
"Ibu." Zam dan Ara tergesa gesa menghampiri Ayah dan Ibunya yang sedang duduk bersantai di bangku taman.
"Mau apalagi kalian. Ayah udah penuhi janji Ayah untuk ajak kalian jalan jalan kalau Ibu sudah sembuh. Sekarang waktunya Ayah sama Ibu. Karna daritadi kalian nempel mulu sama Ibu."
"Ih Ayah. Kita mau izin ke minimarket depan."
"Mau beli apa?"
"Mau beli cemilan."
"Pergi aja."
"Makasih Yah."
"Hm.."
"Kalian sudah bawa uang?"
"Sudah Ibu."
"Yasudah. Hati hati."
"Iya Ibu. Kita pergi dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Alvin menghela nafas setelah kedua anaknya pergi.
Kedua remaja tengah sibuk memilih berbagai jenis makanan. "Kita beli es krim kak."
"Jangan. Dirumah kan ada. Kita beli yang lain aja."
"Ok."
"Kita beli keripik kak."
"Iya." Kata Zam menuruti adiknya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Cepet banget kalian."
"Lama Yah. Udah hampir satu jam kita pergi."
"Masa sih."
"Iya."
"Ibu mana Yah?"
"Lagi bikin kopi buat Ayah."
"Oh."
"Ini Mas kopinya."
"Makasih Yang."
"Iya." Aya duduk di bawah bersama kedua anaknya.
"Ngapain duduk di situ sih."
"Kenapa sih Mas."
"Duduk di sini aja sama aku."
"Aku pengennya disini."
"Pindah Yang."
"Ayah kenapa sih. Orang Ibu mau duduk disini biarin."
"Yang. Pindah." Tegas Alvin.
"Enggak."
"Pindah sini nggak. Kamu dosa ngebantah suami."
"Iya iya." Aya berpindah duduk di samping suaminya.
"Gitu dong." Pria itu memeluk Aya di depan kedua anaknya tanpa malu.
"Dasar bucin."
" Ayah emang kebangetan."
"Biarin."
"Kalian belia apa?"
"Banyak. Ibu mau. Ada keripik, coklat, permen, banyak lainnya juga."
"Ibu mau yang mana?"
"Kamu baru sembuh. jangan macam macam."
__ADS_1
"Sedikit aja Mas. Aku mau keripik. Boleh ya."
"Iya deh." Kata Alvin tak tega.
"Makasih."
"Cium dulu."
"Jangan banyak tingkah." Kata Aya.
"Ini enak Bu. kita sering beli. Ibu coba deh." Zam menyuapi Ibunya.
"Enak kan?"
"Iya."
"Ibu mau apalagi? coklat mau?"
"Boleh boleh." Ara bergantian menyuapi Ibunya.
"Ayah."
"Hm."
"Ayah sudah pernah haji kan?"
"Sudah sama Ibu. Kenapa? kalian pengen? Bukannya Ayah sama Ibu dulu ajak kalian ga mau. Kalian maunya umrah."
"Iya. Kalau Ayah haji pasti wawasannya luas tentang agama. Iya kan?"
"Nggak juga."
"Kok begitu. Prasaan tiap hari Sabtu Ayah ngaji. Dapat apa?"
"Dapat Ilmu dong."
"Ya Ilmunya apa?"
"Cara menyenangkan istri, cara jadi suami yang baik. Kenapa memang?"
"Masa itu saja."
"Iya." Jawab Alvin malas.
"Kalo Ibu ngajinya tentang apa?"
"Kalian kan juga ikut. Nggak mungkin nggak tau."
"Kok Ayah beda sama kita?"
"Tanya Ayahmu jangan tanya Ibu. Ibu nggak tau."
"Astaga kalian ini cerewet sekali. Ayah pusing tau dengerin ocehan kalian."
"Ayah ma gitu."
"Sudah. Jangan cemberut begitu."
"Ibu mau kemana?"
"Ibu mau mandi dulu. Gerah." Kata Aya beranjak pergi.
"Ayah tunggu." Katanya sebelum Alvin pergi mengikuti istrinya.
"Ada apa?"
"Yah. Ibu ada rencana pergi ke Jogja."
"Terus?"
"Ibu perginya ke sana sendiri. Tanpa aku, tanpa Ara, tanpa Ayah juga."
