka kepada suami. Namun Alvin membuatnya malu hari ini. Pria itu dengan entengnya mencium dengan vulgar di depan semua orang. "Kita ngerjain tugas dulu ya Ibu."


"Iya. Tidurnya jangan kemaleman ya."


"Iya. Kita ke kamar dulu." Keduanya meninggalkan Aya dan Alvin yang masih duduk di ruang makan.


"Yang. Aku minta maaf."


"Yang."

__ADS_1


"Hm."


"Aku minta maaf."


"Tau ah. Malam ini nggak usah tidur sama aku."


"Kok gitu Yang." Alvin menyusul istrinya.


"Yang. Jangan gitu dong. Aku nggak bisa tidur kalo nggak sama kamu. Iya aku salah. Aku minta maaf. Lain kali nggak lagi deh. Masa kamu tega suruh aku tidur sendiri." Alvin merengek di depan pintu kamar yang tertutup dengan rapat.


"Aku nggak mau tidur sendiri. Pokoknya aku tunggu kamu bukain pintu di sini." Alvin duduk menekuk kedua lututnya berharap hati istrinya akan luluh.


Jam 11 malam Aya masih terjaga. Suara Alvin sudah tidak mengganggunya lagi. Mungkin pria itu sudah tidur. Batin Aya. Ia beranjak dari ranjang untuk melihat keadaan Alvin. Pintu terbuka perlahan. Aya mendapati suaminya masih duduk sambil menekuk kakinya di sisi pintu sambil menenggelamkan kepalanya.


"Mas." Panggil Aya sambil duduk berlutut.


"Sayang. Kamu bukain pintu juga akhirnya." Alvin memeluk istrinya erat.


"Kan aku suruh kamu tidur di kamar sebelah."


"Aku nggak mau. Aku maunya tidur sama kamu. Aku minta maaf Yang."


"Iya dimaafkan."


"Kalo gitu aku boleh tidur sama kamu kan?"


"Hm."


"Ayo." Alvin menggandeng tangan istrinya masuk ke kamar.


"Kamu ganti baju dulu gih. Ini."


"Iya. Makasih." Alvin mencium istrinya lalu mengganti bajunya dengan piyama. Pria itu dengan tak sabar naik ke atas ranjang dan memeluk istrinya dengan erat.


"Nggak usah senyam senyum kamu. Bikin malu aja."


"Maaf."


"Aku nggak punya muka lagi kalo datang ke kantor kamu."


"Lagian kamu sih. Ngobrol sama laki laki lain."


"Dia nyapa Mas. Aku nggak jawab kan nggak enak."


"Iya deh. Eh ayo saling menghangatkan."


"Jangan aneh aneh. Aku ngantuk. Mau tidur."


"Tapi aku pengen."


"Kalo nggak nurut nggak usah tidur sama aku."


"Iya deh. Tapi aku mau tidur di dada kamu boleh kan?"

__ADS_1


Aya tidak menjawab karena benar benar ngantuk. Ia membiarkan Alvin berbuat sesukanya. Pria itu melepas kancing piyama Aya dan menenggelamkan kepalanya di dada sang istri sambil memeluk erat.


__ADS_2