
Aya dan Alvin turun dari mobil menggendong kedua anak mereka. Keluarga besar begitu antusias menyambutnya.
"Cium tangan dulu sayang." Kata Aya dan langsung di turuti oleh keduanya.
"Pinternya." Kakek mengusap lembut kepala buyutnya.
"Kenapa rewel sayang? Ara mau sesuatu?" Tanya Mommy pada cucu perempuannya yang terlihat merengek.
"Pengen ikut ibunya. Ibunya kan udah gendong Azzam." Jawab Alvin menjelaskan.
"Sama Oma aja yuk." Gadis kecil berumur dua setengah tahun itu menggeleng sambil menghapus air matanya.
"Gimana kalo sama Opa?" Tanya Daddy.
"Mau sama Ibu." Rengeknya lagi membuat Aya segera menghampiri.
"Ayo ayo Ibu gendong. Azzam sama Ayah dulu ya."
"Enggak mau." Jawabnya mengeratkan pelukan pada leher Aya.
"Yaudah dua duanya sini."
"Jangan ah. Kamu kecapean nanti." Kata Alvin pada Istrinya karena takut akan kelelahan. Pasalnya sedari rumah tadi Aya terus menggendong kedua anaknya bergantian.
"Iya nanti kamu lelah Sayang. Kita masuk aja."
Ajak Nenek kasihan pada Aya yang kesulitan mengatasi kedua anaknya.
Semua berkumpul di ruang keluarga. Sepasang anak kembar itu duduk tenang di pangkuan sang ibu.
"Mereka lengket banget sama Ibunya. Ikut kita aja nggak mau. Padahal hampir tiap hari ketemu lo."
"Tau tuh. Sama Ayahnya juga jarang jarang mau."
"Masa sih Vin?"
"Iya. Nempel terus sama Ibunya. Tidur juga mau ikut sama Ibunya."
"Kamu cemburu ceritanya?" Ledek Nenek.
"Ya jelas." Jawab nya tanpa rasa malu.
"Wah Ara sama Azzam dah datang." kata Darren dan Ano langsung memeluk kedua bocah itu.
"Ih...Gamau." Keduanya memberontak melepaskan pelukan.
"Jangan di goda. Nanti nangis." Kata Daddy memperingati kedua anaknya.
"Maaf maaf."
"Kalian darimana?"
"Kita dari swalayan depan. Katanya kakak mau kesini. Makannya kita beli bahan buat bikin puding."
"Kalian mau puding?"
"Iya. Ayok bikin kak."
"Suruh Mommy kalian aja atau bibi di dapur yang bikin. Jangan istri Om."
"Iya. Biar Mommy aja sayang."
"Kenapa sih Mas. Gapapa kok Mom. Ayok Kakak bikinin."
"Ibu mau kemana?" Tanya Azzam memegangi dress ibunya.
"Sebentar ya Sayang. Ibu mau ke dapur dulu. Kalian sama Ayah dulu."
__ADS_1
"Mau ikut."
"Jangan. Ibu cuman sebentar kok."
"Mau ikut."
"Ayo ayo. Tapi jalan sendiri ya."
"Iya."
Aya menggandeng tangan kedua anaknya.
"Aku ikut Yang." Alvin menyusul istrinya.
"Pasti Aya kerepotan ya?" Tanya Kakek setelah kepergian mereka.
"Iya lah."
"Kan dari dulu aku dah bilang. Pakai baby sitter aja."
"Ibu ini gimana. Orang sama Ayahnya aja kadang ga mau. Apalagi sama orang lain."
"Iya juga ya."
Kata Nenek membayangkan betapa repot Aya mengurus si kembar yang tak ingin lepas darinya. Kedua anak itu kelewat manja pada sang Ibu.
Aya mendudukkan Anak anaknya di sofa. Ia memasak bersama kedua adik dan suaminya.
"Hati hati Yang. Itu panas tau." Kata Alvin melihat Istrinya sibuk mengaduk adonan puding.
