
Hari pertama menjadi anggota resmi di keluarga Alvin dan Aya. Pagi pagi sekali Daniel sudah bangun. Ia sholat subuh dan menuju ke dapur untuk membantu.
"Tuan muda Daniel sudah bangun?"
"Sudah Bi. Daniel mau bantu."
"Sayang kamu sudah bangun?"
"Sudah Ibu. Ibu mau masak?"
"Iya. Ayah suka rewel kalo makan masakan orang."
"Bahannya sudah kami siapkan Nyonya. Kami akan siapkan meja makan dan bersih bersih."
"Baik Bi. Terimakasih ya."
"Iya Nyonya."
"Ibu mau masak apa?"
"Biasanya Ayah sukanya sarapan pakai pancake sama madu minumnya orange juice. Kalo Kak Zam sama Kak Ara sukanya telur mata sapi, bacon, sosis, roti panggang, baked beans, dan tomat panggang. Kalo Daniel pengen sarapan pakai apa?"
"Terserah Ibu. Daniel suka semua masakan Ibu."
"Mau sama kaya Ayah atau kak Zam?"
"Pengen sama kaya Ayah aja Ibu."
"Baiklah. Ibu bikinin pancakenya."
"Daniel bantu ya Ibu."
"Iya."
"Sayang Kamu nggak berangkat? Kakak kamu udah berangkat itu."
"Nggak Ibu. Kak Zam itu mau basket di kampus. Ara nggak ikut."
"Yang aku berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Mas. Hati hati."
"Iya." Alvin mengecup kening istrinya lalu pergi.
"Ibu. Papa kasih kabar kalo nggak ada orang di rumah. Daniel mau ambil barang Daniel ya."
"Iya. Ibu antar. Kamu mau ikut sayang?"
"Boleh Ibu. Ara pengen liat rumah Papanya Daniel."
"Ayo kalo gitu. Kamu siap siap gih."
"Iya Ibu."
__ADS_1
Mobil sudah terparkir mulus di halaman sebuah rumah yang besar bernuansa putih itu.
"Ini rumah Papa kamu Niel."
"Iya kak. Ayo masuk."
Mereka memasuki rumah. Semuanya bersikap acuh pada Daniel tapi malah ramah pada Aya.
"Selamat siang Nyonya. Ada yang bisa kami bantu?"
"Ah tidak. Saya hanya mengantar Daniel mengambil barangnya."
"Baiklah. Silahkan."
"Ayo kak. Ibu." Aya dan Ara mengikuti Daniel. Kamarnya tenyata terletak di ruang paling belakang.
"Ini kamar kamu Niel?"
"Iya kak. Sebentar ya. Daniel ambil barang Daniel dulu."
Ara heran karena kamarnya Daniel begitu kecil untuk rumah sebesar ini. Tentunya banyak kamar lain yang lebih layak untuk di tempati. Kamar Daniel sangat sempit. Tidak begitu banyak barang disana. Hanya ranjang kecil dan sebuah lemari. Tanpa meja belajar dan rak buku atau miniatur yang identik dengan anak muda. Bahkan kamar pembantu di rumah Aya saja lebih bagus dari kamar Daniel.
"Ayo Ibu. Semuanya sudah."
"Barangnya sudah semua?" Tanya Aya heran karena barang yang dibawa Daniel hanya sedikit.
"Sudah Ibu."
"Baik Ibu." Kata Daniel hanya membawa 5 kaos yang masih bagus, kemeja dan beberapa celana.
Kini Aya tengah berada di kantor suaminya untuk makan siang. Jujur Ia sangat malu karena kejadian Alvin menciumnya di depan umum waktu itu. Tapi suaminya begitu menyebalkan dengan sengaja memintanya untuk datang membawa makan siang.
"Makan sediri dong Mas."
"Suapi."
"Hish.. Manjanya nggak ilang ilang. Kamu katanya nggak mau nambah anak?"
"Aku kasian sama Daniel. Kehidupannya parah di rumah. Aku juga dengar dari tetangganya kadang Daniel kelaparan terus di kasih makan."
"La Kak Felix gimana?"
"Baru aja tadi aku ngobrol sama Dia. Katanya dia kalo liat Daniel itu sebenarnya suka sakit hati. Dia teringat sama istrinya dan selingkuhannya. Kamu tau nggak Yang. Felix sebenarnya tau semua perlakuan keluarganya sama Daniel."
"Yang luka di punggung itu?"
"Itu dia juga tau. Tapi dia diam saja. Dia teringat sama kelakuan Mama Daniel jadi tidak ada niat untuk menolong. Selain itu dia juga takut sama Mamanya."
"Kok sama Daniel baik dia?"
"Dia juga bingung. Kadang baik sama Daniel kaya anak sendiri. Tapi melihat Daniel terluka dia juga sedih di sisi lain juga tidak perduli. Ah bikin pusing dia cerita tadi. Aku yang pinter aja sulit pahamnya."
"Mas. Aku tadi nganter Daniel ambil barang di rumahnya. Kamarnya kecil banget. Masih bagus kamar Bibi di rumah. Abis itu nggak ada perabotan di dalamnya. Cuman ada lemari kecil sama ranjang."
__ADS_1
"Iya kasihan banget dia. Kamu sudah makan?"
"Belum. Aku tadi habis makan semangka sama anak anak. Kenyang banget."
"Obat sudah diminum?"
"Sudah."
"Kamu bawa mobil sendiri?"
"Iya."
"Kita pulang pakai mobil kamu."
"La mobil kamu?"
"Biar di bawa supir."
"Kenapa nggak pulang sama supir?"
"Kalo sama supir aku nggak bisa cium kamu, gandeng tangan kamu sama nyetir, terus nggak bisa juga. Elus perut kamu."
"Tau ah." Aya membereskan kotak makannya.
"Astaga. Kenapa kalian bertiga ngos ngosan begitu?"
"Di kejar Bruno nya Om Samuel Ibu." Jawab Zam sambil mengatur nafasnya.
"Duduk. Minum dulu."
"kalian baru keluar sebentar udah bau keringat aja." Alvin ikut duduk bersama.
"Di kejar Bruno Yah."
"Bruno siapa?"
"Guguknya Om Sam."
"Bukannya di kandangin?"
"Lepas. Bruno lagi di mandiin."
"Oh. Kalian juga harus mandi. Bau tau."
"Iya Yah." Jawab mereka patuh langsung melaksanakan perintah Ayahnya. Alvin merangkul istrinya Ia tersenyum karena kini waktunya bersama sang istri lebih banyak. Anak anak suka sibuk dengan kegiatannya sekarang jadi Ia lebih leluasa.
"Kamu kenapa Mas. Senyum senyum gitu?"
"Nggak. Aku bahagia aja."
"Bahagia kenapa?"
"Bahagia atas semuanya. Semua yang aku miliki aku bersyukur dan bahagia." Alvin memeluk dan mencium Aya bertubi-tubi.
__ADS_1