"Iya Yah. Ibu pergi kesana sendiri. Mau kunjungi teman nenek buyut."
"Kenapa nggak sama Ayah?"
"Ih. Ayah gimana. Kan tempo hari Ibu udah bilang kalo mau pergi sendiri aja. Dan Ayah kasih izin karena Ayah waktu itu mau minta maaf ke Ibu. Masa Ayah lupa?"
"Oh iya juga. Ayah Lupa."
"Gini Yah. Kayanya Ibu lupa. Soalnya mbak Ani daritadi telpon Ibu mulu. Dia juga chat Ibu ngingetin kalo besok berangkat. Ara gamau Ibu pergi Yah. Nanti Ara Kangen."
"Kita sembunyikan Hp Ibu."
"Ide bagus."
"Kalo Ibu marah gimana?"
"Emang Ibu pernah marah?"
"Nggak juga sih. Cuman ngambek aja."
"Yaudah. Kalian sembunyikan."
"Ok Yah." Kata Zam membawa Hp Ibunya ke kamar.
__ADS_1
"Mas. Hp aku mana ya. Prasaan tadi disini?"
"Nggak tau Yang."
"Aku lupa sesuatu. Kayanya besok ada acara deh. Aku pasang pengingat."
"Zam, Ara. Kalian lihat Hp Ibu ngga?"
"Nggak Bu. Kita nggak tau."
"Coba di telpon. Takutnya keselip dimana."
"Sebentar Bu."
"Nggak bisa Bu. Kayanya Hp Ibu lagi mati deh."
"Kalian tau nggak besok Ibu ada acara apa?"
"Nggak tau Bu."
"Udah. Hilang juga gapapa. Nanti aku beliin yang baru."
"Bukan masalah Hp nya Mas. Takutnya nanti aku ada janji sama orang kelupaan."
"Namanya lupa. Maklum lah Ibu."
"Tunggu dulu. Ada yang ga beres." Kata Aya menelisik ekspresi kedua anak dan suaminya.
"Kalian nggak ada sangkut pautnya sama HP Ibu kan?"
"Enggak Ibu." Jawab mereka gugup.
"Mas."
"Nggak Yang."
Aya berdiri sambil bersedekap dada.
"Kalian tau kan kalau bohong itu dosa."
"Tau." Jawab mereka bersamaan.
"Kalau tidak ada yang mau ngaku. Ayah nggak boleh tidur sama Ibu."
"Kok gitu Yang?" protes Alvin.
"Kalau tidak adan yang mau mengaku juga Ibu nggak mau lagi jalan jalan sama Zam dan Ara."
"Ibu. Jangan begitu."
"Ibu hitung sampai sepuluh ya. 1.....2.......3......4.....5.......6...."
"Kita yang sembunyikan. Jawab ketiganya kompak."
"Bagus. Dimana HP Ibu?"
"Ada sama Zam."
"Sekarang kembalikan Nak."
"Tapi Ibu harus janji nggak akan kemana mana."
"Mana boleh begitu. Kalau Ibu ada rencana ya Ibu harus lakukan dong."
"Yaudah. Zam nggak bakal balikin HPnya Ibu."
"Zam jangan begitu dong. Balikin Hp Ibu ya..."
"Nggak."
"Zam jangan kaya anak kecil dong. Kalau Zam nggak mau balikin HP Ibu. Coba Zam periksa aja Ibu besok ada acara apa?"
"Ibu besok mau ke Jogja. Ke rumah teman nenek buyut." Ara langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
"Ara." Kata Alvin dan Zam.
"Oh Iya. Sampai lupa. Belum beres beres lagi."
"Kamu jangan pergi Yang."
"Iya. Ibu jangan pergi."
"Mas kan sudah janji waktu itu."
"Iya. Tapikan..."
"Sudah. Aku mau beres beres dulu." Kata Aya berlalu pergi.
"Kamu jangan pergi ya..." Alvin memeluk istrinya yang sedang sibuk membereskan baju.
"Ibu jangan pergi." Zam dan Ara ikut memeluk Ibunya.
"Ibu harus pergi. Kalian yang akur di rumah."
"Nanti kita kangen."
__ADS_1
"Kan bisa telfon atau video call."
"Sudah jangan sedih begitu." Aya memeluk mereka dengan hangat.