"Iya Mas."
"Ini di potong begini kak?" Tanya Ano memperlihatkan hasil potongan buahnya.
"Iya. Darren tolong ambilin cetakan di lemari."
Aya menata buah dalam cetakan dan menuangkan adonan pudingnya kemudian di masukkan ke freezer.
"Tinggal tunggu dingin aja." Katanya mengajak kedua remaja itu duduk bersama si kembar.
Ano duduk dan memangku Azzam.
"Tumben mau." katanya melihat bocah itu duduk tenang di pangkuannya.
Beberapa saat kemudian Azzam bergerak mendekati ibunya dan duduk di pangkuan Aya berdampingan dengan adiknya.
"Baru aja dibilang." Kata Darren.
"Uh kasian di cuekin." Kata Alvin meledek.
"Biarin."
"Ibu. Zam mau cokies." Rengek bocah tampan itu.
"Iya. Ibu ambilkan. Masih ketinggalan di mobil."
"Biar aku yang ambil Yang."
"Yaudah."
Aya mengajak anak anaknya berkumpul dengan yang lain.
"Dah selesai sayang?"
"Sudah Mom."
"Ini Yang." Kata Alvin memberikan kotak makanan dan paper bag kepada istrinya.
__ADS_1
Aya langsung membuka dan memberikan kepada kedua anaknya.
"Ini aku juga bawa banyak." Aya memberikan paper bag berisi cokies yang sudah di siapkan nya dari rumah. Mereka langsung mencobanya.
"Enak." Kata Nenek.
"Beli darimana kak?"
"Bikin sendiri."
"Seriusan sayang? Suami kamu dah kasih izin kamu masak?"
"Iya Mom. Masak juga sama dia. Kalo enggak mana boleh."
"Ya nggak boleh dong. Bahaya tau." Kata Alvin membela diri.
Selesai makan siang mereka menyantap puding yang di buat Aya. Ibu muda itu sangat telaten menyuapi kedua anaknya.
"Enak kak. Lain kali buat lagi."
"Enggak."
"Kenapa sih Om."
"Bisa bisanya kalian suruh suruh istri Om."
"Biarin kalau kak Aya mau. Kakak mau kan kak?"
"Iya." Kata Aya tanpa mengalihkan perhatiannya dari si kembar.
Darren dan Ano pun tersenyum menang.
"Kalian nginep kan?"
"Enggak kayanya." jawab Alvin cepat.
"Yah kenapa? Udah lama kalian nggak nginep lo."
"Lain kali aja. Baru juga Minggu lalu kita nginep."
"Kamu diem kenapa Vin. Dari tadi kamu mulu yang jawab. Kasih Aya kesempatan buat jawab dong. Gimana sayang? Kamu mau kan nginep di sini?"
"Aku nggak bawa baju gantinya anak anak Mom."
"Tenang aja. Mommy udah beli. Pas buat mereka."
"Tapi aku nggak bawa baju." Kata Alvin berusaha mencari alasan agar tidak menginap disana.
"Kan baju lama kamu masih ada Vin."
"Oh aku lupa. Mau ada janji ketemu di rumah sama Rio."
"Jangan cari alasan mulu kamu. Kalo mau pulang, pulang aja. Aya sama cucu cucuku harus tetap di sini." Kata Mommy.
"Ya kalo suami pulang istri harus pulang dong."
"Ya enggak gitu. Kamu kan dah tiap hari kumpul sama istri sama anak kamu. kita kan enggak."
"Kakak jangan ngada ada. Kakak kan juga hampir tiap hari ketemu. Sering nginep di rumah juga."
"Tapikan nggak tiap hari."
"Sama aja kak."
"Ya enggak lah."
"Kalian apaan sih. Ribut mulu. Nanti kalau di tiru cucu cucu aku gimana." Kata Daddy melerai dua orang itu.
__ADS_1
"Maafin Oma sayang." Mommy memeluk kedua cucunya.